Penghormatan Terakhir

Penulis: Farhatun Nurfitriani/Staf Bahasa Media Indonesia Pada: Minggu, 13 Jan 2019, 01:50 WIB Weekend
Penghormatan Terakhir

Dok.Pribadi

SABAN kali ada yang meninggal dunia, sesering itu juga ucapan belasungkawa dilangitkan. Bentuk simpati dan duka meluncur seperti biasa. Kehadiran handai tolan disamarkan dengan penghormatan terakhir.

Frasa penghormatan terakhir di atas menyisakan cacat logika seakan setelah itu tidak ada penghormatan. Bayangkan kalau yang meninggal itu ialah seorang yang berjasa bagi negara seperti pahlawan.

Dari logika itu, penghormatan hanya diberikan beberapa waktu sebelum jenazah dikebumikan. Setelah pemakaman selesai, sudah tidak ada lagi penghormatan. Akan tetapi, justru masyarakat sudah lebih mengenal frasa penghormatan terakhir dalam kehidupan sehari-hari.

Maraknya penggunaan frasa itu bisa kita lihat dalam judul berita Kodim Klaten Beri Penghormatan Terakhir kepada Kapten Inf (Purn) Sardiyanto (Suara Merdeka News, Jumat, 11/1), Trump dan Melania Beri Penghormatan Terakhir pada George HW Bush (Kompas, Selasa, 4/12/2018).

Bagi sebagian orang, menggunakan frasa penghormatan terakhir mungkin terasa bernilai positif. Frasa ini terkesan menunjukkan kewibawaan karena sering dipakai di kalangan militer. Tak mengherankan bila masyarakat lebih sering menggunakan frasa penghormatan terakhir daripada takziah, melawat, atau melayat yang merupakan diksi dalam kedukaan.

Padahal, dalam KBBI, kata ‘terakhir berarti paling akhir (ujung, belakang); di belakang sekali’. Dengan demikian, frasa itu sama halnya bahwa penghormat­an yang mereka berikan kepada seseorang telah berakhir. Berarti pula kematian menjadi batas rasa hormat diberikan.

Hal yang sama juga ada di ranah negara. Di saat pemilu tiba, kerap didengungkan pemilu yang berasas rahasia. Setahu saya, rahasia itu tertutup, sesuatu yang disembunyikan, dan tidak boleh diketahui pihak mana pun kecuali si pemilih dan Tuhannya. Akan tetapi, nyatanya pemilu sudah tidak lagi bersifat rahasia. Sebagai bukti, hampir semua sesumbar aku dan dia mendukung siapa. Bahkan, membela sang jagoan seperti juru kampanye yang kesetanan. Semua terbuka dan transparan. Sungguh aneh bukan?

Padahal, pesan rahasia seharusnya dijaga. Boleh mengajak asal tetap tahu tata krama. Bahkan, ketika jelang pemilu, di media sosial pun ramai terunggah foto pasangan calon yang mereka bela, visi-misinya, atau sekadar memuji kehebatan calon yang mereka bela jika terpilih nanti layaknya orang yang sedang berkampanye. Ini artinya jika seorang pemilih tak mampu merahasiakan apa yang seharusnya dirahasiakan, apakah pemilu masih bisa dikatakan berasas rahasia?

Semboyan pemilu yang bersifat rahasia iti sudah didengungkan sejak Orde Baru berkuasa. Hal itu seharusnya bisa dipegang teguh oleh masyarakat dan menjadi kiblat makna karena kata itu berdaya, bukan malah dicederai sehingga jadi tak berlogika.

Satu lagi, slogan NKRI harga mati yang gencar dinarasikan selama ini. Lagi-lagi slogan ini hendak menyampaikan arti bahwa NKRI sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Utuh dan tegak berdiri. Sebagai analogi, sama halnya jika kita membeli barang di swalayan dengan harga yang sudah ada labelnya. Tidak bisa ditawar.

Pertanyaannya, kalau NKRI sudah tidak bisa diubah, berarti tak perlu lagi ada wacana. Namun, nyatanya banyak yang sebaliknya: berdiskusi, dan berbantah-bantah. Ini artinya slogan NKRI harga mati hanyalah semacam retorika bahasa.

Terakhir, bahasa erat pertaliannya dengan logika. Namun, kadang kala kata meniadakan logika yang kerap menimbulkan resah. Bahasa yang baik ialah cerminan logika yang baik pula. Karena itu, pandailah menguntai bahasa agar salah logika tidak berlanjut ke generasi berikutnya.

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More