Pengaturan Skor Tantangan Baru Masalah Lama

Penulis: Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group Pada: Sabtu, 19 Jan 2019, 01:20 WIB Opini
Pengaturan Skor Tantangan Baru Masalah Lama

KASUS suap sepak bola Indonesia terus bergulir. Satuan Tugas Antimafia Bola mengejar mereka yang diduga terlibat dalam kasus pengaturan skor. Bahkan, pemeriksaan tidak hanya dilakukan kepada kasus-kasus yang baru terungkap sekarang ini, tetapi juga jauh ke belakang.

Sejak 1974 dan bahkan sebelumnya, suap tidak pernah berhenti menodai persepakbolaan Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, pernah bintang sepak bola sekelas Ramang dan Ronny Paslah harus terperosok dalam kasus yang mencederai nilai-nilai sportivitas.

Sepak bola Indonesia yang sebelum itu begitu disegani di Asia, ikut terpuruk. Di Asian Games 1958, tim nasional Indonesia sempat merebut medali perunggu. Dua tahun sebelum tim Merah-Putih lolos ke Olimpiade Melbourne. Setelah kasus suap di penyisihan Piala Dunia 1974, Indonesia nyaris tidak bisa lagi berkiprah tinggi.

Suap merusak lingkungan sepak bola. Pembinaan sepak bola menjadi tidak ada artinya ketika juara tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling keras latihannya dan paling tepat menerapkan taktik serta strategi di lapangan. Hasil pertandingan tidak lagi ditentukan di lapangan, tetapi oleh tangan-tangan kotor yang duduk di pinggir lapangan.

Tidak pernah ada upaya yang sungguh-sungguh untuk memberantas kasus suap ini. Ada pelaku-pelaku yang sempat diperiksa, tetapi kita tidak pernah tahu kelanjutan penanganan hukumnya.

Jika dibandingkan dengan ketika Italia diguncang kasus suap pada 1980 dan pengaturan skor 2006. Pemain bintang sekelas Paolo Rossi dihukum tiga tahun tidak boleh berkecimpung di sepak bola. Sementara itu, ketika terlibat dalam pengaturan skor, Juventus dicabut gelar juaranya, dan degradasi ke Serie B.

Kalau kita benar-benar mau membenahi sepak bola nasional, sekaranglah pintu masuknya. Kuncinya, kita jangan setengah-setengah dan harus dibongkar sampai ke akar-akar serta dijatuhi hukuman yang berat.


Momentum perbaikan

Kita harus keras dalam menegakkan aturan karena yang melakukan pengaturan skor sekarang ini ialah anggota komite eksekutif. Orang yang seharusnya menjadi panutan, terlibat dalam tindakan tercela. Orang-orang seperti itu jangan pernah lagi diberi kesempatan mengurusi sepak bola.

Tanpa ada kemauan yang keras, sepak bola Indonesia akan semakin terpuruk. Kasihan anak-anak muda yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola. Mereka tidak akan punya masa depan kalau pembinaan tidak ditujukan kepada peningkatan kualitas manusianya. Kita mempunyai pemain-pemain yang berbakat dan mampu tampil di ajang internasional. Dulu pemain seperti Risdianto atau Iswadi Idris sudah melanglang buana, jauh sebelum bintang Korea Park Ji-sung bersinar di Liga Eropa. Sekarang pun kita masih melihat Egy Maulana yang dikontrak klub Polandia atau Evan Dimas di Selangor FC, Malaysia.

Momentum bagi perbaikan sepak bola nasional ada karena Presiden Joko Widodo ingin melihat ada perubahan dalam pembinaan sepak bola nasional. Kita sudah memilih untuk di-banned FIFA pada 2015 karena ingin ada perubahan dalam pengelolaan sepak bola.

Semua kepahitan dan kegetiran itu tidak ada artinya kalau pengurus baru tidak mampu membersihkan sepak bola dari tangan-tangan kotor. PSSI harus mau terbuka dan meminta kepolisian memberantas suap sampai tuntas.

Hukum itu memang harus keras dan bahkan kejam agar memberi efek deterens. Lex dura sed tamen scripta. Sepanjang penindakan cuma setengah hati, maka apa yang kita lakukan sekarang ini hanya sekadar menimbulkan kehebohan, tetapi tidak pernah bisa menyelesaikan akar persoalan.

Sikap hangat-hangat cirit ayam itulah yang sangat kita khawatirkan. Kita tidak konsisten untuk membersihkan persepakbolaan nasional dari tangan-tangan kotor. Akibatnya, para pelaku tidak pernah jera untuk melakukannya.

Kita memang menghadapi persoalan lama yang tidak pernah tuntas. Kita berharap kali ini ada semangat baru sehingga semua sumber daya yang dikerahkan tidak menjadi mubazir. Kasihan kalau pesta kemenangan Persija kemarin hanyalah pesta semu karena bukan hasil kerja keras yang sesungguhnya.

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More