Minggu 27 Mei 2018, 16:04 WIB

Bersahabat dengan Musibah

Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta | Renungan Ramadan
Bersahabat dengan Musibah

PENDERITAAN merupakan salah satu ujian kenaikan kelas. Tanpa ujian, biasanya tidak ada kenaikan kelas. Hanya saja masih jarang orang menyadari bahwa musibah dan penderitaan ialah ujian kenaikan kelas.

Jika kita merenung dan berkontemplasi sejenak, memang benar bahwa di balik setiap musibah dan penderitaan selalu ada rahasia Tuhan yang sulit ditebak. Suatu saat Nabi Yusuf berdoa, "Rab al-sijn ahbbu ilaiyya" (Ya Allah penjara aku lebih sukai) (Q.S. Yusuf/12:33).

Doa itu Nabi Yusuf ungkapkan ketika ia dipaksa oleh raja melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya. Ia memilih hidup menderita di ruang gelap dan sempitnya penjara ketimbang gemerlapnya istana yang ditawarkan kepadanya.

Ternyata bukan hanya Nabi Yusuf, sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia memiliki daftar panjang nama yang rela menderita demi untuk meraih kemerdekaan untuk anak-cucunya. Mungkin kita pun pernah mengalami dalam kadar tertentu.

Ini membuktikan bahwa ternyata penderitaan tidak selamanya menyakitkan, tetapi kadang dirasa lebih asyik karena boleh jadi merasa sedang bersama dengan Tuhan. Banyak orang yang bukan nabi juga lebih memilih penderitaan secara fisik demi ketenangan batinnya ketimbang bahagia secara fisik, tetapi menderita secara batin.

Musibah, bala, kekecewaan, dan ketidaknyamanan bisa diubah menjadi sebuah kenyamanan jika suasana batin aktif di dalam hati seseorang. Musibah dan penderitaan yang seharusnya menjadi sesuatu yang merepotkan, mengecewakan, menyakitkan, dan memalukan, tetapi ada orang yang berhasil menjadikannya sebagai suatu kenikmatan.

Penyakit yang mendera Nabi Ayyub sekujur badannya dikerumuni belatung membuatnya dibuang di sebuah gua di pegunungan di luar perkampungan. Dia sendirian, terasing dari dunia luar.

Nabi Ayyub tiba-tiba mengatakan kepada para belatung di sekujur tubuhnya itu; kalian dulu makhluk yang paling aku benci, di mana-mana saya mencari tabib untuk memusnahkanmu, tetapi kalian tetap betah di tubuhku. Sekarang kalian bersenang-senanglah karena ternyata kalian ialah sahabat setiaku. Satu-satunya yang bisa menemaniku di kegelapan gua ini hanya kalian. Ayyub tidak lagi merasa sakit dari gigitan belatung-belatung itu.

Penderitaan, rasa sakit, kecewa, malu, menderita, dan tertekan hanyalah masalah psikologis. Musibah bisa diajak berkompromi. Musibah bisa dijadikan batu loncatan untuk naik lebih tinggi dari tempat semula.

Banyak contoh dalam kehidupan kita bahwa musibah dijadikan sebagai hikmah untuk memacu agar lebih maju, kreatif, dan berhasil. Jangan memusuhi musibah karena pasti terasa lebih sakit. Jangan memusuhi penyakit karena pasti penyakit itu akan lebih terasa mendera. Nikmati penderitaan itu, niscaya kadar rasa sakitnya akan berkurang secara signifikan. Demikian pendapat para ahli anestesi.

Penderitaan atau musibah sesungguhnya ialah 'surat cinta Tuhan'. Tuhan merindukan hamba-Nya, tetapi undangannya berupa kenikmatan dan kemewahan tidak digubris, maka Tuhan mengubah surat undangannya dalam bentuk musibah.

Musibah ialah ujian keburukan (balaun sayyiah), tetapi mengangkat martabat kemanusiaan. Sama juga ujian kebaikan (balaun hasanah), tetapi lebih sulit untuk dilulusi hamba-Nya sehingga lebih banyak orang gugur dari ujian kemewahan daripada ujian musibah.

Jika orang ditimpa musibah, yang paling pertama dipanggil biasanya Allah, Tuhan Yang Mahakuasa. Akan tetapi, jika orang diuji dengan kemewahan atau pangkat dan jabatan, yang paling sering dihubungi, di SMS, ialah makhluk Tuhan, berupa orang yang disayanginya. Tidak jarang di antara mereka ialah bukan muhrim dan sering terjadi dosa dan maksiat karenanya.

Dengan demikian, musibah dan penderitaan tidak selamanya negatif. Ingat pesan Nabi, "Jika Tuhan menyayangi hamba-Nya maka siksaannya didatangkan lebih awal di dunia supaya di akhirat nanti lunas. Jika Tuhan tidak menyukai hamba-Nya, Dia menunda siksaan-Nya di akhirat yang amat pedih."

Dalam hadis lain dikatakan, "Orang yang menjalani sakit demam sehari maka akan dihapuskan dosanya setahun." Subhanallah.

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Senin, 16 Sep 2019 / 11 Ramadan 1440 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : 04:25 WIB
Subuh : 04:35 WIB
Terbit : 05:51 WIB
Dhuha : 06:19 WIB
Dzuhur : 11:53 WIB
Ashar : 15:14 WIB
Maghrib : 17:47 WIB
Isya : 18:59 WIB

PERNIK

Read More