Rabu 23 Januari 2019, 17:46 WIB

Eksploitasi KBU, Bencana Alam Intai Bandung Raya

Depi Gunawan | Nusantara
Eksploitasi KBU, Bencana Alam Intai Bandung Raya

MI/DEPI GUNAWAN

 

BENCANA ekologis yakni potensi banjir dan longsor kembali mengancam wilayah Bandung Raya di musim hujan kali ini. Hal ini tidak terlepas dari maraknya alih fungsi lahan daerah resapan air di kawasan Bandung Utara (KBU).

Eksploitasi pembangunan di KBU yang meliputi empat daerah yakni Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat dan Kota Bandung kian parah. Lahan konservasi diubah menjadi kawasan perumahan, pariwisata dan lainnya.

Komandan Sektor 22 Citarum Harum Kolonel Asep Rahman meminta pimpinan daerah yang wilayahnya masuk dalam KBU agar tidak terlalu mudah memberikan perizinan pembangunan, kecuali lahan itu digunakan untuk ekosistem.

"Kalau lahan itu habis karena tutupan pembangunan, disemen di mana-mana, maka akan berdampak pada serapan air. Pohon tidak ada di sana, maka air tidak disimpan karena tak terserap," kata Asep, Rabu (23/1).

Menurutnya, yang lebih mengkhawatirkan tidak hanya air saja, namun juga disertai lumpur yang terbawa ke hilir, sungai bakal mengalami sedimentasi dan dangkal. Karena sungai tidak bisa menampung debit air, menyebabkan air meluber ke jalan raya dan menimbulkan banjir besar.

"Hujan hari ini, hari ini juga langsung habis dan membawa lumpur ke hilir," tuturnya.

Baca juga: Curah Hujan Meningkat, Waspadai Potensi Bencana Hidrometeorologi

Oleh karena itu, dia berharap para pemangku kebijakan bisa mengembalikan lagi fungsi KBU dengan banyak menanam pohon yang memiliki fungsi ekologi baik.

"Walaupun tidak 100%, upaya ini minimal bisa mengeliminir pembangunan di KBU dan ancaman bencana besar di wilayah Bandung bisa dicegah," ungkapnya.

Sejauh ini, upaya pelestarian lingkungan di KBU sudah dilakukan dengan penanaman sebanyak 4000 bibit pohon yang tersebar di tiga kecamatan yakni Rancasari, Cimenyan dan Lembang.

Asep menerangkan, pihaknya menerima pinjaman lahan dari warga seluas 5 hektare yang digunakan sebagai tempat pembibitan pohon selama 7 tahun.

"Sekarang, kami baru mengelola 2 hektare tempat pembibitan. Sudah ada 15.600 bibit pohon yang siap tanam, semuanya bibit pohon keras khas Jabar. Secara keseluruhan, kita sudah taman sebanyak 292 ribu bibit pohon," pungkasnya.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More