Riset Kesehatan Nasional 2018: Angka Stunting Turun

Penulis: Indriyani Astuti Pada: Jumat, 02 Nov 2018, 12:15 WIB Humaniora
Riset Kesehatan Nasional 2018: Angka Stunting Turun

ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

BADAN Penelitian dan Pengembangan Kesehatan telah menyelesaikan Riset Kesehatan Nasional (Riskesdas) 2018. Nantinya hasil tersebut akan diintegrasikan oleh Susenas yang sudah dikeluarkan pada Maret lalu.

Kepala Balitbang Kesehatan Siswanto memaparkan, riskesdas 2018 menunjukan adanya perbaikan pada status gizi balita di Indonesia. Proporsi stunting atau balita pendek karena kurang gizi kronik turun dari 37,2% (riskesdas 2013), menjadi 30,8% pada riskesdas 2018. Demikian juga proporsi status gizi buruk dan gizi kurang dari 19,6% (riskesdas 2013) menjadi 17,7%.

"Meski demikian, angkanya masih jauh dari target Badan Kesehatan Dunia (WHO) yakni 20%," ujar Siswanto di Kementerian Kesehatan, Jakarta, pada Jumat (2/11).

Ia menekankan Indonesia masih mengalami double burden untuk masalah gizi. Selain stunting, yang perlu mendapat perhatian yakni proporsi obesitas. Pada orang dewasa obesitas trennya semakin naik. 

Dari Riskesdas 2007 obesitas pada orang dewasa diketahui, sebesar 10,5%, kemudian pada Riskesdas 2013 menjadi 14,8% dan kembali naik pada riskesdas 2018 menjadi 21,8%. Sementara pada anak obesitas turun dari 11,8% (riskesdas 2013) menjadi 8% (riskesdas 2018).

"Obesitas anak-anak turun bukan berarti mengerti diet tapi karena stunting turun. Anak-anak itu diukur berat badan per tinggi badan akhirnya obesitas turun karena anak-anak yang tadi stunting sudah lebih tinggi," terang Menkes.

Selain status gizi, prevalensi penyakit tidak menular dan gangguan kesehatan jiwa sebaliknya justru mengalami kenaikan. Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi Penyakit Tidak Menular mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan Riskesdas 2013 antara lain kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, diabetes melitus, dan hipertensi. 

Prevalensi kanker naik dari 1,4% (Riskesdas 2013) menjadi 1,8% prevalensi stroke naik dari 7% menjadi 10,9% dan penyakit ginjal kronik naik dari 2% menjadi 3,8%. Berdasarkan pemeriksaan gula darah, diabetes melitus naik dari 6,9% menjadi 8,5%; dan hasil pengukuran tekanan darah, hipertensi naik dari 25,8% menjadi 34,1%. 

"Kenaikan prevalensi penyakit tidak menular ini berhubungan dengan pola hidup antara lain merokok. konsumsi minuman beralkohol, aktivitas fisik, serta konsumsi buah dan sayur," kata Siswanto

Pengumpulan data riskesdas dilakukan pada 300 ribu sampel rumah tangga (1,2 juta jiwa). Hasilnya menggambarkan data dan informasi yang memperlihatkan wajah kesehatan di Indonesia. 

Data tersebut, kata Menkes, akan dijadikan acuan untuk menyusun rencana kerja dari pembangunan nasional ataupun rencana strategis kesehatan. Setiap kabupaten/kota, kata Menkes, memerlukan intervensi berbeda. (OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More