Minggu 29 Maret 2015, 00:00 WIB

Pranikah atau Prawedding?

NINAWATI SYAHRUL, Peneliti Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa | Humaniora
Pranikah atau Prawedding?

ANTARA/Jessica Wuysang

 
BEBERAPA pekan lalu, saya pernah mendapat kiriman beberapa lembar foto dari salah seorang teman yang akan menikah. Penampilan kedua sejoli itu tampak ceria dan anggun. Setelah membolak balik foto itu, ada sesuatu yang menggelitik. Pada foto itu tertera tulisan pra-wedding. Tidak lama kemudian ada teman berkomentar. Rupanya dia terusik tentang pemakaian kata yang benar: pra wedding, prewedding, atau pre-wedding? Teman saya yang usil itu bahkan menawarkan alternatif lain, pranikah.

Dalam berbahasa memang sering kita menemukan pemakaian kata yang tujuan atau artinya sama, tetapi penulisannya berbeda. Anehnya, para pengguna bahasa memakainya secara bergantian dengan tidak memedulikan penulisan yang benar. Sekadar contoh, ada orang menuliskan kharisma yang seharusnya karisma, resiko mestinya risiko, dan otentik yang tulisan bakunya adalah autentik. Hal yang sama juga terlihat pada pemilihan kata praweding, prewedding, atau pre-wedding.

Ketiga kata yang dicontohkan itu sama-sama dibentuk dari kata wedding dan pra atau pre-. Khusus untuk kata prawedding, ada hal yang menarik sebagai bahan perbincangan. Di dalam prawedding, unsur pra adalah bentuk terikat yang sudah diterima sebagai kosakata Indonesia yang digabungkan dengan wedding (Inggris). Sesuai dengan kaidah ejaan, jika unsur kosakata Indonesia diimbuhkan pada kosakata asing, penulisannya mestinya pra-wedding sebagaimana men-charter dan di-booking. Perihal pre-wedding penulisannya juga masih kurang tepat. Karena sama-sama berasal dari kosakata asing, pre dan wedding seharusnya dirangkaikan sebagaimana prewedding outdoor.

Masalahnya sekarang mengapa kita harus menggunakan istilah asing, prewedding? Apakah tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia?

Adakah kaitannya dengan sikap bahasa atau sikap budaya yang menomorduakan produk anak negeri jika dibandingkan dengan produk asing?

Bisa jadi! Sebagaimana kita ketahui, dalam bahasa Indonesia prefiks prebersinonim dengan pra yang sama-sama berarti 'sebelum'. Kata asing, wedding, searti dengan nikah atau kawin.Oleh karena itu, prewedding akan lebih baik jika diterjemahkan menjadi pranikah sebagaimana penulisan prakata, prabayar, prapilkada, dan prasejarah. Perlu dikemukakan bahwa dalam bahasa Indonesia ada sejumlah unsur atau bentuk terikat yang bersumber dari bahasa asing, misalnya non-, inter-, semi-, sub-, trans-, tri-, catur-, panca-, anti-, infra-, termasuk pra-. Setelah bentuk terikat itu berterima sebagai kosakata Indonesia, kedudukan dan sistem ejaannya diperlakukan seperti penulisan prefiks, misalnya nonstop, caturwulan, pascabayar, internasional, pancalogam, transformasi, semiprofesional, dan subtema. Jika unsur terikat itu dilekatkan pada kata yang berhuruf awal kapital, perlakuannya juga seperti penulisan prefiks, misalnya ber-Pancasila dan di-PN-kan. Jadi, pasca-, non-, pro-, dan anti yang diimbuhkan dengan nama diri atau singkatan akan menjadi seperti pascaSumpah Pemuda 1928, non-Amerika, pro-ASEAN, dan anti-ISIS. Kerapian berbahasa itu tentu tidak akan terganggu apabila kita memahami kaidah ejaan dan tidak enggan membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).






Media Indonesia
menerima kiriman artikel yang terkait dengan bahasa, dengan panjang naskah 440 kata dan berformat .doc (word document). Naskah dikirim ke alamat surat elektronik bahasa@mediaindonesia.com.

EMAILbahasa@mediaindonesia.com

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More