Literasi Gizi, Belajar dari Polemik Susu Kental Manis

Penulis: Micom Pada: Jumat, 10 Agu 2018, 13:55 WIB Humaniora
Literasi Gizi, Belajar dari Polemik Susu Kental Manis

Ist

KEHEBOHAN mengenai susu kental manis terutama dalam setahun terakhir menarik perhatian para akademisi dan peneliti gizi dari berbagai perguruan tinggi. Isu susu kental manis juga telah ditanggapi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang akhirnya meluruskan bahwa susu kental manis adalah produk susu.

Namun, pernyataan itu seolah tenggelam dalam gencarnya arus berita mengenai isu susu kental manis (SKM). Untuk menjawab berbagai informasi yang simpang siur tentang SKM, Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia mengadakan seminar sehari berjudul 'Literasi Gizi: Belajar dari Polemik Kasus Susu Kental Manis," di Universitas Indonesia, Depok, Jumat (10/8).

Jika dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN, konsumsi susu nasional masih tergolong rendah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2017, konsumsi susu masyarakat Indonesia hanya 16,5 liter per kapita per tahun. Angka ini sangat kecil jika dibandingkan dengan data USDA Foreign Agricultural Service 2016 (PDF) untuk Malaysia (50,9 liter), Thailand (33,7 liter), dan Filipina (22,1 liter).

Produksi susu segar di Indonesia sendiri baru mencapai 920.093,41 ton pada 2017. Angkanya hanya naik 0,81% dari tahun sebelumnya yang berjumlah 912.735,01 ton. Dari angka ini, dapat dilihat bahwa budaya minum susu di Indonesia masih rendah. Dan dari berbagai jenis susu yang beredar di pasaran, SKM merupakan jenis susu yang paling banyak dibeli oleh masyarakat Indonesia.

Guru Besar IPB Prof Dr Ir Ahmad Sulaeman MS menyatakan bahwa SKM terbuat dari susu segar, kemudian ada kandungan lain seperti susu skim, susu skim powder, gula, lalu ada susu bubuk whey, buttermilk powder, serta palm oil.

"SKM adalah produk susu berbentuk cairan kental yang diperoleh dengan menghilangkan sebagian air dari campuran susu dan gula hingga mencapai tingkat kepekatan tertentu. Atau, merupakan hasil rekonstitusi susu bubuk dengan penambahan gula, dengan atau tanpa penambahan bahan lain. Gula yang ditambahkan digunakan untuk mencegah kerusakan produk. Produk SKM lantas dipasteurisasi dan dikemas secara kedap (hermetis)," jelas Ahmad.

Pakar gizi sekaligus Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Universitas Indonesia (PKGK UI) Ir Ahmad Syafiq MSc PhD menyampaikan bahwa SKM memiliki kandungan energi yang diperlukan untuk mendukung pemenuhan gizi masyarakat, termasuk anak-anak.

"SKM tidak masalah dikonsumsi secara proporsional Namun, jika sudah berlebih, apa pun juga tidak boleh. Kandungan lemak dan gula dalam susu kental manis sudah diatur dalam Perka BPOM 21/2016 tentang Kategori Pangan dan SNI Nomor 2971: 2011 tentang SKM. Dalam aturan itu disebutkan kombinasi gula dan lemak pada produk ini adalah 51-56% dengan kandungan gula 43-48%. SKM sebagai minuman harus dicampur dengan air, sehingga setelah dilarutkan sesuai saran penyajian, kandungan SKM memiliki kadar lemak susu tidak kurang dari 3,5 gr, total padatan susu bukan lemak tidak kurang dari 7,8 gr, dan kadar protein tidak kurang dari 3 gr," jelas  Syafiq.

Ia menambahkan bahwa perlu diingat l semua jenis makanan saling melengkapi. Tidak ada makanan atau minuman tunggal yang mampu memenuhi kebutuhan gizi seseorang. Siapa saja boleh mengonsumsi SKM dalam jumlah tidak berlebihan.

"Namun perlu diingat, SKM tidak cocok untuk bayi (0-12 bulan) dan bukan untuk menggantikan ASI. SKM boleh disajikan sebagai minuman, tetapi tentu untuk balita harus disesuaikan penyajiannya dan bukan sebagai asupan tunggal," ujarnya.

Kementerian Kesehatan pada 2015 lalu menggelar Survei Diet Total untuk masyarakat Indonesia yang menunjukkan data bahwa masyarakat Indonesia masih kekurangan pasokan energi. Itu belum termasuk kekurangan asupan gizi lainnya, sehingga konsumsi gula secara wajar tidak menjadi persoalan karena unsur makanan ini merupakan sumber energi.

