Macet Nikmat

Penulis: Ronal Surapradja Pada: Senin, 21 Mei 2018, 12:18 WIB celoteh
Macet Nikmat

MI/ROMMY PUJIANTO

SAYA menikmati waktu menyetir mobil sendiri sambil menikmati musik kesukaan dari tape mobil. Kalau pagi berangkat kerja, saya tidak akan mulai jalan jika belum membawa CD yang tepat untuk hari itu. Beberapa menit biasanya saya habiskan untuk memandangi rak CD guna memilih. Bagi saya, menyetir ialah salah satu me time. Tapi itu dulu. Jujur saya lupa kapan terakhir kali saya menyetir mobil sendiri di dalam Kota Jakarta. Macet yang sudah tidak masuk akal ialah alasannya. Transportasi online (motor atau mobil), taksi dan bus Trans-Jakarta ialah cara yang saya pilih. Stop complaining about traffic if you're still using your own vehicle, you are the traffic. Saya kira macet bukan hanya milik jakarta, melainkan juga kota lainnya, contohnya Bandung. Kampung halaman saya itu sekarang macetnya luar biasa. Tapi karena sudah terbiasa dengan macet Jakarta, macet Bandung terasa cetek, hehe.

Ketika kita tidak mampu mengubah situasi lingkungan di sekitar kita, yang bisa kita ubah (atau kendalikan) ialah diri kita sendiri. Kuncinya ada pada kata acceptance, atau sikap menerima. Frustrasi dan emosi tidak akan membuat jalan jadi lancar, kan? Selain penerimaan, cara lainnya ialah kemampuan tiap orang dalam menyugesti diri dengan menciptakan 'surganya' sendiri. Intinya, macet bisa kok dinikmati. Saya tidak berusaha menggurui, saya hanya berbagi pengalaman saja karena meskipun sudah jarang membawa mobil sendiri, naik angkutan umum pun tetap kena macet kan? Hehehe....

Yang paling sering saya lakukan saat 'menikmati' macet ialah mendengarkan musik. Itulah kenapa jam siaran radio pagi dan sore selalu menjadi prime time karena di situlah jam dengan jumlah pendengar radio tertinggi dalam setiap harinya. Sebagai penyiar radio saya ucapkan terima kasih untuk para pendengar radio, terutama radio saya, hehe. Kalaupun mendengarkan musik secara streaming yang merupakan kesukaan saya, saya membaginya menjadi dua. Yang pertama mendengarkan musik yang kita hapal sampai ke liriknya seperti U2 yang selalu membuat saya tenang, atau Bruce 'the Boss' Springsteen selalu membuat saya semangat. Tapi saya yakin yang paling banyak dilakukan untuk 'menikmati' macet ialah bermain gadget. Dari mulai update status, main gim, menonton Youtube, memantau timeline Twitter atau Instagram, atau update baca berita. Sekilas, bermain gadget memang tampak sebagai solusi yang menghibur. Tapi apabila penggunaannya tidak bijak, hal ini justru dapat merugikan Anda sendiri. Kemacetan lalu lintas bukanlah pilihan hidup, tetapi realitas yang harus dihadapi. Sikap dan emosi negatif di tengah jebakan macet hanya akan meningkatkan risiko efek negatif. Hal itu berpotensi menurunkan energi diri, meningkatkan stres dan depresi, menurunkan produktivitas, juga menjadikan kita rendah dalam kinerja. Teringat gaya tulisan guru di halaman rapor SD saat kenaikan kelas, 'Untuk kamu yang sudah bisa berdamai dan menikmati kemacetan, ayo tingkatkan prestasimu. Yang belum, lebih rajin lagi dalam belajar supaya kamu naik kelas!'. (H-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More