Jumat 18 Januari 2019, 07:15 WIB

First Impression Debat Perdana Capres

Dadang Rahmat Hidayat Pengamat Komunikasi Politik Unpad | Opini
First Impression Debat Perdana Capres

MI/GRANDYOS ZAFNA

TIDAK sedikit masyarakat Indonesia yang menunggu debat perdana calon presiden dan wakil presiden yang menampilkan pertarungan ulang calon presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto dengan wakil presiden yang berbeda pada 2014.

Tak sedikit yang memandang bahwa debat perdana ialah pertarungan awal kedua pasangan calon.

Sesungguhnya tidak demikian karena pertarungan telah dijalankan atau berlangsung jauh sebelum ini, yakni sejak terjadinya polarisasi politik sejak Pilpres 2014 serta Pilkada DKI 2017, atau setidaknya sejak ditetapkannya secara resmi sebagai capres dan cawapres

Debat perdana yang mengusung topikhukum, HAM, korupsi, dan terorisme diduga akan berkaitan dengan posisi pasangan petahana dan penantang.

Petahana tentu akan menyampaikan berbagai catatan baik atau keberhasilan selama menjadi petahana, sedangkan penantang tentu akan mencari celah kelemah-an atau apa yang belum dilakukan petahana, atau mungkin ada ide baru lainnya.

Isu sangat penting tidak hanya bagi kedua paslon, tapi sesungguhnya penting bagi masyarakat Indonesia yang notabene sebagai calon pemilih. Meski sebagian sudah menjadi pemilih 'pasti', tentu masih ada pemilih yang potensial menjadi pundi suara tambahan.

Debat tadi malam yang berlangsung enam sesi tersebut dimulai dengan penyampaian visi-misi, saling menanggapi, sampai sesi tanya-jawab sebagai debat sesungguhnya.

Ada beberapa catatan penulis yang menarik untuk diulas.

Isu diametral yang muncul pada debat di 2014 ternyata tidak tampak dalam debat semalam.

Seperti diduga, diferensiasi substansi pada aspek petahana dan penantang dalam konteks 'sudah' versus 'belum', 'berhasil' versus 'kegagalan', dan sebagainya.

Pada penyampaian visi-misi isunya sama, hanya dengan asumsi yang berbeda pada implementasi yang kemudian menjadi penting bagi penonton menilainya.

Untuk penampilan awal, saya menilai bahwa kedua paslon sudah menampilkan dirinya dengan baik, lepas dari demam panggung dan fokus dengan substansi masing-masing.

Penguasaan panggung sangat penting untuk menunjukkan kesan pertama atau first impression yang baik.

Meski di awal tampak masih seperti kaku, secara keseluruhan kedua paslon dapat dikatakan mampu menguasai panggung.

Secara kuantitatif dan kualitatif, pembagian peran debat di antara capres dan cawapres relatif sama.

Untuk beberapa substansi, kedua paslon tidak segan-segan untuk berbeda pandangan.

Itu patut diapresiasi karena hal tersebut penting untuk menunjukkan kepada publik soal tidak hanya sekadar tampil, karena sesungguhnya debat bukanlah sekadar orasi atau pidato.

Dalam hal relasi debat, meski dianjurkan, kedua paslon tidak memberikan pujian, penghargaan, atau apresiasi pada lawannya.

Hal ini dapat dipahami. Jika itu dilakukan secara verbal, asumsinya akan meningkatkan persepsi positif lawan.

Dari semua sesi, sesi tanya jawab lebih menarik.

Sayangnya sangat terbatas waktunya untuk pendalaman atau perdebatan yang lebih subtansial sehingga terlihat diferensiasi keduanya.

Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan agar sesi ini mendapatkan porsi lebih besar dalam debat-debat berikutnya.

Secara kuantitatif pembahasan lebih menonjol kasus hukum jika dibanding tema lainnya. Hal ini dapat dipahami bahwa tema lain itu berkaitan erat semuanya dengan masalah hukum.

Isu-isunya telah disentuh secara umum, tetapi tidak sampai pada hal mendasar, khususnya soal HAM berat masa lampau atau kasus Novel Baswedan, mungkin saja tidak sempat disampaikan atau memang sengaja keduanya menghindari permasalahan itu dan menganggap tidak penting.

Padahal, sesungguhnya penting tidak sedikit publik menentikan debat tentang masalah tersebut.

Isu terorisme sesungguhnya tidak terlalu berbeda.

Kalaupun ada, kaitan dengan bagaimana isu terorisme ditujukan kepada kelompok tertentu dan bagaimana menangani isu terorisme tidak hanya masalah di dalam negeri, tetapi juga berkaitan dengan konspirasi asing.

Kedua paslon sepakat perlu ada deradikalisasi dan penegakan atau memerangi terorisme dangan tidak melanggar HAM.

Pada isu korupsi terdapat perbedaan bagaimana mencegah korupsi.

Paslon 01 menonjolkan penguatan pengawasan dan proses rekrutmen yang transparan dan kredibel, sedangkan paslon 02 menonjolkan faktor kesejahteraan dan apresiasi kepada pejabat publik.

Yang menarik ialah pada saat paslon 01 bertanya kepada paslon 02 mengenai adanya caleg yang telah diputus dalam kasus korupsi.

Ada kekhawatiran bahwa dengan penyampaian kisi-kisi oleh KPU kepada paslon tidak akan menarik ternyata kekhawatiran itu tidak terbukti.

Ada beberapa jumping issues yang muncul sebagai bite issues yang menarik seperti masalah isu caleg koruptor dan tumpang tindih regulasi.

Mengenai substansi masih banyak hal yang memang menarik untuk dibahas, tetapi dalam konteks komunikasi politik ialah bagaimana menampilkan pesan-pesan substansi itu disampaikan atau dikomunikasikan, all perform by means of communication, dengan tujuan menampilkan persepsi positif atau kekuatan pada diri sendiri serta negatif atau kelemahan pada pihak lainnya.

Lawan dalam pertarungan debat sebenarnya tidak hanya pihak lain, tapi juga publik dan terutama diri sendiri dan bagaimana memperlakukan pasangan sendiri.

Saya masih belum yakin bahwa publik sudah sangat paham atau tertarik dengan isu-isu yang disampaikan bahkan jika sampai debat terakhir masih memerlukan upaya lain dari tim pemenangan masing-masing untuk memperkuat pesan komunikasi politik melalui berbagai saluran komunikasi politik itu sendiri, terutama yang masih diduga kuat diakses oleh sebagian besar publik, seperti media mainstream dan media sosial.

Akhirnya, selalu ada pertanyaan apakah debat ini akan berpengaruh pada elektabilitas kedua paslon.

Terlalu dini untuk menyatakan berpengaruh atau tidaknya, tetapi masih perlu dilihat dari debat berikutnya, terutama setelah munculnya substansi dan performa diametral yang betul-betul menjadi pembeda kuat bagi keduanya, terlepas dari sudah kuatnya preferensi pemilih.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More