Kamis 31 Januari 2019, 07:20 WIB

Andrew Tanner Setiawan Inovasi Iklan Gaya Baru

RIZKY NOOR ALAM | Indonesia 2018
Andrew Tanner Setiawan Inovasi Iklan Gaya Baru

MI/ADAM DWI

ANDA tentu familier dengan iklan berupa papan billboard atau LED televisi yang menjulang tinggi di pinggir jalan, atau iklan di televisi maupun koran. Bagaimana dengan iklan di belakang motor? Apakah Anda pernah melihatnya?

Ya, iklan berjalan yang dipasang di belakang kendaraan roda dua ini merupakan produk dari start-up Indonesia bernama Karta. Perusahaan rintisan yang memasuki tahun ketiga ini dimotori Andrew Setiawan, Jeff Hendrata, dan Tjokro Wimantara. Mereka membangun bisnis 'iklan berjalan' ini guna membantu masyarakat yang membutuhkan untuk menaikkan taraf hidupnya. "Karta adalah perusahaan start-up adver tising fokusnya, tapi kita ingin bantu masyarakat juga. Jadi, saat bangun perusahaan ini kita memikirkan bagaimana meningkatan daya hidup masyarakat

Indonesia dan spesifi knya di kota karena kami merasa kehidupan di kota-kota ini lebih susah dan yang mau kita bantu adalah para pengendara motor," jelas CEO Karta, Andrew Setiawan, saat ditemui Media

Indonesia di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (12/1).

Awalnya, kata Andrew, mereka ingin membuat sekolah yang fokus pada periklanan di motor. Mereka pun mulai menekuninya, termasuk membuat aneka prototipe papan boks yang bisa dipasang di belakang motor yang aman dan tidak membahayakan bagi pengendaranya.

Termasuk membangun sistem operasional yang akan mereka gunakan.

"Kami 2017 baru mulai jualan, tapi dari 2016 kami sudah melakukan prototyping dan bangun sistemnya. Papan-papan ini kan nanti di jalanan, jadi jangan sampai jatuh dan membahayakan kendaraan yang lain, bahkan kita sampai make sure papannya tertabrak mobil saja gak apaapa,"

imbuhnya.

Akan tetapi, siapa saja yang bisa menjadi pengendara iklan bergerak ini? Andrew mengaku tidak membatasi siapa saja yang bisa bergabung dengan Karta. Jadi bila Anda karyawan, mahasiswa, atau ibu rumah tangga, bisa bergabung walaupun 50% mitra pengendaranya ialah pengemudi ojek daring. Meski begitu, Karta tidak ada kerja sama dengan perusahaan ojek daring itu, mereka hanya berbagai informasi saja.

"Dengan advertising ini para tukang ojek selain tetap bisa ngojek, iklannya juga tetap jalan tanpa harus berhenti, dan penghasilan pun bertambah," katanya.

Meskipun Karta membebaskan siapa yang bisa bergabung, ada sejumlah prasyarat yang harus dipenuhi, misalkan, usia motor yang digunakan tidak lebih dari 5 tahun, surat-surat kendaraan yang lengkap, dan pengendara harus senang jalan. Pasalnya, GPS pengendara akan dilacak dengan radius 500-1.000 km guna mengetahui ke mana saja iklannya beredar.

Penghasilan Jadi, bagaimana pembagian pendapatan? Pembagian pendapatannya cukup merata dengan metode sharing profit. Sepertiga pendapatan diberikan kepada pengendara, sepertiga untuk agency, dan

sisanya untuk Karta.

Biaya diberikan kepada pengiklan cukup bervariasi. Dengan nilai terendah Rp2 juta per motor per bulan, tetapi rata-rata kontrak iklan 3 bulan.

Sejumlah fasilitas bisa didapatkan bagi pengiklan. Pengiklan yang kebanyakan berasal dari agency ini memang iklan sesuai dengan kebutuhan mereka. Misalkan, jangka waktu yang berbeda, rute iklan,serta layanan lain, seperti pengendara diminta sekalian menyebar brosur, menjadi

salesman, bahkan melakukan konvoi beberapa motor agar lebih menarik perhatian masyarakat.

