Rabu 07 November 2018, 14:55 WIB

Penguatan Rupiah Didukung Tumbuhnya Kepastian Ekonomi

Fetry Wuryasti | Ekonomi
Penguatan Rupiah Didukung Tumbuhnya Kepastian Ekonomi

ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

 

PENGUATAN nilai tukar rupiah terhadap dolar AS  terus terjadi dalam beberapa hari belakangan. Rupiah menguat hingga di bawah Rp15 ribu per dolar AS. 

Hal ini terjadi karena adanya kepastian ekonomi yang tumbuh akibat transaksi valas dan bergesernya sentimen global terhadap Indonesia.

Rupiah merujuk pada Bloomberg terpantau pada sesi II perdagangan Rabu (7/11) bergerak di 14.687,5 per dolar AS atau menguat 116,5 poin (+0,79%) dari penutupan hari sebelumnya di 14.804. Rupiah terpantau dibuka pada level 14,782,5. 

Pada hari ini Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) memasang pada angka 14.764 per dolar AS dari hari sebelumnya di 14.891.

Penguatan rupiah terpantau terjadi dalam waktu kurang dari seminggu. Pada awal November (1/11) lalu, rupiah masih tercatat berada pada 15.195 per dolar AS.

Beberapa kantor penukaran mata uang seperti VIP Money Changer dan Remittance mematok harga beli dolar di 14.720 dan harga jual dolar AS di 14.680. Sementara Money Changer Ayu Masagung mematok harga beli dolar pada 14.875 per dolar AS.

 

Baca juga: Rupiah Kembali Menguat Didukung Keyakinan Stabilitas Ekonomi

 

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Azami Ilman mengatakan, Bank Indonesia yang beberapa waktu lalu baru menerbitkan produk derivatif NDF (Non-Deliverables Forward) yang berdampak positif.

"Penerbitan produk derivatif NDF mendorong kepastian transaksi mata uang valas dengan kontrak jangka tertentu dan nilai tukar yang ditentukan di awal sehingga mendorong tumbuhnya kepastian ekonomi di tengah ketidakpastian perekonomian global," ujar Ilman, Rabu (7/11).

Ilman menambahkan, dari sisi eksternal, rencana dilakukannya perundingan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok berhasil menumbuhkan sentimen positif pada investor untuk kembali melakukan penanaman modal di negara-negara mitra dagang Tiongkok.

Adanya perang dagang yang cukup tegang pada beberapa bulan yang lalu mendorong investor untuk melakukan pertimbangan untuk menanamkan modalnya di Tiongkok dan juga negara mitra dagangnya.

"Hal ini, selain didukung oleh peningkatan bunga Bank Sentral Amerika Serikat, juga karena estimasi analisis dampak yang akan dirasakan Tiongkok dari pengenaan tarif dagang oleh pemerintah Amerika Serikat yang dikhawatirkan akan berpengaruh ke negara mitra dagangnya," urainya.

Pemerintah Indonesia dapat menjaga momen ini dengan terus mempertahankan performa positif di pasar NDF dan juga menjaga kondisi dalam negeri yang kondusif baik dari segi ekonomi maupun politik. 

Pemerintah harus bisa memastikan kondisi ekonomi dan politik dalam negeri dalam terus stabil sehingga tidak memunculkan keraguan bagi investor untuk menanamkan modalnya.

Dampak langsung dari perang dagang kepada Indonesia lebih banyak dirasakan di awal. Hal ini berdampak pada penurunan ekspor bahan input ke Tiongkok karena menurunnya kemampuan perusahaan di Tiongkok untuk mengekspor ke Amerika Serikat.

Namun hal ini tidak perlu dikhawatirkan kalau mereka sudah menemukan pasar alternatif pengganti Amerika Serikat, seperti Uni Eropa dan Asia Tenggara.

"Selain itu, adanya perang dagang memperparah ketidakpastian ekonomi, sehingga berimbas pada menurunnya ketertarikan investor dalam menanamkan modal di negara-negara dengan resiko lebih tinggi, seperti di negara pasar berkembang / emerging countries di mana Indonesia termasuk di dalamnya," tandasnya. (OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More