Jumat 27 Februari 2015, 00:00 WIB

Pelajaran dari Bao Tailiang

Hariyanto | Opini
no-image.jpg


Bintang Argentina Lionel Messi menatap trofi Piala Dunia di hadapannya sebelum upacara penyerahan trofi itu kepada tim Jerman yang mengalahkan tim 'Tango' 1-0 di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, Barsil, 13 Juli 2014. Foto berjudul The Final Game karya Bao Tailiang itu memenangi kategori sports singles World Press Photo. (Foto: worldpressphoto.org)


MATA bintang sepak bola Argentina Lionel Messi menatap tajam trofi emas di hadapannya. Tatapan yang mengisyaratkan dalamnya kekecewaan. Mungkin rasa hati mendidih. Piala simbol supremasi sepak bola dunia itu hanya bisa dipandanginya, tak bisa digenggamnya. Daya upaya yang dikerahkan selama 90 menit lebih melawan militansi anak-anak muda Jerman pada laga puncak pesta akbar sepak bola dunia 2014 tak menuai hasil menggembirakan. Gemuruh di tengah megahnya stadion kebanggaan rakyat Brasil, Maracana, mengiringi sirnanya impian sang bintang.

Bagi punggawa tim 'Tango' dan pemain terbaik sejagat itu, pulang tanpa trofi melengkapi kegagalannya memberi gelar untuk Albiceleste dalam tiga kali kiprahnya di Piala Dunia.

Drama pupusnya harapan Messi itu tercuplik benderang pada sebentuk imaji bidikan Bao Tailiang, 28, pewarta foto koran harian ekonomi 'Negeri Tirai Bambu', Chengdu Economic Daily. Tailiang mencatatkan namanya sebagai jawara kategori sports singles kontes foto jurnalistik paling bergengsi di dunia, World Press Photo. Kategori yang galibnya didominasi oleh para fotografer benua Eropa, Amerika, dan Australia.

Itulah hal menarik dari jagat foto jurnalistik. Kejutan selalu muncul setiap tahunnya.

Dua pekan lalu, di sebuah bangunan seberang kanal, penanda Amsterdam, Belanda, sebanyak 17 juri dari berbagai penjuru dunia berembuk memilih foto terbaik sepanjang 2014 di antara 97.912 bidikan 5.692 peserta dari 131 negara. Para pengadil itu akhirnya menetapkan senarai 42 nama kampiun.

Dalam kurun setahun, segala kesedihan, kegetiran, kebahagiaan, dan tentu saja harapan diwartakan dari bebagai belahan dunia. Mereka, para penyaksi itu, mengemas peristiwa menjadi bingkai-bingkai imaji yang tidak hanya menampilkan fakta, tetapi juga meramunya dalam pendekatan fotografi dengan keunikan momen, sudut pandang, pesan, dan artistiknya. Sayang, masih ada 20% foto yang mendapat sentuhan kosmetik begitu menor sehingga dihabisi oleh para juri.

Kali ini, fotografer Denmark Mads Nissen, 36, yang bekerja untuk surat kabar tanah Skandinavia, Politiken, meraih gelar puncak melalui nukilan kehidupan kaum gay di Rusia. Sebagaimana lazimnya, para peserta dari benua Eropa dan Amerika mendominasi deretan nama-nama pemenang.

Bao Tailiang bersama lima fotografer sebangsanya menjadi wakil daratan Asia dalam melawan hegemoni para pewarta foto benua raksasa lainnya. Jurus-jurus maut para pendekar foto negeri Tiongkok itu menggurita di enam kategori.

Yongzhi Chu memenangi kategori nature singles, Cai Sheng Xiang juara 1 daily life singles, Ronghui Chen juara 2 contemporary issues singles, Liu Song juara 2 portraits singles, Lu Guang juara 3 long-term projects stories, dan yang paling fenomenal ialah Bao Tailiang.

Menjadi satu-satunya fotografer yang dikirim ke Brasil oleh koran tempatnya bekerja, Bao Tailiang telah menghadirkan anomali yang sesungguhnya. Ibarat sebiji gabah di tumpukan jerami.

Fotografer muda itu menapakkan kaki dan mengelana selama 40 hari di bumi 'Negeri Samba'. Kendala utama bahasa tak menyurutkan langkah. Aplikasi penerjemah ditelepon selulernya menjadi kawan setia yang siap membantu kapan saja. Hari-hari dilewati dengan keteguhan hati. Dengan mata, kamera, hati, dan semangatnya, Tailiang akhirnya memberi bukti bahwa seorang fotografer surat kabar ekonomi mampu menjadi pusat perhatian fotografi olahraga dunia.

