Jangan Turutkan Ego Sebar Hoaks

Penulis: Abdillah Muhammad Marzuqi Pada: Minggu, 13 Jan 2019, 04:10 WIB Weekend
Jangan Turutkan Ego Sebar Hoaks

MI/RAMDANI

KOMPOSER Addie MS, 59, mengaku prihatin dengan penyebaran hoaks yang dinilainya sudah keterlaluan. Kabar bohong tersebut telah mengakibatkan banyak kerusakan dan kekacauan. Berbagai peristiwa seperti pengeroyokan, persekusi, dan perusakan, banyak terjadi akibat hoaks.

“Kita sudah lihat banyak sekali kejadian. Ada rumah ibadah dibakar, orang berantem, bahkan sampai kacau. Penyebabnya banyak karena hoaks,” ujar pemilik nama lengkap Addie Muljadi Sumaatmadja itu di Jakarta, Rabu (9/1).

Menurutnya, penyebaran hoaks menjadi lebih mudah dan cepat karena setiap orang menggunakan media sosial (medsos). Ia pun membandingkannya dengan ketika belum marak penggunaan medsos. Ketika itu, masih cukup waktu untuk memverifikasi setiap kabar atau berita untuk mengetahui apakah kabar yang diterima benar atau bohong.

Namun, lanjutnya, sejak adanya medsos, upaya itu justru lebih sulit dilakukan. Sebelum sempat mengecek kebenaran berita pertama, muncul lagi berita berikutnya.

“Zaman dulu, belum bisa saling komunikasi secara cair, karena belum ada media sosial. Kalau ada orang bikin hoaks, sebelum sampai ke sana ke mari, sudah terfilter. Ada kesempatan untuk mengkaji, untuk mengecek. Tapi, sekarang, belum sempat untuk mengecek, penyebarannya sudah luar biasa,” tambah laki-laki kelahiran 7 Oktober 1959 itu.

Selain itu, menurut Addie, ada unsur psikologi sosial dalam pola penyebaran hoaks, yakni seseorang akan merasa lebih mantap untuk melakukan apa pun jika bersama dengan banyak orang. Padahal, ketika sendiri seseorang tersebut mungkin lebih bisa menggunakan nalar dan rasionalitas.

Menurut ayah dari dua putra tersebut, medsos memang berguna untuk berkomunikasi, karena tidak dibatasi jarak untuk bisa saling terhubung. Sayangnya, medsos yang seharusnya berfungsi sebagai media untuk menjalin persahabatan, malah menjadi ajang untuk menebar provokasi. Karena medsos yang mengaburkan jarak, sebuah provokasi bisa dengan cepat menyebar ke segala penjuru.
“Beberapa kali terbukti ada provokasi melalui hoaks dan banyak yang kecele (tertipu),” tambahnya.

Penyakit sosial

Ia juga mengatakan, setiap orang yang menggunakan medsos sedikit banyak pernah berurusan dengan hoaks, antara lain pernah memercayai kabar bohong dan secara sengaja maupun tidak sengaja pernah turut menyebarkan hoaks. Ia pun mengakui pernah secara tidak sengaja ikut menyebarkan sesuatu yang ternyata keliru.

Sayangnya, ada orang yang terus-menerus menyebar hoaks. Hal demikian, menurut Addie, sebagai pertanda hal tersebut merupakan penyakit sosial yang harus diwaspadai bersama.

Oleh karena itu, Addie menyarankan agar setiap orang berhati-hati dalam menerima informasi dengan terlebih dahulu mengecek dan memverifikasinya. Jika itu tidak dilakukan, akan berakibat fatal. Bahkan, katanya, bukan tidak mungkin Indonesia akan bernasib sama dengan beberapa negara di Timur Tengah.

Dalam hal itu, menurut suami dari penyanyi dan mantan model Memes itu, pengendalian ego menjadi faktor kunci. Jangan hanya karena ego, penyebaran berita yang belum tentu kebenarannya menjadi marak. (H-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More