Minggu 06 September 2015, 00:00 WIB

Identitas jamaah Haji tidak Menolong dari Tersesat

Fetry Wuryasti | Humaniora
no-image.jpg
 
Wakil Ketua Komisi VIII Fraksi PKS DPR Ledia Hanifa Amaliah memantau musim haji 2015 M/1436 H dan menemukan meski jamaah haji Indonesia paling banyak mengenakan atribut seperti slayer, mukena, topi dan sandal, nyatanya tidak mempermudah pengembalian mereka yang tersesat saat ibadah.

"Selain atribut berwarna warni, identitas jamaah Indonesia yang melekat adalah gelang bertuliskan kloter & status kesehatan. Namun tidak lekas otomatis mudah mengantar jamaah yang tersesat. Sukar mecocokan kloter dengan pemondokan," ujarnya saat dihubungi, hari ini.

Sebabnya antara lain keterlambatan penyelesaian visa berakibat pada rentetan pelayanan di Saudi. jamaah harus dikelompokan ulang, untuk tinggal dan pembagian kamar.

"Ada kopernya sudah tiba, jamaah belum punya visa. Ada jamaah sudah tiba, passportnya tertukar dengan jamaah lain. Ada jamaah yang dimajukan keberangkatannya untuk mengisi kekosongan yang belum punya visa. Namun ini berakibat saat tersesat gelang & alamat mereka tidak match," jelasnya.

Sedangkan petugas sektor khusus Masjid Nabawi (Madinah) yang posnya di pintu 18, lanjut Ledia, jumlahnya sedikit. Sementara jamaah tersesat banyak.

Selain tersesat, masalah kesehatan juga mulai melanda calon jamaah haji. Apalagi jika 1/3 jamaahnya lansia. Ini membuat dokter harus berkeliling mencari pasiennya. Ditambah memang pemerintah Kota Madinah melarang membuka semacam posko kesehatan. Jadi jamaah yang sakit datang ke kamarnya dokter untuk diperiksa atau sebaliknya.

"Tidak memadai proporsi yang mengeluh masalah kesehatan dengan petugas kesehatan per kloter. Satu 1 dokter dengan 2 perawat untuk sekitar 400 org. Kalau satu kloter satu hotel masih memudahkan, tapi kondisi ada kloter terbagi2, misal SOC25 di 3 hotel. JKS23 di 4 hotel. Seharusnya sudah ada bimbingan kesehatan 1 tahun sebelum berangkat,"

Bimbingannya antara lain menjaga asupan makan dan minum dalam cuaca panas dan jumlah orang yang banyak. Sebab dehidrasi banyak menimpa lansia karena mereka takut sering ke kamar mandi.

"Saya sampai shocked waktu ditanya "ini di Arab ya?" oleh jamaah yang mengalami dehidrasi,"

Selain itu, banyak jamaah lansia tanpa pendamping. Padahal, ujar Ledia, kebijakan kementrrian agama pendamping sudah harus daftar minimal 2 tahun sebelumnya. Ini menjadi sulit di lapangan ketika ada jamaah yang sudah terbaring di tempat tidur tak ada yang mendampingi, akhirnya mereka ketergantungan pada jamaah lain yang akan beribadah.(Q-1)

Baca Juga

DOK KEMEN PUPR

Kemen PUPR Rapid Test 532 PKL, Petugas Kebersihan, dan Parkir di

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 12 Agustus 2020, 19:16 WIB
Menurut Anita, 532 orang yang mengikuti rapid test tersebut terdiri 325 dari PKL dan 207 juru parkir dan petugas kebersihan di lingkungan...
MI/MOHAMAD IRFAN

Tiada Lagi Kura-Kura Leher Ular Punah di Rote Ndao

👤Palce Amalo 🕔Rabu 12 Agustus 2020, 18:53 WIB
Namun spesies tersebut ternyata masih ada di sejumlah kebun binatang di luar...
Antara

Jokowi Minta Pramuka Inisiasi Gerakan Disiplin Protokol Kesehatan

👤Andhika Prasetyo 🕔Rabu 12 Agustus 2020, 18:50 WIB
"Jika gerakan kedisiplinan dan kepedulian ini terus kita jalankan, insya Allah kita bisa menghambat penyebaran covid dan mengurangi...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya