Selasa 11 Desember 2018, 02:15 WIB

40 dan 212, Mistik dan Politik

Asep Salahudin Wakil Rektor IAILM Suryalaya Tasikmalaya Ketua Lakpesdam PWNU Jawa Barat | Opini
40 dan 212, Mistik dan Politik

Thinkstock

DALAM rangka memperingati arbain syahadah (40 hari kesyahidan) Imam Husain as, saya diundang Ijabi (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia) untuk menjadi narasumber bersama cendekiawan muslim KH Jalaluddin Rakhmat. Tema yang diminta ditelaah seputar angka 40 (arbain) dalam tradisi NU (Nahdlatul Ulama) dan tarekat.

Tentu saja dalam pandangan NU dan sufisme, angka itu bukan sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan bertautan di belakangnya dengan makna yang kompleks baik bersifat teologis, politis, sosiologis, atau mistis. Tidak hanya 40, dalam kebiasaan tahlilan juga diperingati hari ketiga, ketujuh, ke-100, dan ke-1.000. Ayat-ayat Tuhan terutama kalimat tauhid dibacakan, silaturahim dihidupkan, dan selepas itu makanan dihidangkan.

Annemarie Schimmel, seorang orientalis kenamaan dari Jerman, dalam The Mystery of Number (misteri angka-angka) menyelisik misteri di balik angka-angka.  

Lewat kemampuan survei literasinya yang kuat, Schimmel menggali fenomena angka-angka itu ditarik jauh sampai peradaban kuno, tradisi Yahudi, Kristen, Islam, atau dalam adat istiadat, cerita rakyat, kesusastraan, arsitektur, dan musik. Schimmel mengatakan betapa  simbolisme dan daya magis angka-angka telah melekat dalam sejarah kehidupan manusia. Ini juga yang menjadi asbabun nuzul mengapa sampai hari ini orang percaya terhadap angka keberuntungan dan selalu menghindari angka sial.

Makna 212
Tak mengherankan juga apabila gerakan 212, mereka berebut jumlah angka yang ikut menghadirinya. Delapan juta atau sebelas juta atau di bawah seratus ribu. Tidak ada alat ukur yang bisa menghitung mereka yang tengah reuni di Monas secara akurat, kecuali sekadar berebut angka untuk mendapatkan legitimasi umat. Selebihnya ialah komodifikasi agama untuk tujuan politik.

Benar apa yang dibilang sosiolog Ibnu Khaldun bahwa tidak ada sebuah kekuatan yang mampu menghimpun banyak orang kecuali ketika agama dijadikan sebagai isu utama. Agama sebagai atas nama. Gerakan 212 tak ada kaitannya dengan penghayatan iman, tapi sepenuhnya ialah urusan politik.

Pada angka 40 uniknya disebut juga Alquran sebanyak empat kali. Tuhan berfirman kepada Nabi Musa, "...maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam" (QS 7:142); seorang manusia mencapai kematangan ketika menginjak usia 40, hatta idza balagha asyuddahu wa balagha arbaina sannah (QS 46: 15). Bani Israil terlunta-lunta dalam kesesatan dan dihukum Tuhan selama 40 tahun.

Nalar matematika
Angka pada abad pertengahan menjadi perhatian para filsuf. Mereka mengembangkan kajian matematika bukan hanya untuk menentukan persoalan ritual (ilmu falak, waktu salat, atau hukum waris), melainkan juga sebagai pintu masuk dalam menyibak rahasia alam. Sebut saja, misalnya Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (780-850) yang menulis kitab aljabar, Al-Kindi menyampaikan rumus-rumus aritmetika, Al-Razi mempercakapkan tema manusia dan Tuhan dengan angka yang digali dari filsafat Pythagoras, Al-Farabi mengembangkan filsafat pancaran (emanasi) yang meneguhkan kesimpulan bahwa 'yang banyak' berawal dari 'yang satu', yang satu memancar menjadi tak terbilang. Ibnu Sina juga memanfaatkan matematika untuk urusan musik dan kedokteran.

Menurut seorang sufi Syibli, "Ketika Allah menciptakan angka-angka itu, Ia menyembunyikan maknanya, dan ketika Adam diciptakan dari tanah, makna itu diungkapkannya. Namun, Ia tidak menerangkan hal itu kepada makhluk mana pun, termasuk malaikat. Makna menjadi hal tersembunyi dan manusia tak henti menyibak setiap rahasia di baliknya. Sepanjang masa."

