Kamis 03 Januari 2019, 11:10 WIB

BPBD Tasikmalaya Berikan Pelatihan bagi Sekolah Gunung

Kristiadi | Nusantara
BPBD Tasikmalaya Berikan Pelatihan bagi Sekolah Gunung

MI/Kristiadi

 

HUJAN deras yang terjadi diberbagai daerah di Jawa Barat berisiko menyebabkan bencana alam seperti banjir, longsor dan puting beliung. Kejadian tersebut tentunya harus tetap diwaspadai bersama semua masyarakat untuk saling menjaga. 

Pasalnya, selama kejadian itu terjadi bukan hanya dilakukan oleh search and rescue (SAR), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Polri dan TNI.

"Kami telah melakukan pelatihan terutama bagi pelajar Sekolah Gunung untuk antisipasi berbagai bencana seperti longsor dan banjir yang tentunya banyak menjadi lokasi tempat tinggal bagi masyarakat berada di Kabupaten Tasikmalaya. Karena, selama ini mereka telah hidup di kawasanperbukitan dan pegunungan yang mana bencana alam tersebut sering kali terjadi," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Anang Luqman, Kamis (3/1).

Anang mengatakan pelatihan tanggap darurat bencana bagi Sekolah Gunung dilakukannya di kawasan Karaha Bodas, Kecamatan Kadipaten dan Desa Bojongsari, Kecamatan Culamega. 

Tujuannya agar mereka bisa melakukan kewajibannya untuk pengurangan risiko bencana. Selain itu pelatihan ini diharapkan membuat masyarakat mampu menjaga alam dan peka terhadap potensi kebencanan.

"Sekarang ini kita merasakan krisis kepedulian masyarakat terhadap lingkungan alam sudah semakin menurun. Salah satu contoh kecilnya, kurang peduli terhadap lingkungan terutama dengan cara membuang sampah ke saluran aliran sungai. Hingga membiarkannya lereng pegunungan dan bukit mengalami gundul padahal lokasi tersebut sangat rawan longsor," ujarnya.

 

Baca juga: Titik Utama Longsor di Sukabumi Sempat Kembali Longsor

 

Menurutnya, data BNBP secara nasional Kabupaten Tasikmalaya menempati rengking ke dua wilayah yang memiliki indek kerawanan bencana. Tasikmalaya memiliki luas wilayah terdiri dari 39 kecamatan 351 desa dengan topografi memiliki dataran tinggi, pegunungan, aliran sungai hingga kawasan pantai yang langsung berhadapan dengan Samudra Hindia memiliki terjadinya rawan bencana alam.
 
"Kami meminta supaya masyarakat mencintai lingkungan sebagai penguatan pengetahuan dan informasi, artinya mereka harus memiliki rasa kesadaran terutama menjaga alam agar bencana tersebut tidak menyebabkan longsor dan banjir. Karena intensitas hujan akan terus terjadi hingga bulan Mei 2019 dan masyarakat juga harus memperbanyak tanam pohon," katanya.
 
Sementara itu, Kepala BPBD Tasikmalaya, Ivan Dicksan, mengatakan kesiapsiagaan di tahun 2019 tentunya harus tetap dilakukan supaya berbagai kejadian yang telah terjadi selama ini bisa ditanggulangi bersama. Karena, puncak turun hujan masih akan terus terjadi dan bisa menyebabkan berbagai bencana akan muncul antara lain, longsor, banjir dan pergerakan tanah.

"Kami meminta agar petugas BPBD, relawan, Pramuka, TNI, Polri, Karang Taruna harus tetap siap menghadapi ancaman terutama kejadian yang bisa berdampak pada longsor, banjir dan pergerakan tanah meskipun intensitas curah hujan puncaknya akan terjadi di bulan Januari dan Februari," paparnya. 

Menurut Ivan, anggaran tanggap darurat yang disiapkan pemerintah daerah ada penambahan sebesar Rp4,8 miliar meskipun di tahun 2018 lalu hanya senilai Rp2 miliar. (OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More