Selasa 24 Maret 2015, 00:00 WIB

Terimbas Konflik Bersenjata Negara Tetangga

MI/DERI DAHURI | Internasional
Terimbas Konflik Bersenjata Negara Tetangga

Sumber: New York Daily News/BBC/CSR/GRAFIS: EBET

 
EMPAT tahun lalu, gaung pemerintahan antiotoriterisme menggema. Unjuk rasa menentang pemerintah Zine El Abidine Ben Ali pecah di berbagai penjuru kota.

Akhirnya, gerakan yang populer dengan sebutan Arab Spring tersebut menumbangkan Ben Ali yang telah berkuasa di Tunisia selama 24 tahun.

Di tengah kondisi yang belum membaik setelah empat tahun gerakan Arab Spring, Tunisia belum lepas dari berbagai persoalan. Pemerintahan Presiden Beji Caid Essebsi menghadapi persoalan yang tidak kalah pelik, yakni masuknya pengaruh dan kekuatan kelompok militan Islamic State (IS).

Negara yang berpenduduk 11 juta jiwa itu menghadapi ancaman gerakan kelompok radikal. Penyusupan kelompok radikal ke Tunisia tidak bisa dilepaskan dari situasi politik negara-negara sekitarnya.

Kini, kelompok IS terus mengepakkan sayap kekuasaan mereka di wilayah Suriah, Irak, Yaman, dan Libia yang berbatasan langsung dengan Tunisia.

Konflik bersenjata antara kelompok Sunni dan Syiah di negara tetangga telah mendorong ribuan pemuda Tunisia meninggalkan tanah air mereka. Mereka memasuki wilayah Irak dan Suriah serta Libia. Para pemuda itu bergabung dan mengangkat senjata terutama bersama IS di Libia.

Dengan pengalaman tempur dan pengaruh radikalisme yang telah tertanam, akhirnya sebagian pemuda Tunisia kembali ke negara asal mereka. Sikap militansi kian kuat memacu para pemuda itu melakukan perlawanan terhadap pemerintah Tunisia.

Puncaknya, kelompok militan yang merupakan jaringan IS lokal itu melancarkan penyerangan di Museum Nasional Bardo, Tunis, Rabu (18/3). Aksi berdarah kelompok militan Tunisia itu merenggut 21 nyawa yang sebagian besar turis asing.

Aksi yang dikecam dunia sebagai 'aksi pengecut' itu membuat situasi Tunisia kian tidak menentu. Para pemimpin dunia dan Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon menyebutnya sebagai penyerangan biadab.

"Anggota Dewan Keamanan PBB mengungkapkan duka sangat mendalam kepada keluarga korban dari tindakan keji dan kepada pemerintah Tunisia dan pemerintah negara lain yang turut kehilangan warganya dalam serangan itu," kata Dewan Keamanan PBB yang beranggotakan 15 negara dalam pernyataan resmi mereka.

"Kami tidak pernah menoleransi terorisme dan mengecam keras itu," tegas Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe menanggapi aksi penyerangan ke Museum Nasional Bardo.

Bulan lalu, dua warga Jepang menjadi korban penyanderaan dan pembunuhan oleh kelompok militan IS.

Tunisia yang masih limbung menghadapi krisis ekonomi akan semakin terpuruk. Pasalnya, Presiden Beji Caid Essebsi sangat berharap sektor pariwisata bisa menjadi obat untuk mengatasi kelimbungan perekonomian.

Namun, kini, industri turisme yang menjadi andalan dengan mendatangkan para turis asing tidak bisa lagi diharapkan menjadi tumpuan. Aksi terorisme di Museum Nasional Bardo telah membuat Tunisia dicap sebagai negara yang tidak aman bagi orang asing.

Aksi balasan
Setelah aksi penyerangan ke museum, Essebsi berjanji melancarkan perang tanpa ampun terhadap terorisme sebagai aksi balasan. Dia menegaskan perang terhadap terorisme sampai 'napas terakhir'.

"Saya ingin rakyat Tunisia mengetahui bahwa kami sedang perang melawan terorisme dan minoritas buas itu (kelompok teroris) tidak bisa menakut-nakuti kami," seru Essebsi.

Kelompok Islam moderat Tunisia di bawah bendera Partai Ennahda turut mengecam keras aksi tersebut. Mereka tidak mengharapkan kehadiran kelompok Islam garis keras.

