Minggu 06 Januari 2019, 09:20 WIB

Widjo Kongko Menyikapi Kajian Tsunami dengan Proporsional

Ardi Teristi Hardi | WAWANCARA
Widjo Kongko Menyikapi Kajian Tsunami dengan Proporsional

MI/Ardi Teristi Hardi

SOSOK perekayasa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Dr Ing Widjo Kongko pernah menyampaikan hasil kajian tentang tsunami di Selatan Pulau Jawa bagian Barat. Namun, kajian tersebut bukan disikapi dengan melakukan kesiapsiagaan, melainkan malah dianggap menakut-nakuti, bahkan sempat dilaporkan ke kepolisian.

Akibat kejadian tersebut, Widjo Kongko pun sempat takut dan mempertanyakan, kenapa ilmu yang dipelajarinya selama ini yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mengantisipasi bila terjadi bencana malah dilaporkan ke kepolisian.

Ditemui di kantornya, di Kantor BPPT di Sleman, DIY, Kamis (3/1) siang, Widjo Kongko pun berbagi pengalaman tentang pengalaman penelitiannya tentang potensi tsunami.

Bagaimana cerita presentasi Anda yang dilaporkan soal potensi tsunami?
Waktu itu saya diundang sebagai narasumber oleh BMKG dan diminta berbicara tentang Jawa Barat bagian Selatan. Kalau ancaman tsunami, ya tidak ada lain, sumbernya dari aktivitas Gunung Anak Krakatau dan megathrust, lempeng raksasa dari hasil subduksi, yang ada di Selatan Jawa, Selatan Sumatra, dan Selat Sunda. Di megathrust itu sudah mengumpulkan energi yang (lama) belum lepas, magnitudonya besar.

Saat Anda menyampaikan kajian tersebut, kemudian ramai di masyarakat akibat ada salah satu media online yang mengganti kata potensi dengan prediksi. Bagaimana pendapat Anda?
Bayangkan, orang awam bahkan setingkat sarjana pun kalau mendengar memprediksi berarti sebentar lagi. Ngeri kan. Menurut saya, tidak tepat. Media harusnya meliterasi masyarakat, tidak hanya mencari rating. Media harusnya membuat berita yang proporsional, bukan untuk menakut-nakuti.

Setelah itu, Anda pernah dimintai keterangan polisi. Bagaimana ceritanya?
Setelah seminar, saya pulang (ke Yogyakarta). Saat boarding, saya ditelepon oleh Polda Banten karena mereka banyak dilapori ketakutan masyarakat. Itu semua karena ada berita yang missleading tadi. Saya bicara tidak seperti itu dan saya berbicara di forum yang resmi.

Saya kemudian diminta membuat video yang akan diviralkan untuk membantah itu. Setelah itu, sampai BPPT minta maaf dan menggelar press conference. Saya pun ditelepon beberapa kali oleh Polda untuk mengklarifikasi, hanya lewat telepon. Kami berkomunikasi dengan baik.

Apa yang Anda rasakan setelah peristiwa itu?
Saya sebagai peneliti atau perekayasa sempat takut. Saya sebagai peneliti dengan keahlian saya, kapasitas, integritas, dan kebebasan akademik. Saya S-2 dan S-3-nya belajar dan mempunyai keahlian tentang itu, tapi seolah-olah, mah, dipolisikan karena dianggap menakut-nakuti, mambuat resah, dan menurunkan kunjungan wisata.

Apa yang kemudian Anda pikirkan setelah peristiwa itu?
Saya menyayangkan setelah ramai-ramai soal itu, kemudian dianggap sepi. Padahal, potensi (tsunami) itu tetap ada. Harusnya Pemda siap, energi megathrust belum lepas. Ini omongan dari ahli. Tidak hanya saya yang ngomong, bukunya ada.

Tidak usah panik, tapi kemudian membuat program mitigasi bencana. Walaupun sumbernya lain (aktivitas vulkanis bukan tektonik), harusnya dibuat kesiapsiagaan setelah saya bilang di seminar itu sehingga masyarakat lebih siap.

Bagaimana sebaiknya sikap ketika ada penelitian tentang tsunami?
Di negara-negara maju, kebebasan akademik dihargai. Seharusnya dipanggil sebagai narasumber. Kalau rawan harusnya semua stakeholders siap. Saya pun akan membuat kajian detailnya, tapi beri waktu dan beri resources.

