PB ISSI Siap Genjot Pembalap Muda

Penulis: M Taufan SP Bustan Pada: Minggu, 13 Jan 2019, 07:05 WIB Olahraga
PB ISSI Siap Genjot Pembalap Muda

ANTARA FOTO/Putra Haryo Kurniawan

PENGURUS Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI) mendukung penuh kebijakan pemerintah yang akan lebih mengutamakan pengiriman para atlet muda ke SEA Games Filipina 2019. Pasalnya, selain kebijakan itu untuk kemajuan, PB ISSI juga banyak memiliki atlet muda yang kebetulan saat ini menjadi unggulan.

“Kebijakan pemerintah sebenarnya sudah sejalan dengan pandangan PB ISSI. Apalagi, sekarang pembalap unggulan kami adalah atlet muda dan kami akan menyiapkan itu untuk SEA Games,” cetus Ketua Umum PB ISSI Raja Sapta Oktohari kepada Media Indonesia di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, kebijakan pemerintah itu sangat baik dalam pengembangan atlet­. Oleh karena itu, semua pihak harus mendukung. “Kalau PB ISSI pasti sangat mendukung ya. Ini kan persentasenya 60% junior dan 40% senior. Kami pikir sangat ideal komposisinya.”

Sebelumnya, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga mengeluarkan kebijakan soal komposisi atlet di SEA Games 2019, yakni semua cabang olahraga harus mengirim 60% atlet junior. Menurut Okto, rata-rata atlet pembalap sepeda PB ISSI saat ini berumur di bawah 22 tahun.

“Contohnya Angga Dwi Wahyu Prahesta. Pembalap 19 tahun itu baru saja menyabet medali emas di kejuaraan Asian Track Championship (ATC) 2019 yang digelar di Jakarta International Velodrome, Rawamangun, Jakarta Timur, DKI Jakarta.”  

“Prahesta tampil tak terduga pada nomor scratch race junior dan berhasil meraih medali emas. Prahesta pun mampu mencatatkan sejarah baru bagi atlet junior di ACT. Atlet ini menjadi harapan kami,” tegas Okto.

Dua perak

Sementara itu, tim balap sepeda Indonesia berhasil menambah dua medali perak dan satu perunggu dari kejuaraan Asian Track Championship 2019, kemarin. Kedua medali perak itu dipersembahkan atlet paracycling Marthin Losu di nomor 1 km time trial paracycling C4-C5 putra dan pasangan atlet paracycling Sri Sugiyanti dan Ni’mal Magfiroh Marthin mencatatkan waktu 1 menit 12,089 detik untuk mengamankan medali perak bagi Indonesia, sedangkan medali emas diraih pembalap Malaysia Zuhairie Ahmad Tarmizi dengan catatan waktu 1 menit 9,498 detik. Sementara itu, me­dali perunggu diraih rekan Marthin di pelatnas paracycling, Sufyan Saori, yang mencatatkan waktu 1 menit 13,424 detik.

“Sebelum turun di sini persiapan saya mepet, hanya satu minggu. Jadi, saya bersyukur dengan hasil yang saya capai hari ini. Semoga ke depannya bisa lebih baik,” kata Marthin seusai perlombaan.

Sebelumnya, duet Sri/Ni’mal kembali harus mengakui keunggulan pasangan Malaysia. Saat berlaga di nomor 1 km time trial paracycling B putri, Sri dan Ni’mal mencatat waktu 1 menit 17,718 detik atau defisit satu detik dari pasangan Malaysia Nurul Suhada Zainal/Nur Azilia Syafinas Mohd Zais yang menjadi kampiun. Adapun perunggu diraih pasangan Malaysia lainnya, Nur Syahida Tajudin/Noraidillina Adilla J Sam (1:20,052).

Pelatih NPC tim paracyling Indonesia Fadilah Umar mengungkapkan bahwa dengan persiapan yang kurang dari satu bulan, hasil di ATC 2019 menjadi barometer baru bagi mereka. Dari awal latihan, Umar hanya memasang target agar para atlet mampu memperbaiki catatan terbaik mereka.

“Kita jadikan barometer untuk anak-anak. Kuncinya agar bisa menjaga performa,” kata Umar. (Ant/R-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More