Minggu 02 Desember 2018, 03:50 WIB

Pesona Alam Taman Bumi Belitung

Rendy Ferdiansyah | Weekend
Pesona Alam Taman Bumi Belitung

MI/RENDY FERDIANSYAH

PULAU Belitung merupakan bagian dari Provinsi Bangka Belitung (Babel) yang memiliki pesona dan keindahan wisata alam yang tak kalah dari daerah lain di Indonesia. Karena keindahannya, pemerintah pun menetapkan Belitung sebagai satu dari 10 destinasi wisata baru setelah Bali.

Salah satu keunikan Pulau Belitung ialah adanya bebatuan granit yang berusia ratusan juta tahun. Ada pula berbagai peninggalan sejarah, khususnya pertambangan timah. Faktor-faktor tersebut membuat pemerintah, melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, menyetujui penetapan Geopark Belitung sebagai geopark nasional.

Geopark Pulau Belitung memiliki 12 geosite yang terletak di dua kabupaten, yakni Kabupaten Belitung dan Belitung Timur. Salah satu yang paling populer ialah Open Pit Nam Salu di Belitung Timur, dengan latar belakang sejarah pertambangannya.

Merasa penasaran dengan masa lalu bekas pertambangan timah terbuka itu, saya pun bertandang ke kabupaten yang berjuluk 'Negeri 1001 Warung Kopi' itu, akhir pekan lalu. Kebetulan, tengah berlangsung Festival Geopark Belitung III pada saat bersamaan.

Untuk menuju ke sana, saya menempuh perjalanan melalui jalur udara dari Bandara Depati Amir Pangkalpinang ke Bandara Internasional HAS Hanandjoedin Belitung dengan waktu tempuh 30 menit.

Setiba di bandara setempat, saya melanjutkan perjalanan via darat menuju lokasi Geopark Belitung. Sepanjang jalan, tampak pemandangan galian tanah yang menumpuk, menandakan dulunya ada aktivitas tambang timah di Belitung Timur.

Setelah selama 1,5 jam melalui jalan mulus nan berliku akhirnya kendaraan saya sampai di gerbang geosite yang bertuliskan Open Pit Nam Salu.

Stoven
Sebelum menapakkan kaki di Geosite Open Pit Nam Salu, dari kejauhan
sudah tampak menara menjulang setinggi 40 meter. Menara itu merupakan Stoven, atau tungku pembakaran smelter timah zaman kolonial Belanda.

Edukasi mengenai Stoven pun di mulai dari lahan seluas 5 hektare. Konon, dulunya terdapat jejak-jejak sejarah perusahaan pertambangan timah yang dibangun pada 1928 oleh GMB, perusahaan tambang asal Belanda.

Pada 1942, pertambangan tersebut dibom Jepang. Alhasil, bangunan-bangunan  yang ada hancur, rata dengan tanah. Hanya menyisakan satu dari dua Stoven yang ada sebagai satu-satunya saksi sejarah.

"Dulunya ada dua Stoven, tapi yang tersisa satu, dan ini menjadi bukti sejarah, bahwa pertambangan timah sudah ada sejak zaman Belanda di sini," kata Latino Cristian anggota Badan Pengelolaan Geopark Belitung.

Open Pit  
Puas mengeksplorasi menara Stoven, saya beranjak ke geosite Open Pit Nam Salu bersama ratusan pelajar, pramuka, dan dan sejumlah mahasiswa dalam dan luar negeri.  Untuk mencapai geosite di kaki Gunung Kik Karak itu kami menggunakan kendaraan roda empat. Setibanya di kaki gunung, kami bergegas turun dan berjalan kaki menyusuri lereng gunung sejauh 300 meter.

Papan informasi mengenai sejarah Open Pit seakan magnet yang menarik kami untuk berhenti dan mencari tahu sejarah tambang zadul itu. Dari sejarahnya, Open Pit ialah penambangan terbuka dan dalam pertama, bukanya hanya di Pulau Belitung, melainkan juga di Indonesia.

Tambang itu dubuka oleh perusahaan tambang kongsi Tiongkok pada 1906 di era NV Billiton Maatschappij (BM) dengan penambangan pertama sedalam 51 meter ditemukan urat timah baru dalam masa dua tahun pertama menghasilkan 1.617 pikul timah.

Kemudian, sejak 1945 operasi penambangan di lakukan Perusahaan Pertambangan Timah Belitung (PPTB) milik Pemerintah RI berkedudukan di Tanjung Pandan. Namun, berakhir pada 1985 dan kini menyisakan ceruk luas yang menganga dan menjelma danau.

Setelah mendapatkan kilasan sejarah Open Pit, kami pun melanjutkan perjalanan. Berbagai tumbuhan dan rindangnya pepohonan menyertai perjalanan kami. Jalanan rusak yang menanjak di tambah dengan medan bebatuan berwana kuning kemerahan yang licin membuat kami harus ekstra hati-hati agar tidak terpeleset.

Kerusakan jalan akibat terkikis air dari atas gunung menjadikan tantangan yang harus kami hadapi agar dapat mencapai lokasi geosite Open Pit Nam Salu. Namun, lelah terbayar ketika pandang mata yang tertuju pada hamparan lubang yang seakan seakan tersenyum lebar menyambut kedatangan kami.

Pemandangan unit bekas tambang jaman Belanda dengan danau berwarna hijau menjadi suguhan menarik yang dapat kami lihat. Pemandu pun mengingatkan kami untuk berhati-hati dan tidak terlalu dekat dengan bibir lubang eks tambang tersebut.

Pantai Burung Mandi
Tujuan saya selanjutnya di geopark ini ialah Pantai Burung Mandi, tempat berlangsungnya acara puncak Festival Geopark Belitung III.

Hamparan pasir putih dengan alunan ombak yang begitu tenang ditambah dengan desiran angin sepoi-sepoi menyambut kedatangan kami di sana. Umumnya pantai Burung mandi ini hampir sama dengan pantai lain yang di Pulau Bangka, tetapi uniknya terdapat puluhan perahu atau katir dengan berbagai warna yang ditambatkan nelayan di sepanjang pesisir pantai. Bentuknya tergolong unik karena rata-rata dibuat dari satu pohon. Pengerjaannya pun makan waktu berbulan-bulan.

Yang juga tidak kalah menarik ialah formasi batu di pantai ini, yang jika dilihat dari kejauhan, menyerupai kepala burung. Dari situlah nama pantai ini berasal.

Saat saya bertandang, suasana sangat ramai. Di samping ada kegiatan bersih-bersih pantai, ada pula pertunjukan hiburan dan seni budaya dalam rangka festival. Rupa-rupanya, festival ini diharapkan menambah kesemarakan Geopark Belitung sehingga kelak ia bisa ditahbiskan sebagai UNESCO Global Geopark.

"Sertifikat dari UNESCO akan menjadi daya tarik bagi para wisatawan untuk mengunjungi geosite-geosite yang ada di Belitung. Ini tentuknya akan berdampak positif bagi perekonomian warga setempat," ujar Ketua Umum BP Geopark Pulau Belitong, Dyah Herawati. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More