Digitalisasi Alur Distribusi

Penulis: Hilda Julaika Pada: Kamis, 10 Jan 2019, 00:15 WIB Opini
Digitalisasi Alur Distribusi

DOK SimpliDOTS

PROSES distribusi kerap mengalami kendala, baik masalah prosedural ataupun kendala lapangan saat pengiriman dari distributor ke perusahaan atau pasar. Sayangnya, banyak distributor masih mengerjakannya secara manual.

Melihat kondisi itu, CEO dan Co-founder Simplidots, Jowan Kosasih, terpanggil untuk membuat sistem yang bisa mengatur distribusi secara digital. Bersama dua rekan sekampusnya, Hendy Sumanto dan Ginanjar Nugroho, mereka mulai merintis perusahaan yang memberikan sistem daring yang terintegrasi bagi distributor. Sistem distribusi mereka jadi lebih modern, akurat, efisien, dan efektif.

"Kita khusus untuk automation bagi distributor. Distributor kan banyak sales post, sales man, collector, lalu ada driver yang mengantarkan barang, biasanya kan di-handle sendiri. Kalau manual kan berarti mereka hanya catat-catat dibawa ke kantor, lalu diinput lagi. Nah, ini bisa diintegrasikan, kalau di lapangan kan bisa menggunakan aplikasi. Jumlah pengantaran, collector, dan sebagainya bisa dipantau dari aplikasi," papar Jowan Kosasih kepada Media Indonesia, pekan lalu.

Melalui layanan software as a service (Saas), klien Simplidots mendapatkan sejumlah fitur yang sangat membantu mereka, seperti distribution management, finance management, inventory management, tracking management, reporting, dan data analysis. Sistem ini tidak semata digunakan bagi mereka yang di kantor, tetapi juga di lapangan. Melalui aplikasi mobile, bisa digunakan karyawan penjualan (sales), kurir pengantar barang, hingga staf penagih utang untuk menjalankan tugas mereka.  

Disesuaikan
Dalam distribusi tidak lupa betapa pentingnya manajemen keuangan. Hal itu disadari Simplidots sehingga dijadikan salah satu fitur dalam Saas. Sistem keuangan yang disediakan pun disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan, seperti mengatur utang dan piutang, penagihan yang juga terkoneksi dengan aplikasi mobile, serta sistem pembayaran yang mudah digunakan.

Bicara distribusi pun tidak lepas dari manajemen stok barang. Perusahaan distribusi harus bisa memantau berapa banyak stok yang tersedia di gudang mereka. Terkadang tidak hanya di satu gudang, tetapi juga beberapa gudang. Kondisi itu disadari Simplidots sehingga fitur ini membuat manajemen bisa memantau alokasi stok penjualan tidak hanya di satu gudang, tetapi juga beberapa gudang sehingga lebih efisien. Tidak hanya menghitung, tetapi juga melihat pergerakan stok secara detail dan akurat.

Menariknya, dalam upaya untuk terus mengawasi jalannya distribusi di lapangan dan terhindar dari kesalahan, maka dihadirkan sebuah sistem bernama tracking system. Sistem ini diklaim menjadi keunggulan start-up ini. Manajemen yang ada di kantor bisa memantau posisi salesman atau pengemudi yang bertugas serta data dari lapangan pun bisa masuk ke kantor pusat dalam waktu cepat, tidak perlu lagi diinput saat tiba di kantor.

Cara itu membuat laporan bisa dilakukan cepat dan interaktif. Data-data dari lapangan akan diolah Saas dan disajikan dalam bentuk grafik sehingga lebih mudah dibaca. Anda pun tidak repot lagi membuat analisis, Saas pun secara periodik memberikan pengolahan data melalui fitur sistem analisis data. Data pun bisa diolah sesuai kebutuhan, seperti harian, mingguan, bulanan, atau tahunan. Semua data akan tersimpan di cloud.

"Untuk mengolah data transaksi, kita juga terdapat big data dan juga terdapat business intelligence-nya. Kita tampilkan secara grafik dan interaktif," tambah Hendy Sumanto.
    
B to B

Saat ini SimpliDots masih fokus pada distribusi B to B. Namun, mereka tengah mempersiapkan pengembangan sistem serupa untuk retail sehingga platform yang akan diluncurkan tahun ini akan menghubungkan antara retailer dan distributor.

Sudah ada 10 distributor yang menggunakan jasa mereka, dengan jumlah user yang beragam. Distributor kecil biasanya memiliki 10 user, sedangkan untuk distributor besar bisa mencapai puluhan hingga 50 user. Mayoritas distributor yang dilayani tersebut bergerak di bisnis fast moving consumer goods (FMCG) dan berlokasi di Sumatra Utara. Sisanya distributor di Pulau Jawa.

"Memang FMCG ini yang paling kompleks bisnisnya. Namun, kita tidak menutup kemungkinan untuk distributor yang lainnya," ujar Jowan.

Modal
Sebagai start-up baru, Simplidots berhasil mendapatkan modal pengembangan bisnis setelah menang di bootstrap GNB Accelerator pada 2017. Hingga saat ini bentuk-bentuk investasi masih terus diusahakan agar SimpliDots bisa terus berjalan dan semakin mengembangkan skalanya.

Berbicara mengenai keuntungan, Jowan mengaku saat ini belum memiliki fokus ke arah tersebut. Baginya, mereka fokus pada fase bagaimana memperkenalkan kepada pasar mengenai sistem alur distribusi yang efektif.

Saat ini hampir semua distributor di Medan menggunakan sistem mereka. Namun, mereka pun memperluas pasar mereka. Pasalnya, Jowan melihat  distributor akan bertransformasi menjadi logistic company. Dahulu alurnya itu dari principle ke distributor, lalu jual ke retailer. Ke depannya kemungkinan retailer-lah yang justru memiliki power. Atas dasar kesadaran ini, SimpliDots merencanakan untuk membangun platform guna memenuhi kebutuhan tersebut.

"Platformnya ini menghubungkan antara retailer dan principle lewat sistem kita. Jadi, distributor akan bertransformasi menjadi logistic company karena mereka memiliki aset, gudang, mobil, dan orang. Kita bisa fungsikan dstributor ini menjadi logistic company juga," tutur Jowan. (M-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More