Berbagi dalam Keistimewaan Diri

Penulis: Hil/M-4 Pada: Sabtu, 12 Jan 2019, 04:00 WIB Humaniora
Berbagi dalam Keistimewaan Diri

MI/PERMANA

ANDREAS Gautama, pemuda yang kesehariannya menggunakan kursi roda untuk beraktivitas. Sejak lahir dirinya sudah dalam kondisi tidak bisa berjalan karena terkena spina bifida. Bahkan, saat usianya 2 hari, Andreas sudah harus melakukan operasi berkali-kali untuk menyelamatkan nyawanya. Spina bifida ini merupakan kelainan, yakni tulang saraf belakang tidak sempurna. Namun, Andre hingga usianya 27 tahun ini tumbuh menjadi pemuda yang baik, bahkan peduli terhadap sesama.

Bagi sang ibunda, Andre tidak pernah menyusahkannya. Meski dalam keadaan sakit, ia selalu tersenyum. Ibunya, Vicentia Ailing, hanya berdoa kepada Tuhan agar Andre dimampukan untuk bisa duduk. Sementara itu, urusan lainnya akan diperjuangkan olehnya agar Andre bisa tumbuh dengan baik.

Ailing sudah menerima keadaan Andre semenjak dari lahir, “Waktu pertama saya tatap muka dengan dia, dan dia nangis juga dokter bilang ada kemungkinan dia untuk terbaring seumur hidup. Lalu, saya berdoa kalau Tuhan mampukan anak saya untuk bisa duduk saja, yang lain akan mudah buat saya untuk perjuangkan. Saya selalu menunggu Andre tanpa beban. Saya menunggu dia waktu sekolah, kuliah, bahkan kerja pun saya tunggu dia,” ceritanya.

Sejak kecil Andre sudah dididik untuk pantang menyerah meskipun menjadi penyandang disabilitas. Kini Andre mampu melakukan banyak hal, bahkan setelah lulus menjadi sarjana dari Universitas Bina Nusantara, dirinya secara mandiri membuka usaha pembuatan kaus sendiri. Selain bisa hidup mandiri, Andreas pun memiliki kepedulian terhadap sesama. Andreas merasa tergugah untuk membantu saat ada orang di sekitarnya dalam keadaan kekurangan. “Sejak kecil saya suka ikut dengan orangtua mengunjungi tempat-tempat seperti panti asuhan. Jadi, saya tergerak hatinya untuk membantu saudara yang kekurangan. Kebetulan waktu itu ada bencana di Lombok jadi saya berinisiatif dengan dibantu orangtua untuk menyumbang lewat usaha kaus saya sendiri. Waktu itu terkumpul sekitar Rp16 juta” cerita Andreas.

Ayahnya, Djohan Gautama, memang semenjak kecil sudah menanamkan nilai-nilai kepedulian terhadap putranya. Djohan ingin mengajarkan juga bahwa Andreas tidak berbeda dengan orang lain. Dirinya pun membiasakan Andre untuk mengikuti komunitas-komunitas agar banyak berinteraksi dengan orang lain dan bisa mandiri. (Hil/M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More