Bagaimana masyarakat menghadapi ancaman bencana tsunami?
Sebenarnya masyarakat lokal punya kearifan lokal tentang tsunami, tetapi tidak terdokumentasi dengan baik. Pemda harusnya menumbuhkan kembali kearifan lokal yang ada dan membuat program literasi dan mitigasi agar sadar bencana dan bisa evakuasi mandiri.

Ada berapa Megathrust  di Indonesia?
Dari buku peta gempa bumi yang diterbitkan 2017 oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman (Puskim), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, megathrust di Indonesia mungkin lebih dari 10.

Seperti apa potensi tsunami di Indonesia?
Daerah kita dua per tiga laut. Selain sumber hayati yang banyak, di laut juga ada potensi gempa bumi dan tsunami. Di Indonesia ada tiga lempeng aktif besar (lempeng Indo-Australia, lempeng Pasifik, dan lempeng Eurasia) yang saling menonjok ke sana-ke sini.

Akibatnya, sering menimbulkan banyak gempa bumi. Ketika di laut (dengan gempa berkekuatan besar) bisa menimbulkan tsunami yang besar. Tsunami di Indonesia lebih dari 100 kali dalam sekitar 400 tahun terakhir.

Sudah berapa banyak penelitian tentang tsunami?
Secara umum, peta ancaman tsunami yang basisnya kabupaten sudah dilakukan. Selain itu, banyak dari perguruan tingi dan kementerian atau lembaga yang melakukan penelitian tentang tsunami.

Sekarang tinggal peta itu diaplikasikan tidak oleh BPBD atau pemerintah daerah untuk kesiapsiagaan menghadapi bencana? Harusnya sudah ada pembuatan batas-batas inundations, rute-rute dan shelter evakuasi, masyarakat sudah dilatih, serta SOP-nya. Untuk industri pariwisata, seperti objek wisata, hotel, atau fasilitas publik yang vital, harusnya juga memiliki kontingensi plan atau mitigasi bencana.

Bagaimana dengan peristiwa tsunami di Selat Sunda?
Sistem peringatan dini tsunami (akibat aktivitas) vulkanis memang belum ada atau belum dibangun. Yang ada (sistem peringatan dini) yang penyebabnya gempa tektonik karena 90% tsunami akibat dari tektonik.

Bagaimana agar dari hulu siap dengan ancaman tsunami, terutama apabila kejadiannya seperti di Selat Sunda?
Sistem peringatan dini harus dibangun. Harus ada validasi di lapangan dengan alat-alat sensor. Kita pernah membuat, mempunyai, dan me-running alat itu, tapi tidak sustain karena mungkin mahal dan lain-lain. Harus dicari satu teknologi yang lebih murah atau setara tali serbaguna, misalnya tidak hanya untuk tsunami, tetapi juga navigasi atau pertahanan dan keamanan.

Bagaimana dengan pemasangan buoy untuk mendeteksi tsunami?
Ancaman tsunami itu di laut sehingga harus dipantau di laut, di permukaan air laut. Caranya bisa macam-macam, misalnya dengan satelit, kabel bawah laut, radar, dan dengan buoy. Untuk tsunami yang banyak dipakai buoy dan kabel bawah laut yang banyak dipakai di Jepang.

Berapa alat yang dibutuhkan untuk memantau tsunami?
Kalau menurut proposal yang pernah kami usulkan sekitar 20 sampai 23 buoy untuk area Indonesia. Yang jelas, membuat sendiri lebih murah daripada impor. Namun, operasional dan maintenance itu hal yang lain. Penggantian baterai dua tahun sekali. Karena lokasi buoy berada di tengah laut, butuh waktu satu hingga dua minggu.

Bagaimana melihat banyak tsunami yang terjadi di Selat Sunda?
Kita sangat sedih sejak 2004 melihat beberapa kali gempa bumi tsunami. Kita belajar terus. Sains-riset oke walau dengan anggaran tertatih-tatih dan sudah menghasilkan laporan, paper, hazard maps, dan usulan-usulan. Sekarang tinggal dipakai atau tidak itu untuk kebijakan untuk menentukan RT RW dan kesiapsiagaan masyarakat.

Apa yang harus dilakukan ke depan agar bisa meminimalkan korban akibat tsunami?
Kita harus meningkatkan sistem peringatan dini kita sampai ke masyarakat. Buoy hanya bagian yang kecil saja untuk menghadapi bencana, tetapi itu juga penting. Masyarakat harus melakukan latihan rutin dan Pemda harus memiliki kontingensi plan. (M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More