Rabu 23 Januari 2019, 02:30 WIB

Usaha Makanan dan Minuman Keluhkan Gula Lokal

Andhika Prasetyo | Ekonomi
Usaha Makanan dan Minuman Keluhkan Gula Lokal

Ist

 

PENGGUNAAN gula kristal rafinasi (GKR) impor untuk ­industri makanan dan minuman (mamin) masih sulit digantikan gula lokal. Adanya bakteri pada gula produksi petani dalam negeri, ketersediaan pasokan yang tidak pasti, serta harga lebih mahal membuat pengusaha makanan-minuman termasuk perajin dodol lebih melirik GKR sebagai bahan baku produksi.

Ketua Asosiasi Industri Kecil dan Menengah (IKM) Agro Suyono menjelaskan gula mentah yang diolah menjadi gula rafinasi tidak lagi mengandung molasis yakni sampah mikro, bakteri, dan kuman yang kerap menempel di gula. Dengan hilangnya molasis, produk makanan mampu bertahan lebih lama.

Menurut dia, dodol yang menggunakan gula lokal, saat diekspor ke Timur Tengah, cepat berjamur dan kedaluwarsa karena molasis. “Kita biasa eskpor dodol itu ke Abu Dhabi. Kalau pakai gula lokal, sampai di sana pasti jamuran. Jadi, memang gula lokal tidak cocok untuk dodol,” ujar Suyono yang juga pengusaha dodol Garut, Selasa (22/1).

Sebaliknya jika menggunakan gula rafinasi, dodol bisa bertahan sangat lama bahkan hingga setahun.

Alasan kedua pelaku IKM lebih memilih GKR ialah karena ketersediaan yang pasti. “Dari Januari sampai Desember stoknya dijamin ada. Jika menggunakan gula lokal, mesti menunggu musim panen. Itu pun pasokannya tidak selalu tersedia,” ujarnya.
Pengusaha juga mengeluhkan soal harga. Harga gula lokal bisa lebih mahal hingga Rp2.000 per kilogram (kg) ketimbang gula rafinasi.

Tiga poin itu, sambung Suyono, menunjukkan gula rafinasi tak hanya dibutuhkan pabrik-pabrik besar. Para pebisnis IKM pun menjadi pihak yang menggantungkan keberlangsungan usaha pada komoditas itu.

Meski begitu, ia tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti pengusaha dodol dan makanan-minuman lainnya akan berpa­ling ke gula hasil tebu lokal. “Kami tidak anti produk dalam negeri. Pengusaha siap membeli gula dalam negeri asalkan kualitas dan harganya sudah sama dengan gula rafinasi,” tuturnya.

Harga terjangkau
Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia Agus Pakpahan mengamini pernyataan Suyono. Industri makanan-minuman membutuhkan gula rafinasi sebagai bahan baku produksi karena memiliki tingkat keputihan atau standar International Commission For Uniform Methods of Sugar Analysis (ICUMSA) rendah.

Ia mengakui keperluan memakai gula impor karena ­harganya lebih terjangkau. Gula rafinasi juga memiliki tingkat ICUMSA di kisaran 45 sehingga akan membuat tampilan produk makanan-minuman jauh lebih baik.

Adapun gula kristal putih memiliki kadar ICUMSA 300 dan gula mentah mencapai 1.200. “Dalam undang-undang pun, penggunaan gula impor untuk industri mamin telah diamanatkan. Hal ini yang membuat penggunaan gula impor untuk industri mamin sah-sah saja,” ucap Agus.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies Assyifa Szami Ilman menyatakan sangat sulit bagi pemerintah menekan angka impor gula mengingat konsumsi dalam negeri yang amat tinggi. Pemangkasan impor gula dapat dilakukan jika produksi gula dalam negeri sudah memenuhi kebutuhan nasional dengan kualitas baik. (E-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More