Rabu 25 Juli 2018, 13:42 WIB

Tidak Familiar dengan Model Soal, Alasan Skor PISA Indonesia Rendah

Indriyani Astuti | Humaniora
Tidak Familiar dengan Model Soal, Alasan Skor PISA Indonesia Rendah

ANTARA

 

POSISI Indonesia dalam tes Programme for International Students Assessment (PISA) selalu rendah. Ada tiga kemampuan yang dinilai dalam PISA yaitu matematika, sains, dan literasi. Untuk tiga domain tersebut, kemampuan siswa Indonesia masih rendah.

Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan (Puspendik) Mohamad Abduh menjelaskan beberapa faktor Indonesia masih berada pada urutan bawah dari tes PISA, dibandingkan negara-negara lain. Pengajar di Indonesia, kata Abduh, tidak membiasakan siswa untuk mengerjakan soal yang dapat mendorong, menstimulasi, dan menganalisa suatu masalah menggunakan nalar atau disebut High Order Thinking Skill (HOTS).

"Jangan-jangan guru tidak bisa membuat soal model HOTS itu bagaimana," ujar Abduh di Jakarta, Rabu (25/7).

Abduh juga mengatakan soal-soal yang dibuat oleh para guru masih didominasi dengan pilihan ganda. Ia mencontohkan, pada soal esai, murid dibiasakan dengan jawaban yang sifatnya hanya menghafal. Padahal, para guru dapat membuat soal-soal dengan model HOTS, tidak harus sulit tetapi dapat melatih nalar siswa.

Soal-soal HOTS, imbuh Abduh, umumnya panjang. Tujuanya untuk mengukur kemampuan literasi para murid. Berdasarkan penilaian PISA, literasi siswa Indonesia masih rendah.

"Literasi rendah karena siswa malas membaca soal panjang," ucapnya.

Indonesia telah berpartisipasi pada penilaian PISA sejak 2002. PISA digelar setiap tiga tahun sekali, tujuannya untuk  menilai kemampuan akademis siswa sekolah berusia 15 tahun. PISA diselenggarakan oleh Organization Economic Co-operation and Development (OECD).

Abduh mengatakan berdasarkan kajian Puspendik, diketahui meski sama-sama berusia 15  tahun, skor yang didapat oleh partisipan PISA dari jenjang SMA cenderung lebih baik jika dibandingkan dengan partisipan PISA dari jenjang SMP.  Hal itu, imbuhnya, karena usia masuk sekolah di Indonesia berbeda-beda dan berpengaruh pada daya nalar siswa. Ada siswa yang mulai bersekolah pada usia enam tahun dan banyak juga yang mulai sekolah setelah berusia enam tahun ke atas. Faktor tersebut berpengaruh pada kemampuan para siswa menjawab soal PISA.

"Siswa yang berada di jenjang SMA mendapatkan skor PISA lebih baik dibandingkan siswa dari jenjang SMP," tuturnya.

Abduh menambahkan faktor lain yang membuat skor Indonesia rendah ialah besarnya disparitas kemampuan dari sampel siswa yang diambil untuk ikut dalam tes PISA.

Indonesia telah mengikuti PISA 2018 pada Juni lalu. Ada 400 sekolah terdiri dari 102 SMA, 190 SMP, 62 SMK, dan 46 Madrasah yang berpartisipasi, dan 16 ribu siswa yang menjadi sampel dalam penilaian PISA. Adapun sampel siswa yang berpartisipasi sebesar 0.682% dari total siswa sekolah usia 15 tahun. Abduh mengatakan ada dua domain tambahan selain sains, matematika, dan literasi dalam penilaian PISA 2018 yaitu literasi finansial dan global citizenship.(OL-6)

Baca Juga

Antara/Akbar Nugorho Gumay

Wapres: Penyiapan Fisik dan Akademik UIII Harus Tuntas pada 2021

👤Emir Chairullah 🕔Selasa 11 Agustus 2020, 20:39 WIB
“Segera selesaikan semua sarana pendukung sosialisasi dan kerjasama Internasional. Termasuk website yang modern dan canggih,”...
Antara

Polda Akan Minta Kesaksian Sejumlah Ahli dalam Kasus Anji

👤Yakub Pryatama Wijayaatmaja 🕔Selasa 11 Agustus 2020, 20:31 WIB
Penyidik juga akan meminta keterangan ahli sosial hukum dan ahli IT dan ahli yang paham soal klaim obat herbal Hadi Pranoto yang disebut...
Kemensos

Mensos Ajak Dunia Usaha Gencarkan CSR

👤Ihfa Firdausya 🕔Selasa 11 Agustus 2020, 20:05 WIB
Adanya forum CSR, kata Edi, akan menjadi suatu kemitraan strategis dan harmonis antara Kementerian Sosial, Forum CSR, serta dunia...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya