Selasa 24 November 2015, 00:00 WIB

Ketua Himpaudni: Banyak Guru PAUD belum Pahami Tahapan Calistung

Syarief Oebaidillah | Humaniora
Ketua Himpaudni: Banyak Guru PAUD belum Pahami Tahapan Calistung
 
Persoalan membaca menulis dan berhitung (calistung) yang tengah mendapat sorotan publik untuk tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sejatinya disebabkan masih banyak guru PAUD yang belum memahami tahapannya.

Hal tersebut dikemukakan Ketua Himpunan PAUD Non Formal dan Informal (Himpaudni) Netti Herawati saat menjawab Media Indonesia di sela-sela Simposium Guru di Istora Senayan, Jakarta, Senin (23/11).

Menurutnya, calistung di PAUD merupakan amanat Kurikulum PAUD juga Standar PAUD.

"Problemnya itu bukan pembelajaran calistungnya namun guru-guru PAUD belum memahami tahapan perkembangan, tahapan calistung. Belajar calistung itu sama dengan belajar berlari," cetusnya.

Ia menjelaskan ada banyak tahapan dalam belajar berlari. Mulai dari tidur telentang, miring, merangkak, duduk sender, duduk tegak, berdiri, merambat, melangkah, berjalan, lalu  berlari.
 
"Semua berpusat berada dalam suasana bermain yang menyenangkan. Nah, karena ketidaktahuan guru PAUD melakukan pembelajaran calistung secara akademik dan tanpa memperhatikan tahapan itu, akhirnya mengganggu psikis dan perkembangan komprehensif anak lalu berujung munculnya persepsi negatif anak terhadap calistung," papar Netti yang juga Guru Besar Pendidikan Universitas Riau (UNRI).

Hemat dia, semestinya pihak SD yang diminta untuk mencegah dan memberi sanksi pada SD yang mengetes anak dan meminta anak dapat membaca. Kemudian diikuti oleh SD yang beranggapan belajar membaca itu tugasnya PAUD. "Apa buktinya?" tanya dia.

Ia mengajak agar dilihat  buku pembelajaran SD kelas 1 yang kebanyakan buku-buku  Kelas 1 SD untuk anak-anak  yang sudah bisa membaca.

"Jadi, bukan disediakan buku anak yang belum bisa membaca. Nah, ini anak dan orang tua akhirnya menjadi stres," cetusnya.

Sejatinya, lanjut dia, PAUD itu konsentrasi terbesarnya untuk pengembangan sikap. Ia berkesimpulan mengapa PAUD mengajarkan calistung dengan cara salah yaitu pertama adanya demand atau permintaan dari SD dan orang tua. Kedua, guru PAUD belum kompeten sehingga calistung yang memang diamanatkan dalam Permendikbud No 137 tahun 2015 dan Permendikbud No 146 tahun 2014 dilaksanakan dengan  cara yang kurang tepat.

"Bayangkan dari hampir 700.000 guru PAUD  lebih kurang hanya 10% yang ikut Diklat Standar. Tidak sampai 30% dengan kualifikasi S1 yang notabene sebagian besar bukan S1 PAUD," ungkapnya.

Ketiga, pengawasan dan pembinaan guru PAUD masih lemah. Sebab itu, Netti menyatakan PP HIMPAUDNI paska mengikuti Uji Kompetensi Guru (UKG )2015 ini akan masuk pada Gerakan HIMPAUDNI melatih. Minimal ada 2.570 Relawan Pelatih di tingkat provinsi.

"Harapan kami pada pemerinta agar mengawal kompetensi dan kualifikasi guru sebelum menjadi guru. Menjadi persyaratan wajib.Sertifikasi itu hubungan utamanya dengan mutu bukan dengan  kesejahteraan .Sehingga setiap guru harus ikut sertifikasi karena  ini bicara kelayakan," tandasnya. (Q-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More