Rabu 18 Maret 2015, 00:00 WIB

Lima Wilayah Indonesia Terindikasi Menjadi Kantong IS

Gol/Nur/Kim/P-4 | Politik dan Hukum
Lima Wilayah Indonesia Terindikasi Menjadi Kantong IS

ANTARA/DAVID MUHARMANSYAH

 
LIMA provinsi di Tanah Air diduga menjadi basis organisasi seperatis Islamic State (IS). Lima provinsi itu, yakni Sulawesi Tengah, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.

"Artinya, kantong IS tidak hanya di Poso (Sulawesi Tengah) , tapi ada daerah-daerah yang sebagian ada pengikut dan simpatisan ISIS," ujar Wakil Kapolri Komisaris Jenderal Badrodin Haiti di Jakarta, kemarin.

Badrodin membantah Polri kecolongan akan hadirnya IS di Indonesia.

Menurut dia, organisasi tersebut sudah lama berdiri dan pemerintah pun dengan tegas melarang perkembangannya.

Ultimatum larangan yang diberikan terkesan tidak serius karena IS tetap berkembang hingga saat ini.

Kondisi demikian, lanjut Badrodin, disebabkan ketiadaan instrumen untuk melakukan penegakan hukum terhadap pengikut IS yang belum melakukan pelanggaran.

Sejauh ini, Polri hanya mampu menerapkan UU Antiterorisme dan Pasal 139 KUHP tentang Permufakatan Jahat kepada anggota IS yang terindikasi hendak melakukan kegiatan bersenjata.

"Itu (UU) digunakan untuk yang sudah melanggar hukum," tegasnya.

Dalam kesempatan terpisah, Badrodin juga meminta Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk memblokir video anak-anak Indonesia yang dipelihara dan dilatih perang oleh IS.

Video tersebut diunggah di Youtube dengan judul Cahaya Tarbiyah di Bumi Khilafa.

"Nanti kita koordinasi untuk diblokir, dengan Kemenkominfo," kata Badrodin.

Sementara itu, anggota Komisi I dari Fraksi PPP Syaifullah Tamliha menyarankan agar pemerintah memperketat agen-agen perjalan di Indonesia yang menawarkan perjalanan ziarah dan umrah, untuk mencegah maraknya WNI yang bergabung dengan IS.

Menurutnya, ada dua modus yang digunakan untuk mengajak WNI bergabung dengan IS.

"Pertama, tawaran ziarah (dari agen perjalanan) dengan hanya menyediakan tiket satu kali perjalanan. Kedua, mereka dikirim sebagai tenaga kerja Indonesia di negara Arab, tapi hanya diiming-imingi saja, sampai sana dikirim ke markas Irak dan Suriah," paparnya.

Adapun sasaran yang direkrut IS ialah WNI yang memiliki perekonomian yang rendah.

"Mereka diajak ziarah, tapi tidak ada tiket pulang. Sampai disana, mereka tidak bisa pulang. Mereka merasa ditodong untuk gabung ke IS," jelasnya.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More