Senin 11 Juni 2018, 17:04 WIB

Hitung Mundur Menuju Pertemuan Kim-Trump

Denny Parsaulian Sinaga | Internasional
Hitung Mundur Menuju Pertemuan Kim-Trump

AFP
Pemeran tiruan Donald Trump dan Kim Jong Un

 

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un membuat persiapan terakhir pada Senin (11/6) malam, menjelang KTT bersejarah mereka. Para pejabat bergegas mempersempit perbedaan definisi mengenai persenjataan nuklir Pyongyang. Pertemuan pada Selasa akan menjadi pertama kalinya seorang presiden AS yang menjabat, duduk bersama pemimpin Korut.

"Saya hanya berpikir pertemuan itu bakal berhasil dengan sangat baik," kata Trump saat makan siang dengan Perdana Menteri Singapura di tempat KTT bakal dilangsungkan.

Di balik layar, para pejabat mengadakan pembicaraan selama hampir tiga jam di sebuah hotel yang netral. Mereka berusaha menjembatani kesenjangan atas defenisi denuklirisasi yang diartikan sangat berbeda oleh kedua pihak.

Diplomasi yang terjadi saat ini merupakan perubahan luar biasa dari tahun lalu. Saat itu Trump mengancam Korea Utara dengan api dan kemarahan.

KTT juga telah membangkitkan harapan kemajuan menuju perjanjian damai yang secara resmi mengakhiri Perang Korea, warisan terakhir Perang Dingin. Perang ini berakhir setelah permusuhan berhenti dengan gencatan senjata.

"Kedua pria itu pertama-tama akan bertemu satu lawan satu dalam sesi tertutup, sebelum pertemuan yang lebih besar dengan para penasihat kunci," kata para pejabat AS.

Seorang pejabat Gedung Putih senior mengatakan Trump merasa baik dan bahwa KTT itu terbuka.

"Itu bisa dua hari. Mereka akan berbicara selama yang mereka butuhkan," kata pejabat itu, yang meminta namanya tidak disebutkan.

Pyongyang menuntut jaminan keamanan dan belum jelas konsesi apa yang ditawarkan Korut jika senjata nuklirnya--yang dinamakan 'pedang berharga' untuk membela Korut dari invasi AS--dihancurkan.

Washington menuntut Korut memberikan senjata secara lengkap, diverifikasi, dan ireversibel (CVID). Sementara Pyongyang sejauh hanya membuat janji publik untuk denuklirisasi di semenanjung. Istilah ini terbuka untuk diinterpretasikan.

Korea Utara, yang telah dikenai sanksi yang semakin ketat oleh Dewan Keamanan PBB dan yang lainnya, telah membuat janji-janji perubahan di masa lalu, seperti pada proses Six Party Talks yang panjang.

Pemimpin AS telah membuat harapan untuk pertemuan tersebut dan itu bisa menjadi awal dari proses dari beberapa pertemuan ke depan, dengan menyebutnya satu kesempatan untuk perdamaian.

Trump mengklaim, dia akan tahu dalam menit pertama apakah kesepakatan akan mungkin dibuat.

Bruce Klingner dari Heritage Foundation mengatakan, sikap AS sebelumnya adalah, AS tidak mengirimkan presiden untuk merundingkan perjanjian.

"Kami mengerahkan presiden untuk menandatangani perjanjian."

"Salah satu kekhawatiran saya adalah bahwa kami keluar dari KTT Singapura ini dengan sesuatu yang terlihat sangat mirip dengan Six Party Talks atau apa pun yang sebelumnya dikritisi presiden, tetapi dianggap sebagai sesuatu yang bersejarah dan baru dan inovatif," tambahnya. (AFP/OL-5)

Baca Juga

Dok.gigazine

Meretas Parlemen Jerman, Mata-Mata Rusia Disanksi

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 23 Oktober 2020, 02:15 WIB
Uni Eropa dan Inggris memberlakukan sanks pada perwira senior intelijen Rusia atas dugaan peran mereka dalam meretas jaringan komputer di...
AFP

Tidak Ada Solusi Diplomatik untuk Karabakh

👤MI 🕔Jumat 23 Oktober 2020, 01:15 WIB
PERDANA Menteri Armenia Nikol Pashinyan mengesampingkan solusi diplomatik untuk konflik dengan Azerbaijan atas wilayah...
AFP

Obama Kecam Trump soal Covid-19

👤Faustinus Nua 🕔Jumat 23 Oktober 2020, 00:50 WIB
MANTAN Presiden Barack Obama mengecam Presiden Donald Trump terkait penanganan pandemi virus...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya