Tenaga Edukator Diabetes Minim di Puskesmas

Penulis: Indriyani Astuti Pada: Minggu, 16 Des 2018, 19:59 WIB Humaniora
Tenaga Edukator Diabetes Minim di Puskesmas

Dok.MI

KEBERADAAN edukator diabetes sangat dibutuhkan, khususnya di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas. Puskesmas, sebagai garda terdepan menjaga kesehatan masyarakat menjadi tempat edukasi dan informasi bahwa diabetes sebenarnya dapat dicegah dan dikendalikan.

"Harusnya fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas punya edukator. Tempat pencegahan di sana, bukan kuratif atau obat," ujar Ketua Perhimpunan Edukator Diabetes Indonesia (PEDI) dr. Aris Wibudi SpPD, KEMD dalam acara sarasehan nasional PEDI di Jakarta, Minggu (16/12).

Baca juga: Perlu Peran Bersama Menjaga Ekosistem Batangtoru

Ia menyayangkan tidak semua fasilitas kesehatan punya edukator diabetes. PEDI mencatat, hanya sekitar 4000 tenaga edukator yang sudah diberikan pelatihan agar dapat memberikan edukasi pada pasien diabetes. Edukator diabetes, imbuhnya, tidak harus dokter, tetapi bisa perawat, ahli gizi, bahkan apoteker.

"Masalahnya banyak dari tenaga kesehatan yang tidak mendalami diabetes," imbuhnya.

Edukasi bagi penyandang diabetes, terang Aris, ialah bagian dari tidak terpisahkan dari empat pilar penatalaksana diabetes. Ia memaparkan empat pilar itu yakni edukasi, aktivitas fisik, pengaturan makan, pengobatan agar gula darah dapat dikendalikan dan apabila memungkinkan pemeriksaan gula darah mandiri oleh pasien.

Oleh karena itu, pelatihan mengenai edukator diabetes, terang Aris, sangat diperlukan karena tujuan utama dari edukasi ialah pasien bersedia mengubah gaya hidupnya menjadi lebih sehat. Selain itu, pasien paham pentingnya menjaga gula darah agar tetap terkontrol serta menjaga pola makan.

"Keberhasilan kendali diabetes harus oleh pasien. Bagaimana bisa terjadi kalau pasien mendapat edukasi yang benar," cetusnya.

Prevalensi diabetes di Indonesia, meningkat berdasarkan riset kesehatan dasar (riskesdas). Angka prevalensi diabetes pada orang dewasa dari 6,9% pada 2013 menjadi 8,5% pada 2018.

Baca juga: BMKG: Siklon Kenanga Bergerak Menjauhi Indonesia

Adapun, data dari Diabetes Atlas 2017, Indonesia masuk menjadi negara keenam dengan peyandang diabetes tertinggi, dan dua dari tiga yang terdiagnosis awalnya tidak mengetahui dirinya penyandang diabetes. Karena itu, menurut Aris, pencegahan penting agar masyarakat paham bahwa diabetes dapat dicegah dengan pengendalian faktor risiko supaya orang yang pre-diabetes atau punya risiko diabetes, tidak menjadi penyandang diabetes.

"Pengendaliannya dengan modifikasi gaya hidup. Jaga pola makan, olahraga dan cek kadar gula darah," pungkasnya. (OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More