"Tidak ada tempat bagi Daesh (sebutan kelompok IS dalam bahasa Arab)," kata Rached Ghannouchi, ketua partai Islam, Enhada, dalam sebuah wawancara baru-baru ini.

"Tunisia telah lama menjadi negara mapan dan kemerdekaan akan mencegah para ekstremis membuat wilayah dan membentuk diri di sini," imbuh Ghannouchi yang partainya memenangi pemilu bebas pertama di Tunisia pada 2011.

Ghannouchi memperingatkan Tunisia masih dalam situasi yang rentan.

"Jika situasi (politik) di Libia tidak kunjung selesai, Tunisia akan tetap dalam ancaman penyerangan," jelas tokoh Islam moderat berusia 73 tahun tersebut.

Negara tetangga Tunisia, Libia, tengah digoyang konflik kelompok bersenjata. Kondisi keamanan Tunisia kini tidak bisa dilepaskan dari persoalan politik di Libia.

Kelompok bersenjata yang loyal terhadap Jenderal Khalifa Haftar mencoba mendukung pemerintahan sah Libia dukungan Amerika Serikat (AS). Kelompok Haftar mendapat dukungan dari Mesir dan Uni Emirat Arab.

Loyalis Haftar melawan kelompok bersenjata 'Fajar Libia' yang didukung partai-partai Islam. Selama ini, kelompok yang kerap bentrok dengan kelompok Haftar mendapat dukungan dari Qatar dan Turki.

Kelompok bersenjata lain yang membuat situasi Libia kian kacau pascatewasnya Moamar Khadafi ialah kelompok yang menamakan diri Dewan Syura Islam Revolusioner Benghazi yang dipimpin Ansar al-Sharia. Kini situasi kian ruwet dengan kehadiran kelompok IS yang berbasis di Derna, Libia.

Ghannouchi sangat menyesalkan keterlibatan para pemuda Tunisia dalam konflik politik bersenjata di Libia.

"Para pemuda Tunisia telah pergi berlatih perang di kamp-kamp di Libia. Mereka membawa senjata dan selanjutnya menyusup masuk ke perbatasan tanpa bisa kami kendalikan," ungkapnya.

Dua pelaku penyerangan di Museum Nasional Bardo, Yassine Laabidi dam Hatem Khachnaoui, ternyata pernah berlatih dengan kelompok IS di Kota Derna dan Benghazi. Setelah kembali ke Tunisia, keduanya menjadi bagian dari kelompok teroris 'jaringan diam-diam'.

Selain menghadapi kelompok jaringan IS yang tergolong 'baru', angkatan bersenjata Tunisia tengah berjuang melawan jaringan Al-Qaeda yang menamakan diri 'Brigade Uqba ibn Nafi'. Basis kelompok bersenjata tersebut berada di daerah Pegunungan Chaambi yang berbatasan dengan Aljazair.

"Ada kemungkinan serangan dari kelompok lain. Akan tetapi, mereka lebih seperti 'serigala kesepian' sebagaimana yang kita lihat terjadi (penyerangan) di Paris dan beberapa kota lain. Mereka tidak melakukan perang terbuka seperti di Irak dan Suriah," kata Tarek Kahlaoui dari Universitas Rutgers, AS, yang juga menjabat di Tunisia's Institute for Strategic Studies. (BBC/AP/Aljazeera/AFP/I-2)

Baca Juga

STR / AFP

Tiongkok Terus Pasok Alat Tes Virus Korona

👤SCMP/Hym/X-11 🕔Senin 30 Maret 2020, 23:40 WIB
PERUSAHAAN-perusahaan alat kesehatan Tiongkok terus berlomba memproduksi alat tes virus korona demi memenuhi permintaan berbagai negara di...
Bhuvan BAGGA / AFP

Modi Minta Maaf kepada Kaum Miskin

👤AlJazeera/Hym/I-1 🕔Senin 30 Maret 2020, 23:20 WIB
Kritik meningkat karena kurangnya perencanaan yang memadai sebelum keputusan...
JIM WATSON / AFP

Trump Perpanjang Kebijakan Social Distancing

👤Haufan Hasyim Salengke 🕔Senin 30 Maret 2020, 23:00 WIB
Kebijakan social distancing atau jaga jarak sosial di Amerika Serikat (AS) diperpanjang hingga 30 April 2020. AS akan berada di jalan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya