Media Arus Utama kian Dibutuhkan

Penulis: Dhika Kusuma Winata Pada: Kamis, 13 Des 2018, 08:20 WIB Teknologi
Media Arus Utama kian Dibutuhkan

Pakar komunikasi politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Gun Gun Heryanto -- MI/ROMMY PUJIANTO

KEHADIRAN media sosial yang mulanya dianggap sebagai wahana baru bagi publik mengekspresikan pendapat dan memproduksi informasi kini menunjukkan tren negatif karena justru dipenuhi hoaks, ujaran kebencian, dan sentimen permusuhan antarsesama anak bangsa. Media arus utama seperti surat kabar dan televisi pun kian dibutuhkan.

Pendapat itu mengemuka dalam Seminar Nasional Peran Media Massa di Era Demokrasi Digital yang digelar The Habibie Center di Jakarta, kemarin. Pengamat media, Agus Sudibyo, mengatakan media sosial saat ini justru menampilkan ancaman bagi demokrasi. Hal itu tak hanya berlaku di negara-negara Barat seperti AS dan Eropa, tapi juga di Indonesia.

Medsos, ujar Agus, kini lebih dimanfaatkan untuk kepentingan politik memecah belah anak bangsa.

"Yang muncul di media sosial kita ialah caci maki dan permu-suhan. Media jurnalistik kian revelan saat ini di tengah derasnya hoaks. Kita makin membutuhkan institusi jurnalistik. Media sosial nyatanya tidak bisa menggantikan pilar demokrasi keempat yang diemban pers," ungkap anggota Dewan Pers periode 2019-2022 itu.

Menurutnya, medsos kini banyak dibanjiri informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Dia mengingatkan media arus utama untuk tidak mengikuti tren arus informasi yang beredar di medsos. "Problem media massa sekarang ialah justru mengikuti tren informasi dan isu di media sosial yang cenderung spekulatif. Ini harus dihindari."

Menurut dosen ilmu komunikasi Universitas Mercu Buana Jakarta Afdal Makkuraga Putra, medsos terbukti belum bisa efektif memberi sumbangsih positif bagi demokrasi Indonesia. Polarisasi masyarakat yang terbentuk melalui medsos justru kian mengeras. Hoaks dan ujaran kebencian pun terus muncul.

Afdal mengatakan media arus utama masih tetap bisa diandalkan sebagai penyedia informasi yang bertanggung jawab. Itu karena kerja-kerja jurnalistik telah terlembaga melalui proses verifikasi dan prinsip keberimbangan.

"Media sosial tidak berkontribusi positif bagi demokrasi kita karena hoaks kian mengancam. Peningkatan pengguna tidak menambah kesadaran bernegara karena polarisasi masyarakat tajam," ungkap Afdal.

Peran penting

Senada, pakar komunikasi politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Gun Gun Heryanto memandang peran media arus utama penting dalam meredam maraknya hoaks di medsos. Pasalnya, media arus utama memiliki sifat institusional sehingga hasil verifikasi yang nantinya dituangkan di setiap produknya dapat dimintai pertanggungjawaban.

Pertanggungjawaban itu, jelas Gun Gun, karena setiap instansi media arus utama yang telah terverifikasi dinaungi dan harus taat dengan aturan UU Pers. Hal itu berbeda dengan medsos yang sifatnya personal sehingga meski tetap dapat dimintai pertanggungjawaban, lebih ke ranah personal pembuat konten.

Meski begitu, Gun Gun mengingatkan media arus utama agar tidak terbawa dan mengikuti tren arus informasi yang beredar di medsos. Meski secara penyebaran medsos memang lebih unggul, media arus utama tetap memiliki tanggung jawab dalam hal verifikasi.

Agar dapat meyakinkan masyarakat akan konten yang dihasilkan, tutur Gun Gun, media arus utama harus mengedepankan kualitas sesuai kaidah jurna-listik. "Media harus bisa berimbang dan menjangkau seluruh aspek (cover all side). Setiap konten pemberitaan juga perlu menuangkan second opinion atau opini di luar pihak yang tengah dijadikan bahasan," jelasnya. (Njr/X-8)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More