Rabu 09 Januari 2019, 11:50 WIB

Konflik Terbaru di Myanmar Membuat Panik Pengungsi Rohingya

Konflik Terbaru di Myanmar Membuat Panik Pengungsi Rohingya

AFP

 

RASA panik kini menyelimuti ribuan pengungsi Muslim Rohingya yang tinggal di daerah tak bertuan di perbatasan Myanmar-Bangladesh menyusul terjadinya konflik terbaru antara pasukan keamanan Myanmar melawan pejuang etnis Rakhine.

"Pertempuran besar sedang terjadi antara pasukan pemerintah melawan pejuang kelompok Arakan di wilayah Myanmar. Situasinya sangat tegang," kata tokoh pemimpin Rohingya, Dil Mohammad.

Sedangkan tokoh komunitas pengungsi, Nur Alam mengatakan suara tembakan sering terdengar di malam hari di dekat kamp mereka. "Tiap malam suara tembakan semakin dekat. Pasukan penjaga perbatasan Myanmar sudah membangun 10 pos keamanan terbaru dekat kamp pengungsian. Ini membuat kami takut,' ujarnya.

Baca juga: Genosida Rohingya

http://dok.mi/images/bening.gifPasukan Myanmar pekan lalu memang membangun pos keamanan dan bunker baru menyusul baku tembak yang menewaskan 13 polisi Myanmar. Pos-pos dan bunker tersebut dibangun persis berdekatan dengan pagar perbatasan di sepanjang sungai dan dekat pula dengan gubuk-gubuk yang dihuni oleh sekitar 4.500 pengungsi Muslim.

Dalam pernyataan terbarunya, PBB mengatakan sangat "prihatin" dengan situasi di kawasan tersebut.

Ratusan ribu warga Muslim Rohingya telah meninggalkan Myanmar sejak militer Myanmar melakukan operasi keamanan di 2017. Kebanyakan dari mereka tinggal di kamp-kamp pengungsian di Bangladesh. Namun banyak pula yang hidupnya terkatung-katung di perbatasan karena mereka enggan tinggal di tempat pengungsian dan tidak mau pula kembali ke Myanmar.

Seorang pejabat Bangladesh menyatakan mereka sudah mengetahui kondisi tegang di perbatasan. "Kami akan merundingkan hal ini dengan pejabat terkait untuk membahas solusinya," ujar Kamal Hossain. (X-11)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More