Pemerintah Akui Banyak Korban Bencana Sulteng belum Terima Bantuan

Penulis: Golda Eksa Pada: Senin, 15 Okt 2018, 16:40 WIB Nusantara
Pemerintah Akui Banyak Korban Bencana Sulteng belum Terima Bantuan

ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

MENTERI Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto tidak menampik informasi bahwa banyak korban terdampak bencana di Sulawesi Tengah yang belum menerima bantuan. Kondisi infrastruktur dan minimnya transportasi ditengarai sebagai kendala lambannya distribusi bantuan tersebut.

"Masalah bantuan-bantuan yang dikabarkan cukup banyak tapi, kok belum diterima masyarakat? Saya kira harus dikoreksi. Belum seluruhnya diterima. Mengapa? Karena sistem transportasi yang cukup berat ini," ujar Wiranto kepada wartawan di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (15/10).

Ia mengemukakan, bantuan yang diberikan cukup banyak dan bukan setara kilogram, namun sudah mencapai puluhan ton. Artinya, terjadi hambatan di lapangan, seperti bongkar muat manual yang cukup menyita waktu, pengangkutan dari lapangan ke gudang, serta pemindahan logistik tersebut dari gudang ke truk.

"Kita menginginkan dari pesawat langsung ke truk, tapi tidak mungkin. Itu butuh suatu tenaga manusia yang cukup besar. Padahal kita sudah mengerahkan pasukan TNI, Polri, untuk membantu tapi juga tidak cukup."

Solusi terbaik untuk mengatasi persoalan itu, sambung dia, hanya dengan menggunakan alat angkut mekanis, yaitu forklift. Kendaraan tersebut dipastikan dapat membantu untuk proses pembongkaran dan pengangkutan barang, sehingga bisa lebih cepat didistribusikan kepada seluruh korban.

"Sekarang dari Amerika membantu 2 forklift. Pak Wapres Jusuf Kalla juga sudah memerintahkan PT Pelindo I segera mengirimkan forklift-nya. Mudah-mudahan itu akan membuat permasalahan di lapangan menjadi berkurang," pungkas dia. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More