Darurat DBD, Para Dokter Tidak Berada di Tempat

Penulis: John Lewar Pada: Minggu, 13 Jan 2019, 12:00 WIB Nusantara
Darurat DBD, Para Dokter Tidak Berada di Tempat

Dok. RS Pratama Komodo

DI tengah situasi darurat demam berdarah dengue (DBD) meningkat pesat, para dokter Rumah Sakit Umum (RSU) Pratama Komodo Labuanbajo di Kabupaten Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak berada di tempat.

Sejumlah pasien mengeluh karena para pasien hanya didampingi dua orang petugas perawat. Kondisi ini hampir ditemukan di sejumlah ruangan rawat inap yang dihuni ratusan pasien balita. Perawat dalam merawat tidak didampingi dokter jaga maupun dokter spesialis.

"Tidak ada dokter di semua ruangan, yang ada hanya perawat. Tidak tahu dokternya pada kemana. Yang jelas kita kecewa," sebut Anisa Hamdani, keluarga pasien.

Padahal setiap hari para pasien dengan diagnosis demam berdarah dengue terus berdatangan dari sejumlah kecamatan untuk menjalani perawatan di RSU Pratama Komodo.

 

Baca juga: Demam Berdarah Serang Sulut, 3 Warga Meninggal Dunia

 

Anisah mengaku, sebelumnya ada beberapa dokter di 2005 silam dikirim pemerintah daerah ikut pendidikan dokter spesialis mengunakan dana APBD kabupaten. Sayangnya mereka tidak bekerja secarah maksimal.

Bahkan para dokter spesialis itu lebih memilih menjalankan tugasnya di rumah sakit swasta yakni Siloam.

"Kita minta pemda bersikap tegas terhadap para dokter ini," ucapnya tegas.

Keluarga pasien lainnya Matias Surding kepada Media Indonesia Minggu (13/1) menyebutkan petugas dokter di RS Komodo tak kelihatan sibuk padahal pasien DBD begitu banyak. Para dokter sangat jarang dan hampir tidak masuk ke ruang rawat untuk mengontrol pasien.

"Kalupun masuk paling dua hari sekali itupun kalau ada. Saya tidak mengerti," katanya.

Wakil Bupati Marah Besar
Wakil bupati Manggarai Barat Maria Geong saat melakukan sidak mendadak Minggu (13/1) siang, menemukan para pasien dalam kondisi terlantar. 

Ratusan Pasien yang di rawat hanya di dampingi perawat saja tanpa dokter jaga maupun dokter spesialis.

Menurut Maria Geong,dalam kondisi darurat DBD saat ini paramedis seharusnya siaga satu kali dua puluh empat jam. Entah dengan cara bergilir itu yang harus diatur. Namun sayangnya pasien mengaku tidak ada dokter.

"Ya saya marah besar," kecam Maaria Geong, Saat menelpon sejumlah dokter yang tidak berada di tempat.

Maria Geong menegaskan dirinya akan melaporkan ulah para dokter rumah sakit umum Komodo ke kementrian kesehatan republik Indonesia dan ke gubernur NTT Victor Laiskodat. Tujuannya agar para dokter yang PNS ini di beri sangai tegas.

"Saya sudah laporkan ini ke kadis kesehatan provinsi. Nanti pemda melalui Bupati Agustinsu Dula akan menyurati Ibu Menkes di Jakarta dan Gubernur agar mereka diberi sangsi tegas," ucap Geong Marah.

Wakil bupati ini sambil marah-marah memeriksa sejumlah ruangan. Ditemukan sejumlah peralatan medis serba canggih bantuan dari pusat dibiarkan terlantar oleh para dokter.

"Alat alat canggih ini kita punya tidak terpasang. Kasian masyarakat tidak tertolong karena ulah mereka," tegasnya.

Ia juga mendesak Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT dan Menteri Kesehatan agar memberi sangsi tegas ke dokter di RS Komodo.

"Kalau perlu cabut Surat Izin Praktek para dokter," katanya.

Direktur RSU Pratama Komodo, Mikael Yaman, tidak mendampingi Wakil Bupati Maria Geong saat sidak. Saat dikonfirmasi, Mikael Yaman mengaku semua petugas medis ternasuk para dokter bekerja dengan sistim rolling. Petugas di rumah sakit ini bekerja secara bergiliran.

"Semuanya sudah terjdwal tugas jaga atau rawat pasien, jadi ini tidak masalah," ucapnya singkat. (OL-3)
 

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More