Kamis 17 Januari 2019, 03:45 WIB

Lahan dan Pabrik Gula Jadi Masalah

Andhika Prasetyo | Ekonomi
 Lahan dan Pabrik Gula Jadi Masalah

ANTARA FOTO/Yusuf

 

INDONESIA dalam jangka menengah  sulit lepas dari kebijakan impor gula. Tingginya kebutuhan gula tidak dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri akibat luasan lahan yang tidak banyak bertambah dan tersendatnya revitalisasi pabrik gula yang telah berumur ratusan tahun.

Pabrik gula tua yang rata-rata merupakan  pabrik gula BUMN membuat produksi gula tidak efisien sehingga mengerek harga 3 hing­ga 4 kali lipat lebih tinggi jika diban­ding­kan dengan gula impor.

“Revitalisasi pabrik (gula) kelihatan setengah hati. Cuma revitalisasi secara parsial, bukan  menyeluruh,” ujar ekonom Universitas Gadjah Mada, Revrisond Baswir, dalam keterangan tertulisnya.

Untuk diketahui, harga gula lokal sampai November 2018 lalu sebesar Rp12.163 per kg, sementara rata-rata harga gula mentah dunia hanya Rp4.000.

Dari Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Tebu 2015-2017, terlihat bahwa lahan perkebunan tebu dalam periode 2008-2017 tak banyak mengalami perubahan.

Pada periode tersebut, luas rata-rata mencapai 454.782 hektare, dengan luasan tertinggi pada 2014, yakni 478.108 hektare, dan terendah pada 2009 seluas 441.440 hektare.

Dari luasan tersebut, rata-rata produksi pada periode yang sama ialah 246 juta ton.  “Perhatian Kementerian Pertanian masih minim soal gula ini,” ujarnya.

Anggota Komisi VI Inas N Zubir mengatakan banyak tugas yang perlu dikerjakan pemerintah terkait dengan soal gula itu.  Dari kunjungan ke daerah itu, Inas menyatakan pabrik gula pelat merah sudah tak dapat direvitalisasi lagi.

“Pabrik gula itu harus dibongkar dan di­­bangun ulang dengan mesin yang modern karena terlampau tua,” ujar Inas.

Selain membenahi pabrik, pemerintah harus bisa menjaga stabilitas pasokan sehingga pabrik gula mendapat bahan baku.  

Saat ini Indonesia disebut sebagai importir gula terbesar di dunia. Berdasarkan data lembaga penyedia data Statista, pada 2017/2018, Indonesia mengimpor gula sejumlah 4,45 metrik ton. Volume impor itu turun setelah sempat menyentuh angka 4,6 juta ton pada 2016, melonjak dari tahun sebelumnya sebesar 3,4 juta ton.

Sebelumnya, pengamat ekonomi Universitas Indonesia, Faisal Basri, yang mengkritik pemerintah soal tingginya impor gula juga menyebutkan kondisi pabrik yang telah tua menjadi salah satu penyebab terja­dinya impor.

Penuhi kebutuhan mamin
Tahun ini, Kementerian Perindustrian (Ke­menperin) mengeluarkan rekomendasi impor gula mentah 2,8 juta ton. Angka itu lebih kecil daripada tahun sebelumnya yang mencapai 3,6 juta ton.

Kemenperin  memproyeksikan kebutuh­an gula kristal rafinasi (GKR) untuk sektor industri makanan dan minuman serta industri farmasi naik 6% pada tahun ini. Peningkatan tersebut terjadi seiring dengan pertumbuhan yang dialami kedua sektor itu. Kegiatan pileg dan pilpres se­rentak pada 17 April mendatang akan menjadi salah satu pendongkrak kinerja industri makanan dan minuman (mamin) di tahun ini.

“Momentum itu akan membuat konsumsi produk mamin melonjak,”  ujar Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Ke­men­perin Achmad Sigit Dwiwahjono
Kemenperin harus mampu menjamin ke­ter­sediaan bahan baku produksi, dalam hal ini GKR. Impor menjadi solusi karena industri gula nasional sejauh ini belum mampu memenuhi kebutuhan industri. Bahkan, untuk kebutuhan konsumsi saja, produksi gula lokal belum mampu memenuhi. (E-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More