Momentum Lawan Maduro, Masyarakat Venezuela Turun Ke Jalan

Penulis: Tesa Oktiana Surbakti Pada: Rabu, 23 Jan 2019, 12:24 WIB Internasional
Momentum Lawan Maduro, Masyarakat Venezuela Turun Ke Jalan

AFP

MASYARAKAT Venezuela akan turun ke jalan seiring harapan oposisi untuk memanfaatkan momentum perlawanan. Presiden Venezuela Nicolas Maduro didesak untuk bertanggung jawab atas keruntuhan ekonomi dan erosi demokrasi.

Serentetan protes di Caracas pada Senin kemarin yang turut dipicu pemberontakan singkat militer, menyebarkan harapan bahwa pemimpin baru Kongres Venezuela, Juan Gauido, dapat menyatukan oposisi. Harapan juga mengarah pada penggulingan Maduro, yang kembali memimpin Venezuela dengan tudingan pemilihannya tidak sah.

Baca juga: Tiongkok dan Eropa Jadi Perhatian Forum Ekonomi Dunia

Guaido menegaskan dirinya bersedia menggantikan Maduro sebagai presiden sementara. Apalagi terdapat dukungan militer untuk mengadakan pemilihan umum (pemilu) yang bebas. Kongres Venezuela yang dikendalikan oposisi, menjadi benteng demokrasi terakhir yang tersisa di Venezuela. Maduro dituding sebagai perampas kekuasaan. Aksi Guaido mendapat dukungan penuh dari Amerika Serikat (AS).

Unjuk rasa akan diikuti ratusan ribu orang, sekaligus memperkuat dukungan rakyat di belakang Guaido. Sejumlah pendukung meminta Guaido mendeklarasikan dirinya sebagai presiden yang sah. Oposisi Venezuela sebagian besar tidak memiliki pemimpin sejak mentor Guaido, Leopoldo Lopez, ditangkap pada 2014 lantaran menggulirkan protes massal.

Guaido, pria berusia 35 tahun, telah meminta militer untuk mengingkari Maduro. Dia menjanjikan amnesti di masa mendatang untuk mereka yang membantu mengembalikan demokrasi.

"Kami tidak meminta Anda melakukan kudeta, kami tidak meminta Anda untuk menembak. Kami meminta Anda jangan menembaki kami," ucap Guaido kepada anggota militer.

Dalam wawancara dengan Reuters pada Selasa waktu setempat, Guaido mengatakan apabila menjadi presiden, dirinya bermaksud memberikan perlindungan hukum kepada militer dan pejabat yang membelot. Kendati demikian, dia mengakui akan ada peradilan bagi mereka yang melakukan perbuatan buruk.

"Kegelisahan itu sesuatu yang wajar. Kami menghabiskan waktu 20 tahun menderita banyak serangan. Mereka membunuh para pemimpin politik, memenjarakan orang lain. Saya bahkan pernah ditahan selama beberapa jam. Mereka mengaku telah membunuh teman-teman saya," tutur Guaido.

"Saya tidak bermaksud menyembuhkan luka 20 tahun, dan tidak bermaksud menyembunyikannya. Saya ingin menghargai luka yang ada di sana," imbuhnya.

Partai Sosialis yang berkuasa mengakan gerakan saingan pada Rabu ini. Para pejabat pemerintahan mengancam Guaido akan dipenjara. Mahkamah Agung pro pemerintah, yang membatalkan kekuasaan Kongres Venezuela pada 2017, memutuskan tidak mengakui Guaido sebagai pemimpinnya. Berikut, meminta kejaksaan negara bagian untuk menentukan kejahatan yang dilakukan Guaido.

Maduro yang dilantik kembali pada 10 Januari lalu setelah pemilu 2018, dianggap memperoleh kemenangan palsu. Kepemimpinannya selama ini telah menjerumuskan Venezuela dalam krisis ekonomi terburuk sepanjang sejarah. Tingkat inflasi pada tahun ini diperkirakan mencapai 10 juta persen.

Baca juga: Mabuk, Pria Rusia Berusaha Bajak Pesawat

Pemerintahan Maduro memenjarakan puluhan aktivis dan pemimpin oposisi, karena berusaha menggulingkannya melalui aksi protes pada 2014 dan 2017.

Unjuk rasa pada 2017 menewaskan 125 orang dalam bentrokan dengan polisi. Wakil Presiden AS Mike Pence mengeluarkan pesan dukungan kepada rakyat Venezuela. Dia menyebut Maduro sebagai diktator tanpa klaim yang sah atas kekuasaan. (Channelnewsasia/OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More