Selasa 18 Desember 2018, 23:45 WIB

101 Peti Mati untuk HUT NTT

(PO/UL/N-2) | Nusantara
101 Peti Mati untuk HUT NTT

MI/PALCE AMALO

 

PEMERINTAHAN Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor B Laiskodat dan Yosef Nai Soe harus bisa menciptakan zero human trafficking dan zero korupsi di wilayah NTT.

Selain pemerintah, institusi keagamaan, lembaga pendidikan, sekolah, aparat hukum, media, dan masyarakat sipil harus ikut mendukung terciptanya zero human trafficking dan zero korupsi.

Penegasan itu disampaikan Paul Rahmat SVD sebagai juru hubung  Zero Human Trafficking Network dalam keterangan pers diterima Media Indonesia, Selasa (18/12).

Pernyataan Zero Human Trafficking Network ini terkait  dengan semakin banyak peti mati yang dikirimkan ke NTT. Hingga kemarin sudah ada 101 tenaga kerja asal NTT yang dipulangkan ke kampung halaman dengan peti mayat. Ini menjadi kado HUT ke-60 Provinsi NTT yang diperingati tiap 20 Desember sekaligus kado buat umat kristiani di NTT yang sebentar lagi merayakan Natal.

“Catatan Badan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia NTT, 99 orang meninggal. Tapi bisa jadi jumlahnya lebih dari 100 jika kita menghitung pekerja migran NTT yang meninggal di perkebunan sawit di Kalimantan, Sumatra, Papua, dan Malaysia,” kata Paul Rahmat.

Peti mati yang terakhir dikirim ke NTT kemarin berisi jenazah Vinsensius Darman, warga Kampung Cumbi, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur. Semula jenazah korban tidak dikenali dan tidak diakui, termasuk keluarganya karena menggunakan nama dan identitas palsu.

Sebelum jenazah datang, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia cabang Ruteng telah melakukan unjuk rasa dengan mengusung peti jenazah di depan Kantor Kejari Manggarai pada Sabtu (8/12) untuk memperingati Hari Antikorupsi Sedunia. Aksi ini merupakan gerakan simbolis telah terjadi tindak korupsi pemalsuan identitas.

Sodikin, ayah Sarifah, mengatakan Sarifah berangkat ke Jeddah melalui PT Khidmat El Kasab, perusahaan penyalur TKI yang berkantor di Jakarta Timur pada Juli 2002. Enam bulan setelah bekerja, Sarifah berkirim surat dan mengabarkan bahwa ia bekerja pada majikan bernama Yahya Ibrahim dan istrinya, Sofa yang tinggal di Jeddah. Namun, setelah surat itu, tidak pernah ada lagi kabar dari Sarifah. (PO/UL/N-2)

 

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More