Kamis 30 Agustus 2018, 01:45 WIB

Sribulancer Angkat Kelas Pekerja Lepas

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
Sribulancer Angkat Kelas Pekerja Lepas

MI/Adam Dwi

 

MENCARI pekerjaan yang tepat atau mendapatkan pekerja freelance dengan keahlian khusus itu sama sulitnya bagi sebagian orang. Namun, bagaimana jika kedua kendala itu diselesaikan dalam satu waktu?

Untuk itulah Sribulancer hadir. Platform yang lahir pada 2014 itu diharapkan menjadi translater di dunia human resource atau sumber daya manusia (SDM). Sebagai marketplace bagi para freelancer, Sribulancer menawarkan jasa atau platform untuk mempertemukan perusahaan atau perorangan dengan freelancer (pekerja lepas), seseorang yang bekerja sendiri dan tidak berkomitmen kepada majikannya dalam jangka panjang tertentu.

Founder dan CEO Sribulancer, Ryan Gondokusumo, mengatakan Sribulancer lahir tak sengaja, ketika dirinya tengah menggarap Sribu.com, situs yang menghubungkan klien yang membutuhkan desain grafis dan komunitas desainer.

"Dengan Sribulancer, klien bisa mencari freelancer yang tepat dan cepat. Daripada klien banyak hire internal people, lebih baik mengunakan jasa freelancer secara ongkos tidak tinggi dengan kemampuan spesifik dan terbaik," ujar Ryan, saat ditemui Media Indonesia di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Selama ini, kata Ryan, banyak perusahaan atau individu sulit mencari pekerja lepas yang mereka butuhkan dalam proyek berbatas waktu. "Ketika mencari freelancer belum tentu mendapatkan portofolio sesuai keinginan. Bahkan, paling apes jika sudah deal, tau-tau freelancer kabur. Jadi, banyak banget ketemu freelancer yang tidak pas, harga tidak tepat, dan scoop-nya lebih dari perkiraan, kami menyadari akan hal itu," katanya.

SribuLancer sendiri menggunakan sistem escrow untuk menjamin klien yang membutuhkan jasa. Transaksi dilakukan secara daring sehingga menjamin kemudahan dan keamanan bagi kedua belah pihak.

Dalam tempo 5 menit, klien bisa langsung mempekerjakan dan memberikan tugas sesuai kebutuhan.

Katalog freelancer akan menampilkan jasa, harga, dan riwayat pekerjaan mereka secara transparan. Para klien pun bisa bernegosiasi dengan pekerja yang diincar. "Jika ada komplemen dari klien. Kami sebagai penengah akan menjembatani dan mediasi untuk mencari jalan keluar," paparnya.

Jika klien sudah mempekerjakan satu freelancer untuk mengunakan jasanya, klien akan membayar terlebih dahulu ke Sribulancer, kemudian freelancer akan menerima upah ketika pekerjaan selesai dengan sistem escrow.

Dengan perannya itu, Sribulancer mendapatkan komisi 10% dari upah yang didapatkan freelancer, untuk setiap pekerjaan yang dapat diselesaikan. Dikutip dari lamannya, sejak 1 Maret 2017, seluruh pembayaran hasil workspace di Sribulancer telah dibebaskan dari pengenaan pajak penghasilan (PPh) sebesar 3%.
 
Fokus kualitas
Hal pertama yang disyaratkan Sribulancer kepada klien hanya mendaftarkan diri secara gratis dan selanjutnya membuat posting-an pekerjaan yang ditawarkan. "Nantinya akan banyak freelancer yang akan meng-apply permohonan pengerjaan itu. Dari banyak proposal, tentunya klien bebas memilih freelancer untuk melakukan kerja sama," papar Ryan.

Sementara itu, syarat yang harus dipenuhi freelancer ialah memiliki hard skill dan soft skill. Setelah itu, akan dilakukan penyortiran agar bisa memasukkan informasi pekerjaan yang dicari.

"Karena kami fokus terhadap freelancer yang berkualitas, maka banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Jadi, menjadi freelancer di Sribulancer tidak gampang," tuturnya.

Hingga saat ini transaksi terbesar didapat dari salah satu perusahaan internasional dari Jepang senilai Rp300 juta. "Mereka membuat blog, jadi banyak melakukan hire copy writer dari Sribulancer. Jadi, klien kami tersebar dengan nominal transaksi yang berbeda-beda," paparnya.

Meskipun internal tim Sribulancer hanya 20 orang, pihaknya sangat responsif dan proaktif terhadap keluhan dan permasalahan yang terjadi di kedua belah pihak.

Sejauh ini terdapat 50 ribu lebih freelancer yang sudah tergabung. Meskipun demikian, pihaknya berencana memangkas jumlah itu menjadi menjadi 30 ribu freelancer yang berkualitas dan komitmen.

"Karena ingin pekerjaan tambahan makanya mereka ingin menjadi freelancer. Jadi, asal saja apply job. Nah, ini yang tidak kami inginkan dan mewanti-wanti itu," terangnya.

Guna menjalin kedekatan, pihaknya juga mengadakan pertemuan freelancer gathering atau kopi darat agar mereka bisa naik kelas dan mendapatkan pekerjaan lebih banyak lagi. Dengan begitu, jika sebelumnya menjadi pekerja di perusahaan, mereka bisa berubah menjadi full time freelancer.

"Ke depannya, orang akan lebih rileks bahwa kerja itu tidak perlu di kantor terus atau di korporat company. Jadi, saya melihat peluang freelancer akan semakin besar dan market juga berkembang," tutup Ryan. (M-4)

 

VIDEO TERKAIT:

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More