Sabtu 22 Desember 2018, 05:05 WIB

Trump Tarik Pasukan Menhan AS Mundur

Tesa Oktiana Surbakti | Internasional
Trump Tarik Pasukan Menhan AS Mundur

AFP

 

MENTERI Pertahanan Amerika Serikat (AS), Jim Mattis, mengundurkan diri di tengah gelombang protes setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan penarikan pasukan dari Suriah dan Afghanistan.

Trump berkukuh atas keputusan penarikan pasukan yang terbilang tiba-tiba serta bersumpah AS tidak akan lagi menjadi 'polisi Timur Tengah'. Keberadaan pasukan AS sebanyak 2.000 di Suriah dinilai tidak diperlukan, mengingat kelompok militan Negara Islam (IS) sudah dikalahkan.

Sosok Mattis sebagai pensiunan jenderal bintang empat membawa kekuatan moderat dalam kepemimpinan Trump yang cenderung impulsif. Akan tetapi, dia sulit menyembunyikan perbedaan pandangan dengan orang nomor satu di 'Negeri Paman Sam'.

"Bagaimanapun Anda berhak memiliki bawahan yang pandangannya selaras dengan Anda. Saya percaya, ini keputusan tepat untuk mundur dari jabatan," ujar Mattis dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Trump.

Dalam suratnya, Mattis mengutarakan perasaannya yang begitu tertekan. Pengunduran dirinya disebabkan perbedaan tajam dengan presiden serta aspek utama lainnya dalam kepemimpinan global AS.

Menyambung pesannya, Mattis menyampaikan pujian terhadap keberhasilan koalisi pimpinan AS dalam melawan IS. Begitu juga dengan kekuatan NATO, aliansi berumur 70 tahun yang mencakup regional Amerika Utara dan Eropa.

"Saya memandang penting untuk memperlakukan sekutu dengan respek. Termasuk memperjelas dan berbagi informasi mengenai aktor-aktor jahat dan pesaing strategis, dalam empat dekade terakhir," tulis Mattis.

Satu hari hari setelah Trump mengeluarkan keputusan mengejutkan terkait dengan Suriah, seorang pejabat AS mengungkapkan adanya isyarat untuk penarikan signifikan terhadap operasi militer AS di Afghanistan. Sebanyak 14 ribu tentara AS berjuang melawan Taliban di Afghanistan, yang merupakan perang terlama sebagai tanggapan terhadap serangan 11 September 2001. The Wall Street Journal melaporkan lebih dari setengah pasukan akan ditarik kembali.

Rusak kekuatan aliansi

Anggota parlemen AS di seluruh spektrum politik menyuarakan keprihatinan atas keputusan Trump. Penarikan militer AS seolah menandai kelahiran kembali IS. Kepergian Mattis pun menjadi alarm situasi administrasi pemerintahan yang sulit diprediksi sebab tidak ada lagi sandaran kuat.

Senator dari Partai Republik, Marco Rubio, mengatakan surat yang ditulis Mattis menyiratkan pesan besar. Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah menggiring AS jatuh ke jurang permasalahan. Selain merusak kekuatan aliansi, kebijakan yang salah berpotensi memberdayakan musuh.

Pemimpin Senat AS Mitch McConnell meminta Pemerintah AS memelihara pemahaman yang jelas mengenai teman dan musuh. Berikut, mengakui negara-negara seperti Rusia merupakan opsi terakhir.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly menyatakan koalisi internasional yang memerangi IS di Suriah tetap menyelesaikan tugas meskipun keputusan Presiden AS Donald Trump sangat serius untuk menarik pasukan Amerika dari Suriah. "Keputusan yang diambil Presiden AS mengubah banyak hal secara radikal," Florence Parly mengatakan kepada radio RTL.

Prancis akan mempertahankan pasukannya di Suriah utara karena menilai IS belum disapu bersih.

"IS belum disingkirkan sampai ke akar-akarnya, kantong terakhir organisasi teroris ini harus dikalahkan secara militer untuk selamanya," kata Florence Parly. (AFP/I-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More