Selasa 02 Oktober 2018, 12:00 WIB

Ulasan film: Aruna & Lidahnya, Tentang kekayaan Makanan dan Kegagapan Perasaan

Fathurrozak | Weekend
Ulasan film: Aruna & Lidahnya, Tentang kekayaan Makanan dan Kegagapan Perasaan

Palari Films
Poster film Aruna & Lidahnya.

SETELAH banyaknya acara kuliner di televisi akhirnya datang juga film yang mengangkat kekayaan kuliner Indonesia. Namun Aruna & Lidahnya, yang tayang perdana 27 September 2018 ini bahkan menawarkan lebih.


Film karya sutradara Edwin ini membuat kekayaan kuliner itu sebagai perekat kisah petualangan-persahabatan-sekaligus kisah cinta empat orang urban. Aruna, ahli wabah (Dian Sastrowardoyo) berteman dengan cheff Bono (Nicholas Saputra), juga si penulis buku kuliner Nadezhda (Hannah Al Rashid). Sementara pada sisi lain, ada seorang Farish (Oka Antara) mantan teman sekantor Aruna, yang ditaksirnya diam-diam.


Penokohan keempatnya sangat kuat melalui dialog rileks natural. Juga tampak dapat dukungan meyakinkan dari karakter fesyen yang mereka kenakan.
Aruna yang menggemaskan dengan stelan rok juga tatanan rambutnya yang memvisualkan kematangan usia. Bono dengan gaya fancy namun easy going khas pria urban, juga Nad yang menurut Aruna, sosok asli makanan berjalan. Sementara Farish, kita bisa menebak ia orang yang kaku, sosok pria maskulin dengan pilihan kemeja monoton.

Plot film yang diangkat dari novel karya Laksmi Pamuntjak yang berjudul sama ini membawa kita pada titik Aruna yang didampingi Bono untuk melakukan tugas investigasi tentang wabah flu burung, ke beberapa kota. Niatnya, di sela pekerjaannya Aruna dan Bono ingin kulineran. Juga Nad yang tiba-tiba muncul, karena telah mendapat undangan dari Bono untuk ikut serta. Namun, tidak setiba-tiba Farish yang mengagetkan Aruna, karena ternyata ia juga muncul saat permulaan tugas investigasi.
Aruna yang berusia matang dan masih lajang ini, tetap punya perasaan untuk Farish. Di sini kita disuguhi roman percintaan dewasa. Seperti kategori usia penontonnya. Bagaimana salah tingkahnya Aruna pada Farish, atau gaya 'secret admirer' Bono untuk Nad. Sementara Nad yang percaya diri dengan gaya percintaan yang terbuka dan tidak memusingkan norma.


Selain unsur makanan yang menggugah selera lapar kita, persona penokohan dengan kerakusan dialog mereka tentu jadi tulang punggung Aruna & Lidahnya. Dari perjalanan hingga ke empat kota, membawa topik-topik obrolan yang beragam. Kuliner, tugas kantor, korupsi rekayasa pengadaan alat kesehatan, dan perasaan yang belum tuntas.
Film makin 'berbumbu' dengan sentuhan-sentuhan cerita absurd khas Edwin. Seperti ciri pada film-filmnya yang lain, sebelum ia nyemplung ke film komersil saat memulai Posesif.
Absurditas itu muncul seperti ketika Aruna memeras jeruk nipis yang diambilnya dari kulkas dan rasanya asin, atau kehadiran pasien rumah sakit pada disko kapal yang disambangi Bono dan Nad. Namun, film ini juga punya kelas humorisnya lewat gaya penuturan narasi Aruna, yang menjadikan komedik, juga guyonan yang tercecer di setiap perbincangan lingkaran keempat aktor utamanya.


Pada akhirnya, usai perjalanan panjang itu, harus terhenti. Terantup pada suatu sengat yang membongkar semuanya yang ikut membawa penonton berpikir tentang ha-hal yang sebenarnya dekat dengan diri kita sendiri. Jadi memang film ini bukan hanya menggugah selera namun juga perenungan. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More