Hasil gemilang Tailiang itu melengkapi capaian hebat orang Tiongkok lainnya. Yang Shaoming-lah yang mengawalinya. Ia menjadi fotografer pertama negara penganut paham komunisme itu yang menjejakkan catatan visual di kancah fotografi jurnalistik dunia pada 1987. Semenjak itu, jurnalis foto Tiongkok silih berganti mencetak prestasi. Bahkan,di periode 2001 hingga 2014 para penyaji citra 'Negeri Tirai Bambu' selalu mencatatkan nama mereka di deretan pemenang kontes foto jurnalistik terakbar di muka bumi itu.

Dominasi para jawara dari Tiongkok tersebut pasti bukan begitu saja turun dari langit. Wartawan foto veteran Qiang Li menjadi salah satu kuncinya. Li mendirikan Yihe Media Training Workshop di Beijing untuk membantu lebih dari100 fotografer negaranya sebelum mereka mengirimkan karya bakal kompetisi foto internasional. Organisasi yang diluncurkan sejak Desember tahun lalu itu melatih bagaimana memilih foto, mengedit, meng-croping, hingga menuliskan caption. Dampaknya, enam di antara mereka akhirnya memenangi World Press Photo.

Kini, perlahan tapi pasti, foto jurnalistik mulai menemukan tanda-tanda kiblat baru. Negeri dengan sejarah peradaban yang panjang itu tidak saja menjadi episentrum dunia pendidikan, budaya, ekonomi, dan politik, tetapi juga fotografi jurnalistik. Mereka seolah membentangkan cermin dan bingkai-bingkai imaji raksasa di Tembok China, mengundang segenap bangsa untuk menikmati imaji itu sekaligus mematut diri.

Kecemerlangan pewarta foto Tiongkok tersebut tentu saja jauh lebih istimewa jika dibandingkan dengan prestasi wartawan foto Indonesia. Meski demikian, setidaknya nama anak bangsa ini; Piet Warbung (1968), Kartono Riyadi (1974 dan 1980), Zaenal Effendy (1978), Sholihuddin (1995), Tarmizi Harva (2003), Kemal Jufri (2011), dan Ali Lutfi (2013) tercatat dalam memorabilia World Press photo.

Di antara mereka hanya Sholihuddin yang mampu menggapai posisi puncak atas fakta visual detik-detik tergulingnya truk tentara yang sarat muatan suporter Persebaya.

Tahun ini untuk kesekian kali jurnalis foto Tanah Air tidak menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Seperti tahun-tahun sebelumnya, bangsa asing kembali menjadikan Bumi Pertiwi sebagai ladang liputan yang menggiurkan. Fotografer asal Italia, Fulvio Bugani, yang mengangkat kisah pesantren transgender di Yogyakarta, diganjar sebagai pemenang ketiga kategori contemporary issues.

Adapun cerita tentang orangutan yang menjalani perawatan di Sumatra Utara karya fotografer Jerman, Sandra Hoyn, menempati peringkat tiga kategori nature.

Bagi jurnalis foto Indonesia, menjadikan prestasi Tailiang dan pewarta foto Tiongkok lainnya sebagai kaca benggala memang bukanlah sebuah keharusan. Akan tetapi, memaknai dan menjadikannya acuan ialah sebuah keniscayaan jika para jurnalis foto negeri ini tidak ingin ketinggalan. Bila tidak, raihan kemenangan hanyalah angan. Terinspirasi atau sekadar mimpi....

Hariyanto
hari@mediaindonesia.com


Baca Juga

Dok. MI

Konvensi Sepenuh Hati

👤Ahmad Baedowi Direktur Eksekutif Yayasan Sukma, Jakarta 🕔Selasa 24 November 2020, 02:15 WIB
Dalam tradisi politik di Indonesia, konvensi memang bukan barang...
Dok pribadi

Mau Selamat Dari Covid-19?

👤Siswanto, Departemen Fisiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM/Rumah Sakit Akademik UGM   🕔Senin 23 November 2020, 07:00 WIB
Infeksi virus SARS CoV-2 ternyata tidak hanya merusak sel yang ia masuki (efek sitotoksik) namun mengacaukan homeostasis tubuh kita...
Dok.Pribadi

Guru dan Kerelawanan

👤Khairil Azhar Divisi Pelatihan Pendidikan Yayasan Sukma 🕔Senin 23 November 2020, 03:00 WIB
PADA Sabtu (21/11) malam, belasan alumnus relawan pendidikan Dompet Kemanusiaan Media Group (DKMG) dan Yayasan Sukma melakukan reuni di...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya