Waspadai Karhutla Hebat

Penulis: Dhika Kusuma Winata Pada: Sabtu, 12 Jan 2019, 06:50 WIB Humaniora
Waspadai Karhutla Hebat

MI/ROMMY PUJIANTO

KEMENTERIAN Lingkungan Hidup dan ­Kehutanan (KLHK) terus mewaspadai ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun ini. Pasalnya, fenomena El Nino yang diperkirakan bakal terjadi membuat cuaca semakin kering sehingga memicu titik panas (hotspot) menjadi kebakaran hebat.

“Tahun 2019 ini kita lebih waspada lagi karena Januari-Februari saja diperkirakan cuacanya akan lebih kering. Pemerintah daerah sudah diingatkan untuk lebih intensif dalam pencegahan dan penanganannya,” kata Menteri LHK Siti Nurbaya di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, peristiwa karhutla sudah dipantau sejak akhir Desember 2018 hingga awal Januari. Sejumlah kebakaran antara lain terjadi di Provinsi Aceh, Riau, dan Sumatra Barat.

Penanganannya dilakukan dengan pemadaman hingga tuntas. Bahkan, ujar Menteri LHK, pikahnya telah ­menyurati seluruh gubernur agar lebih ­waspada dan intensif menangani dan mencegah karhutla, antara lain melalui pengecekan lapangan, pemadaman, dan ­ sosialisasi.

“Di daerah lain seperti Maluku, Jawa Barat, dan Jawa Timur juga terpantau ada titik panas. Tapi itu hanya titik panas, dan bukan kebakaran. Yang benar-benar terjadi kebakaran hanya di Aceh, Riau, dan Sumatra Barat. Tim gabungan Manggala Agni, BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), dan pemda (pemerintah daerah) sudah bagus responsnya,” ucapnya.

Menteri Siti mengatakan pihaknya juga telah mengevaluasi kondisi karhutla sepanjang tahun lalu. Evaluasi telah dilaporkan kepada Menko Polhukam dan saat ini tengah disiapkan laporan komprehensif kepada Presiden.

“Kondisi karhutla 2018 intinya lebih panas bila dibandingkan dengan di 2017. Kemudian area yang terbakar lebih besar. Pada 2017 sekitar 197 ribu hektare terbakar lalu pada 2018 yang terbakar berkisar 300 ribu hektare,” ungkapnya.

Peningkatan karhutla, lanjutnya, bisa mengancam capaian pengurangan emisi gas rumah kaca. Berdasarkan data KLHK, penurunan emisi gas rumah kaca pada 2017 sudah mencapai 24% dari target 29% pada 2030. Pencapaian itu sebagian besar berkat keberhasilan menekan karhutla, khususnya pada ­lahan gambut. “Intinya kita lebih waspada lagi tahun ini,” pungkasnya.

Musim tanam

Terkait dengan permintaan Menteri LHK kepada para gubernur, Provinsi Nusa Tengara Timur (NTT) siap mengantisipasi kekeringan yang dapat memicu Karhutla. Di NTT, fenomena El Nino biasanya juga berdampak buruk terhadap penyediaan air bersih untuk warga, kebutuhan ternak, dan pertanian.

“Minggu depan saya memimpin pertemuan di Flores dalam rangka mengantisipasi dampak El Nino,” kata Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi.

Menurutnya, karhutla di NTT muncul saat memasuki musim tanam. Warga biasanya membakar ladang untuk persiapan tanam. Namun, di sejumlah wilayah seperti di Pulau Sumba, biasanya warga membakar padang rumput dengan harapan tumbuh rumput baru untuk pakan ternak.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam NTT telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA), berpatroli bersama masyarakat, membuat sekat bakar, serta memasang papan imbauan dan peringatan tentang dampak yang timbul ­akibat karhutla. (PO/H-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More