Rempah yang tak Remeh

Penulis: Abdilah M Marzuqi Pada: Minggu, 21 Okt 2018, 04:30 WIB Weekend
Rempah yang tak Remeh

DOK. BRAM KUSHARDJANTO

KAMIS dua tahun lalu menjadi hari istimewa, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia. Mereka satu per satu datang ke sebuah depot jamu di bilangan Jakarta Selatan. Siang menjelang sore, para peminat kajian tentang sejarah keindonesiaan bertatap muka untuk saling berbagi dan belajar bersama.

Begitulah ingatan Kumoratih Kushardjanto mengenang kejadian dua tahun lalu, ketika Jaringan Masyarakat Negeri Rempah melakukan kumpul bulanan perdana pada 17 Agustus 2016. "Jadi 2016 yang kami buat adalah kumpul bulanan. Cita-citanya setiap bulan kita kumpul, kita bicara tentang keIndonesiaan dari segala perspektif, entry point-nya jalur rempah," kenang pendiri Jaringan Masyarakat Negeri Rempah (JNMR) Kumoratih Kushardjanto.

Semua boleh datang. Semua boleh bergabung. Tidak ada batasan untuk mereka yang datang. Mereka yang berminat hanya perlu datang. Siapa pun dari latar belakang apapun boleh bergabung. Meski acara diadakan di kafe atau tempat makan, mereka tidak perlu membayar untuk mengikuti acara. Mereka hanya cukup hadir sembari menyediakan sendiri kebutuhan makanan. "Kalau mau datang, datang. Enggak bayar. Beli saja makanan sendiri," terang Ratih.

Bulan berikutnya, acara serupa diadakan kembali. Menang jumlah peserta berkurang dari 17 orang menjadi 15 orang. Namun uniknya, yang datang justru berbeda dengan sebelumnya. "Yang datang sekitar 15 orang, mungkin berbeda dari yang sebelumnya datang. tapi kan itu jadi orang lain lagi, nambah lagi, teman baru lagi," terus Ratih ketika ditemui di bilangan Jakarta Pusat, Kamis (18/10).

JNMR adalah komunitas simpul tempat para pemerhati dan penyuka rempah Indonesia. JNMR didirikan pasangan suami-istri, Bram Kushardjanto dan Kumoratih Kushardjanto.

Cikal bakal JNMR dapat dirunut dari 10 tahun lalu, sekitar 2007. Ketika itu mereka hanyalah penghobi travel sekaligus pencinta sejarah. Setiap melakukan travel, mereka mempunyai tema tersendiri. Banyak tema yang telah dilakonkan, salah satunya jalur rempah. Tema terakhir itulah yang kemudian mengilhami dan dijadikan nama komunitas.

"Kalau komunitas itu justru munculnya 2016. Tapi sebelumnya adalah komunitas yang sangat cair teman-teman yang suka travelling. Jadi waktu itu kita belum punya kesadaran bahwa ini sebuah komunitas jalur rempah. Tapi lebih pada komunitas travelling yang melakukan perjalanan ke berbagai tempat untuk belajar tentang Indonesia. Nah, salah satu temanya adalah Jalur Rempah," terang Ratih.

Eksplorasi cengkih

Pada 2016, JNMR memulai langkah baru dengan munculnya logo JNMR dalam pameran multi aktivitas bertajuk Negara Bahari Sriwijaya di Palembang.

"2016 itu logo JMNR pertama muncul di Palembang," tambah Bram.

Salah satunya, mereka khusus melakukan perjalanan Ternate Tidore pada 2013-2014, untuk mengeksplorasi cengkih. Tidak hanya narasi sejarah yang mereka eksplorasi, tetapi juga penyebaran dan kegunaan.

Rempah juga menjadi bagian dari keseharian masyarakat dan penjadi unsur tak terpisahkan dari sebuah peradaban masa lampau. Mereka juga telah terlibat di acara bertema rempah salah satunya pameran rempah di Museum Nasional Indonesia pada 2015.

Penyematan kata jaringan sebagai awal juga mempunyai dasar. Mereka ingin menjadi simpul lintas komunitas. Mereka menjembatani dan mempertemukan antara satu komunitas dengan komunitas lain, orang satu dengan orang lainnya. "Karena kami yakin sekali yang punya passion untuk belajar gak cuma segelintir orang saja. Kami cukup percaya bahwa teman-teman ini di segala penjuru Indonesia pasti mereka juga punya spirit yang sama untuk belajar tentang Indonesia. Tapi selama ini mungkin tidak ada aksesnya," imbuh Ratih.

"Terus tidak semata-mata komunitas yang artinya komunitas. Ini juga bukan komunitas yang "berkegiatan", jadi mereka yang memang minatnya di penelitian, segala macam ya ketemu, gabung," tambah Bram pada kesempatan yang sama.

Ratih dan Bram percaya bahwa banyak di antara masyarakat Indonesia yang memiliki pengetahuan tentang rempah meskipun hanya sepotong demi sepotong. Pengetahuan tentang rempah juga dimiliki masyarakat luas ketika mereka menggunakannya untuk memasak, pengobatan, seni, tradisi, ritual, kebugaran, hingga kecantikan. "Jadi bagaimana rempah itu memaknai kehidupan masyarakat setempat itu," tegas Ratih.

Justru itulah yang menjadikannya yakin untuk jejaring lintas komunitas yang menjadi wadah bagi mereka untuk saling berbagi karena ia melihat belum ada jembatan untuk mempertemukan mereka.

Meski setiap kegiatan JMNR diikuti banyak orang, JMNR tidak pernah membuat catatan tentang jumlah anggota yang tergabung. Sebaliknya, mereka malah mempunyai data tentang komunitas yang masuk jejaring.

"Jadi kami melihatnya sebagai jaringan kerja. Jaringan komunitas," terang Bram.

Saat ini terdapat 30an komunitas yang masuk jejaring dari penjuru Indonesia, seperti Ternate, Tidore, Semarang, Jakarta, Bandung, Palembang, dan Gorontalo.

JNMR juga banyak memberi tempat kepada generasi muda untuk terlibat aktif dalam setiap kegiatan. JNMR menolak anggapan bahwa generasi saat ini tidak menggenal sejarah, historis. Yang sebenarnya ialah generasi milenial tidak mendapat akses banyak informasi dengan bahasa yang populer atau cara yang lebih mudah.

Bagi mereka rempah bukan hanya milik profesi tertentu atau golongan tertentu. Semua ialah bagian dari masyarakat negeri rempah, yakni Indonesia.

Sering kali rempah dipandang remeh hanya karena gampang ditemukan dan menjadi bagian dari keseharian. Padahal, rempah bukan remeh. Ada sumbangsih besar dari rempah untuk negeri ini. Indonesia banyak mengambil keuntungan dari rempah yang subur di setiap jengkal wilayahnya. "Artinya rempah itu kan sesuatu yang sering kali kita take it for grand it. Kencur, jahe, apa sih yang remeh temeh? Tapi ketika keseharian yang remeh temeh itu diberi bingkai yang besar, jalur rempah, narasi besar tentang Indonesia. Itu jadi seksi sekali. Akhirnya banyak juga yang ingin merayakan," pungkas Ratih. (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More