Mimpi Indonesia Jadi Pusat E-Sport

Penulis: (Opn/R-2) Pada: Kamis, 17 Jan 2019, 04:00 WIB Olahraga
Mimpi Indonesia Jadi Pusat E-Sport

ANTARA/Yudhi Mahatma

MENTERI Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi mengaku tengah fokus pada pengembangan atlet dan kompetisi di bidang olahraga elektronik (e-sport). Pasalnya, e-sport sudah menjadi kegandrungan anak muda di seluruh Tanah Air.
Kaum milenial itu, tutur Imam, bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk bermain bersama teman dan lawan.

“Seperti enggak jelas begitu, tetapi secara prestasi kita patut bergembira dengan hal itu,” terangnya saat melalukan kunjungan kerja di Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (16/1).

Imam menjelaskan, kegembiraan itu patut kita rasakan karena baru kali ini di Asia e-sport dipertandingkan di multiajang Asian Games 2018. Memang belum dipertandingkan secara kompetisi, hanya sebatas ekshibisi.

“Tapi, secara prestasi kita menggembirakan sekali. Anak-anak muda yang menggandrungi itu adalah prestasi dan patut didukung,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Imam menargetkan, Indonesia bisa menjadi hub (pusat) e-sport di kawasan ASEAN. Tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga harus menjadi produsen.

Pasalnya, atlet e-sports sama seperti atlet olahraga lainnya yang butuh pembinaan. Hal itu dibutuhkan untuk menunjang prestasi nasional maupun internasional.

“Mereka akan membela negara ini dan kita ingin melahirkan banyak atlet serta konten-konten e-sport,” tegasnya.

Pada Asian Games 2018, e-sport termasuk salah satu olah­raga yang dipertandingkan. Saat itu, atlet Ridel Yesaya Sumatandal di bawah naungan Pengurus Nasional Perkumpulan Olahraga Elektronik Indonesia (IESPA) berhasil mendulang medali emas setelah bertanding di gim Clash Royale.

Di samping itu, dukungan Menpora juga bukan tanpa alasan­.  Pada SEA Games Filipina 2019 nanti, cabang e-sport juga akan dipertandingkan.  Itu sebabnya mulai sekarang mereka harus menyiapkan para atlet. (Opn/R-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More