Kondisi tubuh yang kekurangan energi justru berbahaya bagi tumbuh kembang anak. Sebab, tubuh secara otomatis akan memenuhi kebutuhan energinya dengan mengambil protein dan lemak pada tubuh. Padahal, dua unsur makanan tersebut merupakan kebutuhan utama bagi pertumbuhan.

Survei Diet Total 2014 juga menemukan bahwa pada anak balita di Indonesia, rata-rata konsumsi SKM tergolong rendah yaitu hanya 9,4 gram per hari dan hanya memberikan kontribusi konsumsi gula yang juga rendah yaitu hanya 5 gram per hari, masih jauh di bawah anjuran WHO mengenai konsumsi gula tambahan yang dibolehkan yaitu 50 gram per hari.

Anggota Dewan Pengurus Pusat Persatuan Ahli Gizi (Persagi) Dr Marudut Sitompul MPS menjelaskan, SKM memiliki dua karakteristik dasar, yaitu memiliki kadar lemak susu tidak kurang dari 8% serta kadar protein tidak kurang dari 6,5% (plain). Namun, sejumlah data tidak resmi yang beredar menyebutkan bahwa kandungan gula dan lemak di SKM lebih dari 70% di mana kandungan gula melampaui 60%.

"Data ini memunculkan persepsi yang salah mengenai SKM sehingga berpotensi menimbulkan polemik," katanya.

Marudut menambahkan SKM adalah minuman bergizi, tidak bisa disamakan dengan minuman manis atau air tajin yang sering diberikan ke anak. Gula dalam SKM bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Tambahan gula bila disajikan sesuai takaran atau aturan dari BPOM, terdapat 14 gr gula dalam satu gelas sajian. Selain itu, hingga kini tidak ada data yang menyebutkan bahwa SKM dapat menimbulkan diabetes atau obesitas.

Sementara Ketua Pergizi Pangan Prof Dr Ir Hardinsyah, MS menjelaskan, dari sisi budaya dan sejarah, SKM sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari berbagai jenis makanan dan minuman di Indonesia sejak zaman dahulu. Berbagai produk makanan lokal juga menggunakan SKM dalam resepnya.

Dari sudut pandang sosial, keberadaan SKM sampai saat ini masih menjadi plihan keluarga bagi kebutuhan konsumsi susu di kalangan masyarakat.

Berdasarkan Survei Sosial dan Ekonomi Nasional pada 2016, rumah tangga masyarakat kota maupun desa di Indonesia paling banyak membeli susu jenis kental manis sebesar 66,1%. Oleh karena itu, tak mengherankan jika bergulirnya berita mirin mendapatkan perhatian besar dan mengubah persepsi masyarakat yang selama ini aman-aman saja mengonsumsi SKM.

"Sedangkan persentase anak batita yang mengonsumsi SKM dan jumlah yang dikonsumsi tidak mengkhawatirkan seperti yang diungkap media," katanya.

Edukasi gizi merupakan tanggung jawab bersama dari pemerintah, dunia akademik, dan industri. Semua pemangku kepentingan diharapkan memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak terjadi keresahan dan kebingungan dengan informasi yang beredar.

Sementara, masyarakat perlu bijak dalam menyikapi informasi yang beredar, tidak panik, dan meningkatkan pengetahuannya mengenai gizi seimbang serta kebutuhan dan kecukupan gizi. Informasi harus diperoleh dari ahli gizi yang kompeten. Berbagai pihak yang berkepentingan juga agar menghentikan berbagai informasi yang dapat membingungkan masyarakat.

"Regulasi terkait iklan dan pembatasan konsumsi makanan bergula harusnya diawali dan disertai dengan fakta (eviden) yang kuat dan edukasi gizi yang tepat.
Konsekuensi misregulasi bisa menimbulkan masalah baru termasuk masalah ekonomi dan kesehatan masyarakat," pungkas Hardinsyah.

Menyikapi polemik terkait SKM, semua pakar gizi ini sepakat bahwa baik pemerintah dan masyarakat harus terus meningkatkan upaya peningkatan literasi gizi serta terus melaksanakan upaya menyusun kebijakan berbasis eviden.

Dalam seminar ini selain menyampaikan fakta bahwa SKM adalah susu, diperlukan juga adanya komunikasi, informasi, edukasi, dan advokasi (KIEA) gizi agar kehebohan yang tidak perlu mengenai SKM tidak berujung pada pengambilan keputusan dan pilihan keliru baik oleh masyarakat maupun oleh pemerintah. (RO/OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More