Masa Depan Kopi Dalam Bahaya

Penulis: Tesa Oktiana Surbakti Pada: Kamis, 17 Jan 2019, 12:36 WIB Internasional
Masa Depan Kopi Dalam Bahaya

MI/Tosiani

TIGA dari lima varietas kopi liar terancam punah akibat berbagai faktor mematikan, seperti perubahan iklim, serangan penyakit hingga penggundulan hutan. Masa depan minuman favorit dunia itu kini dalam bahaya.

Lebih dari dua miliar cangkir kopi dikonsumsi setiap hari. Sayangnya, industri multi-miliar dolar ini bergantung pada varietas liar di beberapa daerah, yang kemudian dipelihara sebagai varietas tanaman komersial.

Keprihatinan terhadap varietas kopi global, disuarakan para ilmuwan dari Kew Royal Botanic Gardens Inggris. Tim mengunakan teknik pemodelan komputer terbaru dan melakukan penelitian di lapangan, untuk melihat sejauh mana ancaman kepunahan yang membayangi 124 varietas kopi terdaftar. Kondisi planet yang semakin menghangat dan kehancuran eksosistem menjadi faktor penentu masa depan kopi global.

Setidaknya, 75 jenis kopi atau sekitar 60% terancam punah. Rinciannya, 13 varietas kopi dikategorikan sangat terancam punah, 40 varietas terancam punah termasuk kopi arabika, dan 22 jenis rentan.

"Secara keseluruhan, fakta risiko kepunahan di seluruh varietas kopi begitu tinggi, hampir 60%. Angka itu jauh di atas rata-rata risiko kepunahan yang normal untuk tanaman," ujar Kepala Penelitian Kopi di Kew Royal Botanic Gardens, Aaron Davis.

"Bisa dikatakan kopi masuk dalam kelompok tanaman yang paling terancam punah. Memang tidak mengejutkan karena banyak varietas yang sulit ditemukan, bahkan tumbuh di daerah terbatas. Beberapa populasi ada yang hanya seukuran lapangan bola," imbuhnya.

Baca juga: Bengkulu Kembangkan Wisata Kebun Kopi

Produksi kopi global saat ini bergantung pada dua varietas, yakni arabika dan robusta. Arabika dihargai karena keasaman dan rasanya, berkontribusi sekitar 60% dari seluruh penjualan kopi global. Varietas tersebut masih tumbuh di alam liar dua negara, yaitu Ethiopia dan Sudan Selatan.

Tim peneliti mengakses data iklim yang tercatat di Ethiopia dalam 40 tahun terakhir. Tujuannya untuk mengukur seberapa cepat habitat alami kopi terkikis deforestasi dan kenaikan suhu. Hampir sepertiga dari semua varietas arabika liar tumbuh di luar kawasan konservasi.

"Terdapat fakta yang menunjukkan kawasan konservasi juga masih terancam oleh penggundulan hutan dan perambahan. Jadi bukan berarti itu aman," papar Davis.

Konsumen kopi global akan menghadapi persoalan minimnya pasokan kopi di masa mendatang. Keprihatinan juga menyasar nasib petani kopi. Banyak dari mereka terpaksa pindah haluan karena perubahan iklim merusakan lahan pertanian.

"Ethiopia adalah rumah bagi kopi arabika. Mengingat betapa pentingya kopi arabika untuk Ethiopia dan dunia, kita perlu melakukan upaya menjaga keberlangsungan varietas," tutur peneliti senior untuk lingkungan, perubahan iklim, dan kopi di Forest Forum, Tadesse Woldermariam Gole.

Lebih lanjut, Davis mengatakan peran pedagang besar diperlukan untuk memastikan produsen mendapat harga wajar. Dengan begitu, mereka dapat berinvestasi pada praktik produksi yang lebih baik, serta melestarikan stok yang bervariasi.

Selain itu, pemerintah harus tegas menjalankan kebijakan pelestarian dan peremajaan hutan. Hal itu penting untuk membantu pertumbuhan kopi liar.

"Sebagai peminum kopi, mungkin Anda belum merasa khawatir dalam jangka pendek. Tetapi jika tidak ada tindakan pelestarian sumber daya utama jangka panjang, mungkin tidak ada masa depan cerah untuk pertanian kopi," tukas Davis.

Dalam penelitian ini, ditemukan juga varietas kopi stenophylla enigmatic. Kopi dataran tinggi Sierra Leone itu digadang-gadang melampaui rasa arabika. Varietas kopi itu terakhir ditemukan 1954 lalu, dan kemudian menghilang dari perkebunan kopi.

Kemudian, sebuah ekspedisi ke daerah yang diketahui terdapat jejak terakhir varietas tersebut, berhasil menemukan stenophylla enigmatic.(AFP/OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More