Pemerintah AS Siapkan Dakwaan terhadap Huawei

Penulis: Tesa Oktiana Surbakti Pada: Kamis, 17 Jan 2019, 12:45 WIB Internasional
Pemerintah AS Siapkan Dakwaan terhadap Huawei

David Becker/Getty Images/AFP

PEMERINTAH Amerika Serikat (AS) tengah mempersiapkan penyelidikan kriminal yang mengarah pada dakwaan kepada perusahaan teknologi raksasa asal Tiongkok, Huawei.

Seperti dilaporkan The Wall Street Journal, mengutip sejumlah sumber anonim, Departemen Kehakiman AS diketahui sedang menyelidiki tuduhan pencurian rahasia dagang dari mitra bisnis Huawei di AS. Termasuk perangkat robot T-mobile yang digunakan untuk menguji telepon pintar.

Akan tetapi, Departemen Kehakiman AS enggan mengomentari laporan tersebut, begitu pula dari pihak Huawei.

Bagaimanapun, langkah itu semakin meningkatkan ketegangan antara AS dan Tiongkok. Tepatnya setelah penangkapan petinggi Huawei sekaligus putri pendiri perusahaan, Meng Wanzhou, di Kanada akhir tahun lalu.

Sejak kasus Meng bergulir, tidak hanya hubungan AS-Tiongkok yang memanas, melainkan juga hubungan Kanada-Tiongkok. Meng yang saat ini menjadi tahanan rumah, tengah menunggu proses persidangan.

Baca juga: Eropa tidak Turuti Saran AS Boikot Huawei

Di lain sisi, Pemerintah Kanada menyatakan 13 orang warganya telah ditahan otoritas Tiongkok. Salah satu tahanan dijatuhi hukuman mati atas tuduhan perdagangan narkoba.

Huawei, produsen telepon pintar dan peralatan telekomunikasi raksasa, berada di bawah pengawasan AS selama bertahun-tahun.

Kerja sama bisnis ditengarai sebagai kedok mata-mata pemerintah Tiongkok. Dalam sebuah wawancara terbatas, pendiri Huawei, Ren Zhengfei, membantah tudingan perusahaannya terlibat dalam spionase atas nama pemerintah Tiongkok, dengan tegas.

Ketegangan bilateral mengemuka di tengah upaya Presiden AS Donald Trump menarik lebih banyak investor manufaktur di tanah AS.

Meski dalam gencatan senjata, sebelumnya pemerintah AS memberlakukan tarif terhadap sejumlah komoditas asal Tiongkok. 'Negeri Paman Sam' mengklaim praktik perdagangan yang dijalankan Tiongkok selama ini tidak adil.

Berkaitan dengan langkah tersebut, anggota parlemen AS memperkenalkan regulasi yang melarang ekspor suku cadang dan komponen asal AS ke perusahaan telekomunikasi Tiongkok, yang melanggar kontrol ekspor AS maupun sanksi lainnya. Dalam hal ini, Huawei dan ZTE disinyalir masuk dalam daftar sasaran.

"Huawei secara efektif merupakan tangan yang mengumpulkan data-data intelijen bagi Tiongkok. Pemimpin Huawei sebelumnya adalah seorang insinyur yang bekerja untuk Tentara Pembebasan Rakyat," tukas Senator AS dari Partai Republik, Tom Cotton, selaku salah satu sponsor rancangan regulasi tersebut.

"Huawei dan ZTE adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Kedua perusahaan telah berulang kali melanggar undang-undang AS. Ini merupakan risiko yang signifikan terhadap kepentingan keamanan nasional dan perlu dimintai pertanggungjawaban," imbuh Senator AS dari Partai Demokrat, Chris Van Hollen.

Tahun lalu, Trump mencapai kesepakatan dengan ZTE. Alhasil, perusahaan telekomunikasi itu mendapat keringanan hukuman finansial, atas kontribusinya terhadap Iran dan Korea Utara untuk menghindari sanksi dari AS.

Trump menjelaskan keputusannya mengampuni ZTE menyusul seruan dari Presiden Tiongkok, Xi Jinping, untuk membantu menyelamatkan lapangan pekerjaan Tiongkok. (AFP/OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More