Guru Terduga Penyebar Doktrin Anti-Jokowi Dinonaktifkan

Penulis: Nur Azizah Pada: Jumat, 12 Okt 2018, 18:20 WIB Megapolitan
Guru Terduga Penyebar Doktrin Anti-Jokowi Dinonaktifkan

Ilustrasi

 

GURU SMA 87 Jakarta Nelty Khairiyah dinonaktifkan sementara. Nelty diduga melakukan doktrin pada para siswanya untuk tidak memilih Presiden Joko Widodo di Pilpres 2019.
 
"Kepala sekolah sudah mengeluarkan surat untuk dia, sementara tidak diaktifkan dulu mengajar," kata Kepala Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Ari Budiman, saat dihubungi, Jakarta Pusat, Jumat (12/10).
 
Ari mengatakan Nelty dinonaktifkan selama pemeriksaan Inspektorat DKI.

"Setelah ada konfirmasi baru nanti jelas apa langkah-langkah yang dilakukan," ujarnya.
 
Ari menuturkan, bila Nelty terbukti melakukan doktrin, dia terancam dijatuhi sanksi maksimal diberhentikan. Namun, dia belum bisa memastikan.
 
"Sanksi terberat yang keluarkan Inspektorat itu diberhentikan. Tapi proses belum terlihat terbukti tidaknya. Makanya saya belum berani sampaikan seperti apa sanksinya," jelas Ari.
 
Dugaan doktrin di sekolah beredar setelah seorang ibu menceritakan kejadian itu ke akun Facebook. Anaknya didoktrin untuk membenci Presiden Joko Widodo.

Doktrin ini bermula ketika Nelty mengumpulkan siswa dan memperlihatkan video gempa dan tsunami yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah. Di tengah penayangan video itu, dia bertanya penyebab musibah tersebut.
 
"Kemudian ibu guru itu bertanya kepada muridnya. Ini salah siapa? Salah pemerintah. Salah Jokowi," kata orang tua murid itu meniru ucapan guru.
 
Nelty pun meminta siswanya tidak memilih Jokowi di Pilpres mendatang. Cerita ini kemudian viral di media sosial. (Medcom/OL-1)
 

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More