Masa Depan Kopi dalam Bahaya Kepunahan

Penulis: (AFP/Tesa Oktiani Surbakti/I-2) Pada: Jumat, 18 Jan 2019, 05:00 WIB Internasional
Masa Depan Kopi dalam Bahaya Kepunahan

/ AFP PHOTO / GIANLUIGI GUERCIA

TIGA dari lima varietas kopi liar terancam punah akibat berbagai faktor mematikan. Mulai dari perubahan iklim, serangan penyakit hingga penggundulan hutan, membuat masa depan minuman favorit dunia itu kini dalam bahaya.

Di seluruh dunia, lebih dari dua miliar cangkir kopi dikonsumsi setiap hari. Sayangnya, industri multimiliar dolar itu bergantung pada varietas liar di beberapa daerah, yang kemudian dipelihara sebagai varietas tanaman komersial.

Keprihatinan terhadap varietas kopi global, disuarakan para ilmuwan dari Kew Royal Botanic Gardens di Inggris. Tim peneliti mengunakan teknik pemodelan komputer terbaru dan melakukan penelitian di lapangan untuk melihat sejauh mana ancaman kepunahan yang membayangi 124 varietas kopi terdaftar.

Menurut hasil studi mereka, kondisi planet yang semakin menghangat dan kehancuran eksosistem, menjadi faktor penentu masa depan kopi secara global. Setidaknya, 75 jenis kopi atau sekitar 60% dinilai kini sedang terancam punah.

Secara rinci, 13 varietas kopi dikategorikan sangat terancam punah, 40 varietas terancam punah termasuk kopi arabika, dan 22 dalam kategori rentan.

"Secara keseluruhan, fakta bahwa risiko kepunahan di seluruh varietas kopi begitu tinggi, yaitu hampir 60%. Angka itu jauh di atas rata-rata risiko kepunahan yang normal untuk tanaman," ujar Kepala Penelitian Kopi di Kew Royal Botanic Gardens, Aaron Davis.

"Bisa dikatakan, kopi masuk kelompok tanaman yang paling terancam punah. Memang tidak mengejutkan karena banyak varietas yang sulit ditemukan, bahkan tumbuh di daerah terbatas. Beberapa populasi ada yang hanya seukuran lapangan bola," imbuhnya.

Dua varietas

Produksi kopi global saat ini bergantung pada dua varietas, yakni arabika dan robusta. Arabika yang dihargai karena keasaman dan rasanya, berkontribusi sekitar 60% dari seluruh penjualan kopi global.

Varietas tersebut, yang masih tumbuh di alam liar, hanya berada di dua negara, yaitu Ethiopia dan Sudan Selatan. Tim peneliti kemudian mengakses data iklim yang tercatat di Ethiopia dalam 40 tahun terakhir.

Tujuannya untuk mengukur seberapa cepat habitat alami kopi terkikis deforestasi dan kenaikan suhu. "Terdapat fakta yang menunjukkan bahwa kawasan konservasi juga masih terancam oleh penggundulan hutan dan perambahan. Jadi bukan berarti itu aman," papar Davis.

Dari hasil studi, konsumen kopi global diperkirakan akan menghadapi persoalan pasokan kopi di masa mendatang. Tidak hanya itu, keprihatinan juga menyasar nasib petani kopi. Banyak dari mereka terpaksa pindah haluan karena perubahan iklim yang merusak lahan.

"Ethiopia ialah rumahnya kopi arabika. Karena pentingya kopi arabika bagi Ethiopia dan dunia, kita perlu melakukan upaya untuk menjaga keberlangsungan varietas," tutur Tadesse Woldermariam Gole, peneliti senior untuk lingkungan, perubahan iklim, dan kopi di Forest Forum.

Namun, ada kabar gembira. Para peneliti berhasil memukan varietas kopi stenophylla enigmatic di dataran tinggi Sierra Leone. Varietas itu digadang-gadang melampaui rasa arabika.

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More