Senin 02 Maret 2015, 00:00 WIB

Pembuktian Anak Medan

Hariyanto | Opini
no-image.jpg


Photo of the Year 2014 Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) karya Sutanta Aditya (AFP)


Wartawan, termasuk pewarta foto, ialah kaum bersandang keistimewaan. Mereka menjalani peran protaganis dalam laku kehidupan, menjadi saksi dan mengabarkannya dalam bingkai nurani. Tidak sekadar mewartakan fakta melalui pikiran dan lensa kamera, mereka juga piawai memberikan hiburan, edukasi, serta memengaruhi khalayak melalui foto yang diabadikan.

Itulah sebabnya segenap langkah kaum istimewa itu harus senantiasa berpijak pada nilai-nilai kearifan, norma, dan moralitas. Rambu-rambu yang termaktub dalam UU No 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Foto Jurnalistik wajib menjadi panduan. Kepatutan tetaplah menjadi pedoman.

Jangan sampai kebebasan yang didapatkan dari buah euforia reformasi 1998 menjadi kebablasan. Kreativitas tidak boleh dijinakkan, tetapi daya kreasi tanpa batas berpotensi menabrak pembatas. Betul bahwa basis kerja pewarta ialah fakta, taat pada hal ihwal yang faktual, tetapi tataran edukasi tetaplah menjadi misi.

Dalam konteks itu, penting bagi kita untuk mengapresiasi kerja keras sekumpulan panitia dan pengurus Pewarta Foto Indonesia (PFI) penyelenggara Anugerah PFI 2013-2014. Mereka dengan penuh kerelaan mengabdikan diri bagi perkembangan foto jurnalistik di negeri ini. Konsisten seperti tahun-tahun sebelumnya, menggelar kompetisi sebagai barometer hebat-tidaknya insan jurnalisme visual Indonesia.

Yang tak kalah penting ialah mencermati kiprah para juri. Di tangan merekalah baik-buruknya wajah foto jurnalistik Indonesia dua tahun ini ditentukan. Para pengadil itu mengemban beban yang tidak ringan. Memilih terbaik di antara ribuan potret pembangkit selera. Menjaga kredibilitas dalam batas subjektivitas dan objektivitas yang tak jarang menyisakan tanda tanya.

Dari profesionalisme dan kompetensi para juri akan tecermin tinggi-rendahnya kualitas hajatan nasional tersebut. Memberi gambaran kecakapan pewarta foto dalam memigura kenyataan dengan tatanan artistik yang tidak saja menggoda, tetapi juga mampu menjadi saksi atas hal-hal tersembunyi. Ujungnya, imaji terpilih memiliki energi untuk mengundang ekspresi, menggerakkan, dan menginspirasi.

Pada titik ini, tanpa mengurangi rasa hormat, saya ingin menitipkan kalimat tanya kepada para juri yang mengganjar foto pelatih kiper Hermansyah yang pamer alat vital di arena sepak bola sebagai juara III kategori olahraga. Layakkah tindakan cabul sebagai ekspresi kecewa itu disebarluaskan? Tidakkah itu melanggar kode etik foto jurnalistik, menabrak rambu-rambu pornografi?

Namun, di sisi lain, sanjungan kepada para pengadil itu juga pantas diberikan. Pemilihan foto terbaik bidikan dua anak Medan, Sutanta Aditya dan Irsan Mulyadi, sebagai puncak gelaran nasional tersebut mempersempit celah ketidakpuasan.

Sutanta Aditya, yang bekerja untuk Agence France-Presse (AFP) itu meraih Photo of the Year 2014. Ia harus menyabung nyawa demi idealisme sebagai pewarta yang mengabarkan kepiluan manusia di kawasan bencana. Nestapa di lereng Sinabung. Sebuah pemandangan visual yang mengajak kita bernostalgia pada foto karya Susanto (Media Indonesia) tentang evakuasi korban terjangan awan panas Merapi, pemenang Adinegoro 2010 dan APFI 2010 kategori spot news. Bencana, nestapa, dan kehadiran pewarta yang besar nyalinya.