Era pascakebenaran (post-truth), salah satunya dicirikan bagaimana hari ini manusia dihimpunkan kekuatan angka yang dipadatkan dalam 'kecerdasan buatan' algoritma. Algoritma melambangkan ihwal konsep diri manusia yang sepenuhnya dirumuskan kekuatan angka yang telah menyatu dengan mesin teknologi internet yang terhubung satu sama lain secara global tanpa melihat lagi sekat budaya, agama, atau batas-batas negara.

Di sisi lain algortima juga menjadi sebuah gelembung yang semakin mengisolasi kita dan kita secara otomatis hanya dihubungkan dengan orang-orang yang sehaluan. Dalam algortima fanatisme menjadi tumbuh kuat karena orang hanya mau berkerumun dengan sesamanya dan menghardik liyan yang berbeda. Ali Pariser, aktivis internet, seperti dikutip The Economist menyebutnya sebagai fenomena filter bubble.

Empat puluh    
Dalam tradisi NU angka 40 tidak hanya menjadi bagian dari tahlilan, tapi juga ada banyak kitab kuning yang menggunakan judul 40. Sebut saja KH Hasyim Asy’ari menulis kitab Arba’ina Haditsan Tata’allaqu bi Mabadi’ Jam’iyyat Nahdlatul Ulama. KH Hasyim Asy’ari tidak saja mendirikan ormas NU, tetapi juga sekaligus membekali warganya dengan 40 hadis Nabi yang menjadi panduan jamaah NU agar mereka bisa hidup gembira lahir dan batin, bisa menyelesaikan persoalan agama dan negara dengan tetap berpijak pada keluhuran adab dan kemuliaan pekerti baik sebagai umat atau pun warga negara. Empat puluh hadis yang tidak hannya mempercakapkan pentingnya membangun kabaikan personal, tapi juga kebajikan publik, kesalehan individual sekaligus sosial.

Jauh ke belakang Imam Nawawi menulis Al-Arba'in An-Nawawiyah, sebuah kitab yang sangat terkenal di kalangan pesantren untuk memulai menghafal hadis-hadis Nabi sebelum beranjak ke kitab-kitab yang lebih tebal. Ulama lainnya juga menulis kitab arbain semisal Al-Ajurri, Al-Baihaqi, Ash-Shabuni, Al-Hakim, Ad-Daruquthni, Ath-Thabari, As-Suyuthi, dan Ibnu Hajar Al-Asqalani. Dalam tradisi ziarah ke kota suci Mekah, jemaah singgah di Madinah lagi-lagi berhubungan dengan salat 40 waktu secara berjemaah terus-menerus.

Secara kultural kita akan diperkaya juga dengan makna-makna yang digali dari kearifan lokal (terutama Jawa) tentang angka-angka itu. Kultur seperti itu tidak memperkeruh wajah keislaman, tetapi memperkaya khazanah keagamaan itu sendiri. Islamisasi yang dilakukan Wali Songo menampilkan pola akulturatif; keagamaan yang dipadukan dengan kelokalan.

Islam hadir dengan rupa yang inklusif sekaligus kosmopolit. Kearaban dan kenusantaran diposisikan tidak saling menafikan, tapi menjadi entitas yang mengambangkan etos dialog untuk membangun warna baru keislaman khas Indonesia. Umat beragama yang baik pada saat yang sama dipantulkan dalam kesediaan membangun jembatan perbincangan yang ikhlas lintas budaya dan lintas iman guna bersama-sama meretas rute kemanusiaan yang elok.
Ketika Islam Ahlul Bait memperingati 40 hari syahadah (martir) Imam Husain as pascatragedi Karbala, tentu memori kolektif yang diaktifkan agar kita merasakan makna derita, mencerap keagungan akhlak, dan mewarisi kemuliaan kemanusiaan. Bahwa penderitaan bukan hanya semestinya dihadapi dengan kesabaran tak tepermanai, melainkan juga perjuangan demi tegaknya nilai-nilai tidak boleh berhenti untuk tetap digelorakan.

01 dan 02
Di tahun politik seperti sekarang, dapat dipastikan angka 01 (pasangan Joko Widodo dan KH Maruf Amin) dan 02 (Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno) akan terus meneror jagat politik kita. Setiap kontestan dan tim sukses berkepentingan mempropagandakan bahwa angka merekalah yang paling keramat sekeramat-keramatnya, dan dapat mengantarkan bangsa menemukan kesejahteraan yang hakiki.

Angka 01 dan 02 kemudian ditafsirkan para pengikutnya secara politik bahkan mistik dan difabrikasi untuk disampaikan kepada kaum pemilih. Semua itu sahih dilakukan selama tidak mencederai akal sehat, tidak memainkan SARA, tetap menghormati perkawanan, tidak juga menebar fitnah, dusta, dan hoaks.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More