KPU Masa Lalu Ikut Mengurus Desain Grafis

Penulis: FL/M-1 Pada: Minggu, 20 Jan 2019, 02:30 WIB Weekend
KPU Masa Lalu Ikut Mengurus Desain Grafis

Dok. Pribadi

BAGI Ramlan Surbakti yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) 2001-2005 dan kemudian pejabat sementara Ketua KPU 2005-2007, masa penyelenggaraan pemilu yang penuh tantangan sudah dikecapnya.

Meski sulit, pria kelahiran Karo, Sumatra Utara, 20 Juni 1951, ini, bersama anggota yang lain mampu menyelenggarakan pemilu yang aman dan terkendali. Kendala itu bukan hanya keterbatasan anggaran, melainkan juga keterbatasan sumber daya manusia (SDM). Salah satu peristiwa yang tidak bisa dilupakan Ramlan ketika menjabat di KPU ialah ketika undang-undang mengamanatkan bahwa tidak hanya gambar parpol, tetapi juga di dalam kertas suara harus memuat nama calon legislatif.

“Itu pertama kali KPU harus menempatkan nama caleg dalam kertas suara. Selama ini hanya ada gambar parpol saja,” kata Ramlan Surbakti.

Pencetakan gambar parpol tentunya tidak dirasakan sebagai masalah karena sudah pernah dilakukan. Namun, pencatuman nama caleg tetap menjadi tantangan. Uniknya, seluruh pegawai KPU RI kala itu dari sekretariat hingga staf biasa tidak punya tenaga desain grafis yang bisa membuat rancangan surat suara tersebut. Keadaan makin genting karena tahapan pencetakan surat suara semestinya sudah berjalan.

“Saya panggil Sekjen, menyiapkan desain grafis, rupanya mereka tidak punya. Bisa dibayangkan, lembaga sebesar KPU tida punya tenaga desain grafis dan saat itu memang SDM sangat terbatas. Padahal, pemilu sudah sangat dekat,” ujarnya.

Akhirnya seluruh anggota KPU kala itu memutar otak untuk mencari solusi cara mendesain surat suara dengan gambar dan nama. Ramlan pun berinisia­tif memanggil salah satu perusahaan percetakan.

Perusahaan percetakan itu menyanggupi dengan meminta waktu satu minggu. “Begitu, satu minggu datang percetakan dengan membawa desain itu. Pas dan bagus, kemudian dilakukan percetakan,” kata pria yang mendapat Lifetime Achievement Award dari KPU pada 2018 ini.

Namun, masalah tidak selesai sampai di situ. Saat dicetak, masih ada parpol yang melayangkan protes karena merasa warna pada gambar berbeda dengan aslinya. Mereka protes minta dilakukan perombakan.

“Padahal, saat pertemuan sudah sepakat dengan warna pilihan mereka,” ujarnya. Ramlan kemudian berinisiatif mendatangi toko cat menanyakan nomor warna milik parpol tersebut.Selepas masa tugas di KPU, Ramlan tidak serta-merta melepaskan diri dari dunia ilmu politik dan penyelenggaraan negara. Sebagai Guru Besar FISIP Unair, ia terus menyumbangkan ilmu bagi generasi mendatang.

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More