Rabu 18 Maret 2015, 00:00 WIB

Deteksi Dini Kanker Payudara

Dinny Mutiah | Humaniora
Deteksi Dini Kanker Payudara

THINKSTOCK

 
KANKER payudara menduduki peringkat pertama penyakit dengan keganasan tinggi di 140 negara. Pada 2008, WHO menyebutkan kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling sering ditemukan pada perempuan di dunia dengan estimasi jumlah kasus baru 1,67 juta orang.

Dokter spesialis bedah onkologi RS Kanker Dharmais, Jakarta, Walta Gautama, mengatakan salah satu faktor dominan pengendali angka kematian akibat kanker payudara ialah dengan melakukan deteksi dini. Sayangnya, mayoritas kanker payudara di Indonesia ditemukan pada stadium lanjut, ketika peluang mencapai kesembuhan kecil.

''Satu dari dua pasien kanker payudara meninggal karena telat ditangani, 63% dengan stadium III dan IV. Padahal, peluang bagi pasien kanker payudara stadium dini bisa mencapai kesembuhan 98%,'' jelasnya di Jakarta, Rabu (11/3).

Kemajuan teknologi alat penegak diagnosis disertai dengan kemajuan bidang pengobatan memberikan peningkatan peluang kesembuhan yang signifikan. Oleh karena itu, ia mengimbau para perempuan mulai mengenali payudara dan memeriksakannya secara rutin ke dokter.

Biasanya, dokter akan menentukan pengobatan yang terbaik untuk seorang pasien berdasarkan jenis kanker payudara, stadium, dan kondisi lainnya. Banyak pilihan untuk menangani kanker payudara yang memungkinkan pasien memiliki beberapa pertimbangan.

Ada beberapa tahapan atau pilihan deteksi yang bisa dilakukan, yaitu melakukan pemeriksaan payudara sendiri (Sadari) secara rutin, pemeriksaan klinik oleh tenaga medis terlatih (pemeriksaan klinik), pemeriksaan mammografi, dan pemeriksaan ultrasonografi (USG).

Meski begitu, menurutnya, pemeriksaan dini pada payudara bisa dilakukan sendiri oleh perempuan setiap sebulan sekali, karena pada dasarnya 80% benjolan di payudara dapat diketahui perempuan tersebut.

''Adanya benjolan atau keluhan pada payudara harus diwaspadai sebagai gejala kanker payudara, sehingga perlu diperiksa lebih lanjut untuk mengetahui apakah benjolan tersebut jinak atau ganas,'' katanya.

Meski demikian, ia mengakui hingga saat ini penyebab kanker payudara memang belum diketahui. Akan tetapi, kanker payudara memiliki faktor risiko dan tidak dapat dikendalikan.

Faktor risiko

Di antara faktor-faktor risiko tersebut, antara lain bertambahnya usia, perempuan semakin berisiko mengalami kanker payudara dengan median usia sekitar 47 tahun. Dokter mengestimasi 5% sampai 10% kasus kanker payudara berhubungan dengan mutasi gen yang diturunkan pada keluarga.

''Hati-hati juga kalau mulai mengalami menstruasi sebelum usia 12 tahun atau menopause setelah berusia 55 tahun. Dalam penelitian, yang juga berkaitan erat dengan kanker payudara ialah lemak dan alkohol,'' paparnya.

Wakil Ketua III Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) itu menerangkan pengobatan dilakukan antara lain melalui operasi dan pascaoperasi. Pascaoperasi, terapi dilanjutkan dengan kemoterapi atau radiasi.

''Sejak 2008 sudah mulai berkembang, sekitar 30% yang perlu dikemoterapi, sedangkan sisanya yang 70% tidak perlu dikemo. Hasilnya pun sama baiknya atau sama jeleknya kalau dengan dikemo ataupun tidak. Sekarang, angka kemo untuk kanker payudara berkurang,'' jelasnya.

Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia Linda Amalia Gumelar menilai perlu meningkatkan kesadaran akan bahaya kanker payudara.

Hal itu bisa dilakukan melalui edukasi di tingkat puskesmas dan seminar bagi masyarakat awam, serta dengan memberikan pelatihan kepada tenaga medis. Tujuannya, agar pengobatan terhadap penderita kanker dilakukan dalam tahapan sedini mungkin agar bisa diobati.(Mut/H-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More