"Kita ada GPS tracking yang bisa melacak motor-motornya ke mana saja. Tergantung permintaan dari klien, jadi kita bisa minta motor-motor ini bergeraknya ke mana, tapi kadang klien membebaskan tersebar ke mana saja di Jakarta asalkan tercapai target 1.000 km-2.000 km misalnya,"

ujarnya.

"Tapi, kalau mau minta rute-rutenya itu bisa. Kita punya sistem yang bisa memberitahu mau ke mana dan ada bonus nantinya jika pengendara bergerak ke rute yang diminta, atau ngetem, kumpul beberapa motor bareng, sebar brosur menjadi salesman juga bisa atau konvoi agar lebih eye catching," imbuh Andrew.

Namun, persentase klien yang meminta rute tertentu sangat kecil. Tahun ini pun Karta tengah mempersiapkan sistem ope rasi yang bisa membantu pengendara mengambil rute sesuai dengan permintaan klien.

Bukan semata melepas para pengendara dengan papan iklan di bagian belakang tanpa perbekalan informasi. Para pengemudi diberikan briefing singkat mengenai produk yang terpasang pada iklan motornya. Penjelasan itu guna meng antisipasi jika ada orang yang bertanya- tanya seputar iklan yang terpasang dan si pengendara bisa menjelaskannya dengan baik.

Kini karta sudah beroperasi di 30 kota di Pulau Jawa, Sumatra, Bali, Sulawesi, dan Kalimantan. Dengan jumlah 10 ribu pengendara aktif, sedangkan yang siap edar mencapai 100 ribu pengendara.

Jumlah klien mereka sendiri pun mencapai 120 dari berbagai bidang, seperti e-commerce, perbankan, hiburan, FMCG, telekomunkasi, hingga otomotif.

Paten Andrew mengkalim saat ini perusahaannya menjadi satu-satunya perusahaan periklanan motor di dunia. Mengacu alasan itu, mereka bertiga pun memutuskan untuk mematenkan ide mereka pada 2017.

Sistem kerja start-up ini pun sederhana. Teknologi yang diterapkan selain pelacakan GPS memanfaatkan teknologi semiartifi cial intelligence (AI) untuk menangkal manipulasi dari pengendara. Semuanya dibuat sederhana dan mudah digunakan pengendara melalui aplikasi yang dapat

diunduh.

Meskipun Andrew dkk mulai menikmati hasil manis dari perusahaan

start-up yang mereka bangun, nyatanya mereka masih menghadapi banyak tantangan yang datang dari si pengendara maupun klien.

"Waktu kita pertama kali mulai orang khawatir apa sih yang mau dipasang, tapi dengan seiring berjalannya sosialisasi dan ada yang mulai pasang. Malah sekarang yang punya motor cari kita untuk pasang kalau dulu kita cari motor yang mau dipasang," ujarnya.

"Kalau tantangan dari klien sendiri awalnya susah, bahkan kita tawari pasang gratis juga susah. Karena produk-produk dan brand mereka ini diibaratkan bayi kalau diberikan ke orang lain takut rusak atau reputasinya turun. Kalau sekarang kita bilang Karta mereka tahu," jelas

Andrew. Ke depannya Karta akan terus melakukan inovasi baik dari segi kenyamanan pengendara maupun meningkatkan efektivitas iklan yang dipasang klien. "Kalau targetnya sendiri, ya, sebanyak mungkin yang punya motor bergabung.

Inovasi lainnya yang sedang dilakukan saat ini lebih ke pengembangan ruterute yang lebih spesifi k, misalnya, dari sisi domisili ataupun jalan-jalan yang diinginkan," tandasnya.

Andrew pun mengaku feedback dari klien nya selama ini positif. Pasalnya, produk yang ditawarkan perusahaan rintisannya lebih murah jika dibandingkan dengan iklan di billboard. Di samping itu, iklan di motor akan terus bergerak hingga cakupan demografi nya lebih luas. (M-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More