Irsan Mulyadi menjadi wakil Antara merebut takhta Photo of the Year 2013 yang sebelumnya milik pewarta foto muda Media Indonesia Angga Yuniar. Irsan menggelar fakta peradaban luhur manusia pada orang utan di tanah Sumatra. Ia mengikuti jejak koleganya, Jessica Wuysang, yang merebut Adinegoro 2012 atas peristiwa berfakta sebaliknya, tentang sekaratnya orang utan akibat ulah manusia di bumi Kalimantan pada 2012.

Kedua anak muda itu seakan mengirimkan sinyal kuat pada jagat fotografi jurnalistik Tanah Air. Mereka menunjukkan eksistensi dan pembuktian jurnalis foto Medan. Menjadi tuan rumah yang baik dari pusaran kejadian yang menjadi pusat perhatian dunia selama dua tahun berjalan. Petaka Gunung Sinabung yang meninggalkan nestapa dan merananya nasib primata langka.

Pujian juga pantas diberikan kepada barisan jurnalis foto muda yang menancapkan tajinya menguasai hampir delapan kategori kontes. Mereka hanya menyisakan sedikit tempat terhormat. Salah satunya di sektor people in the news yang direbut fotografer kawakan Beawiharta dari Reuters.

Dominasi angkatan muda itu makin meneguhkan keyakinan akan cerahnya masa depan foto jurnalistik Tanah Air. Memberi harapan bahwa jurnalis foto Indonesia akan menjadi salah satu magnet dunia. Dengan demikian, petikan slogan yang kerap disampaikan Bung Karno, "Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia," segera menemukan maknanya pada jurnalisme visual di bumi ini.

Semoga foto-foto terpilih di antara 5.917 karya yang masuk pada APFI kali ini bukan sekadar pajangan penghias ruang pamer. Di Grand Indonesia Shopping Town, Jakarta, sejak Sabtu (28/2) hingga Minggu (15/3) bingkai-bingkai peristiwa itu diharapkan menunjukkan kekuatan mereka.

Selamat untuk para jawara. Hendaknya prestasi itu menjadi awal langkah besar menggapai kompetisi yang berskala internasional. Kemenangan layak dirayakan, tetapi jangan sampai berlebihan karena bisa menjadi candu yang melenakan. Tetaplah lapar, tetaplah bodoh. Seperti petuah bijak dalam buku Steve Jobs, "Stay hungry, stay foolish."

Selamat juga untuk Lucky Fransiska dan Fransiskus Simbolon yang sejak Jumat (27/2) lalu menjadi nakhoda baru PFI periode 2015-2019. Saatnya mengabdikan diri demi tugas mulia meningkatkan derajat foto jurnalistik Indonesia. Proficiat!



Foto bidikan Susanto (Media Indonesia) peraih Adinegoro 2010 dan APFI 2010 kategori spot news.



Photo of the Year APFI 2013 karya Irsan Mulyadi (Antara).



Foto peraih Adinegoro 2012 yang diabadikan Jessica Wuysang (Antara).




Hariyanto
Fotografer senior Media Indonesia

Baca Juga

Nurul Candrasari Masjkuri Dewan Pendiri Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI)

Hak Konstitusi Perempuan untuk Berpolitik

👤Nurul Candrasari Masjkuri Dewan Pendiri Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) 🕔Kamis 26 November 2020, 03:10 WIB
KITA mengenal terminologi hak asasi manusia dan hak konstitusional warga...
Dok.Pribadi

Menyelamatkan Guru

👤Cecep Darmawan Guru Besar dan Kepala Pusat Kebijakan Publik, Inovasi Pendidikan, dan Pendidikan Kedamaian LPPM Universitas Pendidikan Indonesia 🕔Kamis 26 November 2020, 03:00 WIB
DUNIA pendidikan benar benar tengah mengalami disrupsi di era...
Dok. Pribadi

Memimpin dalam Masa WFH

👤Andi Ilham Said Kepala Pusat Kajian dan Pengembangan Produk PPM Manajemen 🕔Rabu 25 November 2020, 01:25 WIB
MEMIMPIN dari jarak jauh, adalah keniscayaan yang dihadapi hampir semua pemimpin perusahaan dalam era pandemi covid-19 saat...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya