Megayanti Mengadukan Derita Guru kepada Jokowi

Penulis: Damar Iradat Pada: Jumat, 11 Jan 2019, 19:10 WIB Humaniora
Megayanti Mengadukan Derita Guru kepada Jokowi

ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

MEGAYANTI, guru asal Pemalang, Jawa Tengah, mengeluhkan tentang nasibnya kepada Presiden Joko Widodo. Dia berkeluh-kesah mulai dari pendapatan sampai soal sertifikasi.

Megayanti menumpahkan semua persoalannya langsung kepada Presiden saat Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) menemui Jokowi di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Jumat (11/1). Jokowi pula yang meminta itu.

"Ada yang bisa maju dan cerita? Blak-blakan saja, ada yang belum dapat sertifikasi di sini?" Jokowi bertanya.

Megayanti maju dan buka suara. Perempuan yang sudah mengajar sejak 2009 itu mengaku, selama sepuluh tahun mendidik, hidupnya penuh keprihatinan.

"Tujuh tahun mengajar, honor saya Rp50.000 (per bulan), Pak Presiden. Alhamdulillah, tiga tahun belakangan, honor kami Rp150.000 (per bulan)," Megayanti dengan nada lirih.

Megayanti menambahkan, bersama banyak guru lainnya juga kesulitan mendapatkan sertifikasi guru. Padahal, secara administrasi, dia dan guru lainnya sudah mengerjakan administrasi sama dengan Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Jokowi bertanya, apakah semua itu karena proses birokrasi atau persyaratan yang berbelit.

"Dua-duanya," jawab Megayanti.

Megayanti mengaku syarat pendidikan S1 bagi guru sudah dipenuhi. Namun, saat ini, honor yang diterimanya masih jauh dari harapan.

"Paling tidak masa depan kami. Ya Allah Gusti. Istilahnya, perjuangan kami dihargai lah, Pak," keluh Mega.

Jokowi kembali mempertanyakan ikhwal pengajuan sertifikasi guru. Mega mengaku, dirinya berada di bawah naungan Kementerian Agama. Sehingga, sertifikasi diajukan ke Ditjen terkait di Kemenag.

Mega menjelaskan, salah satu syarat pengajuan sertifikasi di bawah naungan Kemenang yakni sudah mengajar sebelum tahun 2005. Sehingga, kata dia, guru-guru yang baru masuk setelah 2005 tidak bisa mengajukan sertifikasi.

Namun, sesudah lolos syarat administrasi, batu kerikil kembali dihadapi para guru. Ia mengeluhkan tes online dan pembiayaan untuk mengajukan sertifikasi.

"Misal, dari Pemalang ada yang ke Semarang. Dulu dibayar pemerintah, tapi sekarang bayar 50:50," tambah dia.

Tidak hanya itu, batas maksimal sertifikasi guru berusia 35 tahun. Sehingga, guru-gurur yang berumur di atas itu sulit mengajukan sertifikasi. (Medcom/OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More