Minggu 27 Januari 2019, 08:30 WIB

Kendaraan Lapis Baja Haggluds Dikerahkan Cari Korban Longsor

MI | Nusantara
Kendaraan Lapis Baja Haggluds Dikerahkan Cari Korban Longsor

ANTARA FOTO/Abriawan Abhe

 

PROSES pembersihan longsor dan lumpur di kabupaten-kabupaten terdampak banjir di Sulawesi Selatan terus dibersihkan setelah banjir mulai surut sejak kemarin.

Hingga kemarin jumlah korban jiwa akibat longsor dan banjir di 10 kabupaten itu mencapai 59 orang. Terbanyak di Kabupaten Gowa dan Jeneponto.

Pada masa tanggap darurat dan menjelang kedatangan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan PMI, didatangkan kendaraan lapis baja Hagglunds ke lokasi longsor di Kecamatan Manuju, Kabupaten Gowa. Hingga hari kelima bencana, 33 orang dinyatakan meninggal dan 15 orang dinyatakan hilang.

Yadi Jentak, staf pribadi Ketua Umum PMI, Jusuf Kalla, mengatakan Hagglunds akan membantu proses pencarian korban di lokasi longsor yang sulit ditembus kendaraan biasa.

Hagglunds juga dimanfaatkan untuk proses pengantaran bantuan logistik ke lokasi terisolasi. “Itu perintah Ketua Umum PMI untuk diterjunkan ke lokasi longsor Gowa agar proses pencarian korban cepat tuntas,” kata Yadi, kemarin.

Masih terkait bencana, ruas jalan menuju lokasi wisata Pantai Warna, Kelurahan Oesapa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, nyaris putus karena diterjang gelombang. Lebih dari setengah badan jalan sepanjang 30 meter menuju Pantai Warna hanyut terbawa gelombang laut. Akibatnya arus lalu lintas tersendat.

“Badan jalan tergerus air laut karena tidak ada dinding penahan gelombang. Kalau mau bangun jalannya, dahulukan pembangunan tembok penahan gelombang sekitar 300 meter,” kata Ketua Komisi V DPR Fary Djemy Francis saat berada di lokasi.

Dari Kabupaten Manggarai Barat, satu-satunya jalan yang menghubungkan Kecamatan Welak Kuwus, Macang Pacar, dan ibu Kota Labuanbajo putus total. Petani tidak bisa mengirim kopi dan cengkeh ke daerah lain. Terputusnya jalan disebabkan hujan lebat yang terjadi selama sepekan ini. Camat Kecamatan Welak Kuwus, Frans Male, mengatakan jalan terbelah dengan kedalaman sekitar 7 meter dan lebar 3 meter.

“Itu karena tanah digerus hujan dan angin sejak sepekan ini. Jembatan penghubung terputus. Jalan terbelah dan kendaraan tidak bisa melintas, baik roda dua maupun roda empat,” kata Frans Male.

Rawan longsor juga terjadi di jalan lintas Sumatra Tarun­tung, Kabupaten Tapanuli Utara, menuju Sibolga, Kabupaten Tapanuli Tengah. Penyebabnya banyak penambangan batu di tebing-tebing. Saat musim hujan tiba, daerah penambangan batu rawan longsor.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah ­Kabupaten Tapanuli Utara, Bonggas Pasaribu, berharap para penambang batu agar beralih pekerjaan. “Masyarakat harus sadar bahaya bencana,” kata Bonggas. (LN/PO/JL/JH/N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More